
Wushhh
Chici melompat dan berputar di udara. Hembusan angin yang begitu kencang menggoyahkan pijakan mereka semua.
Dalam satu lirikan Chici berhasil mengetahui geng itu. Lambang tiga ekor kuda di dada kiri mereka menunjukkan bahwa mereka berasal dari Mafia Three Horse.
Three Horse adalah sebuah geng mafia yang terkenal akan kelincahannya. Markas mereka terletak di pusat kota B.
**
"Terimakasih sudah membantu kami menyingkirkan mereka dan memberi waktu untuk istirahat." ucap Chici seraya berjalan mendekati mereka.
"Yozo tidak pernah menolong dan membiarkan musuh istirahat." ucap seorang pria bertubuh kekar.
"Ohh Jadi namamu Yozo? Senang bertemu denganmu Yozo Hahaha" ujar Wixi.
Leo memberi isyarat kepada Chici agar segera menyelesaikannya. Tanpa basa-basi lagi Chici langsung melemparkan serangan pada mereka diikuti seluruh anggotanya.
Dentingan pedang beradu kembali terdengar. Peluru kembali berterbangan mengincar sasaran.
Slashhh..
Sebuah sayatan mendarat tepat di lengan kanan Yozo. Ia tampak menahan perih yang begitu dahsyat di lengannya.
Karena luka itu, ia terpaksa terpojok dalam posisi bertahan. Lama kelamaan ia semakin tak mampu menahan serangan bertubi-tubi dari Chici. Hingga akhirnya...
Pranggg..
Pedang Yozo terlempar jauh dari tangannya. Chici berjalan mendekati Yozo yang tengah berusaha menghentikan pendarahannya. Namun langkah Chici terhenti kala seorang wanita menghalangi jalannya.
"Yozo, atasi dulu lukamu. Lukanya terlalu dalam, jika kau biarkan saja maka kau akan mati kehabisan darah. Dia biar aku yang atasi" ujarnya menatap Chici tajam-tajam.
Tanpa berkomentar, Chici langsung mengangkat pedang dan menyerang wanita itu.
__ADS_1
Chici melompat kesana kemari, terbang, berputar, melenggak-lenggok mengecoh lawan, sambil berusaha mendekati bunga yang ia cari.
Sadar ia terpancing untuk mendekati bunga itu, ia berniat menarik kembali Chici menjauh dari sana.
Bukannya mengejar wanita itu, Chici malah melompat ke punggung Leo dan berlari diatas lapisan es yang dingin. Alhasil, wanita tadi hanya bisa berdecak kesal saja. Karena mereka sadar tidak akan mudah berjalan diatas es yang licin.
Ntah bagaimana bisa seekor harimau bisa berlari begitu santainya di atas es. Peperangan berhenti sejenak kala mendengar langkah demi langkah kaki Leo.
Chici menyeringai, ia tahu Leo akan dengan mudah melewati rintangan apapun. Tapi ia kesal sekaligus lucu menyadari ekspresi semua orang yang keheranan akan kemampuan Leo yang bisa dibilang aneh. Ya memang aneh sih.
Srettttt..
Sebuah anak panah melesat dan melukai tangan Chici yang hampir menyentuh bunga itu.
"Jangan anggap remeh anak buahku,nona" suara yang cukup merdu terdengar tak jauh dari sana.
"Kau!" bentak Chici kaget saat melihat siapa yang datang.
"Ya..Ini aku Riza. Apa kabar Chiyo? Lama tak jumpa" sapanya menghampiri Chici.
"Maafkan aku.Anggap saja itu salam perkenalan kita,lagi, setelah tiga tahun berlalu."
Hati Chici bergemuruh teringat masa-masa bersamanya saat itu. Hari-hari yang keduanya lewati dengan penuh kebahagiaan berakhir karena suatu hal sepele.
Kini orang yang dulu pernah Chici kasihi, tengah berdiri didepannya sebagai lawan. Chici berusaha sekuat tenaga agar tidak menumpahkan air mata.
"Maaf,Riza.. Aku sangat membutuhkan bunga ini. Tolong jangan memaksaku melukaimu" ujar Chici pelan.
Chici kembali mendekati bunga teratai api itu. Namun lagi-lagi Riza menghalanginya.
"Aku tahu. Tapi aku juga memiliki tugas yang sama denganmu. Aku tidak keberatan untuk kau lukai, selama itu kau yang melakukannya."
"Haaaaaaa.. Kau sudah keterlaluan,Riza" teriak Chici berlari sambil mengayunkan kedua pedangnya ke arah Riza.
__ADS_1
'Aku tahu, Chiyo,. kau masih belum memaafkan ku. Tapi aku senang, aku masih bisa melihat cinta dalam air matamu. Aku senang, aku merindukan dirimu' batin Riza.
Riza tetap bertahan dalam posisi bertahan tanpa melawan, sambil terisak. Namun ia tetap memaksakan bibirnya tersenyum.
"Kenapa kau tidak melawanku? Kenapa tidak kau lakukan hal yang sama seperti tiga tahun lalu? Ayo! Serang aku Riza! Jangan hanya diam"
Chici menyerang semakin membabi-buta, berteriak-teriak dalam tangisnya. Hingga akhirnya ia terjatuh.
Riza menghampiri Chici yang tengah berlutut dan menangis. Ia berusaha meraih Chici, namun Chici menolaknya.
Akhirnya Riza hanya ikut bersimpuh di hadapannya dan mengusap air mata Chici.
"Maafkan aku.. Maafkan aku Chiyo" Isak Riza penuh sesal.
Riza bangkit dan memetik bunga teratai api itu dengan susah payah hingga tangannya mengalami luka bakar, dan menyimpannya di hadapan Chici.
Riza meminta semua anak buahnya yang tersisa untuk pergi dari sana. Meninggalkan Chici yang masih diliputi kesedihan.
"Kenapa beberapa hari ini semua masalah datang silih berganti. Bukan karena pertarungan yang penuh darah melainkan hal-hal yang menguras emosiku,Zhan? Kenapa bayang-bayang masalalu datang di waktu dan tempat yang salah?" tanya Chici pada Zhan.
"Sudahlah nona. Kesehatan nona sedang tidak baik. Sebaiknya kita segera kembali ke kota" saran Zhan.
***
Tiga hari kemudian Chici dan yang lainnya tiba di kota. Bukan kebahagiaan yang mereka bawa namun kegelisahan. Pasalnya, kondisi Chici semakin memburuk.
Bukan tanpa alasan, Chici ternyata menyembunyikan bahwa ada salah satu luka yang tergores akibat racun. Racun itu menyebar begitu cepat ke dalam tubuh Chici.
Farka dan Suzu yang tengah berdiskusi masalah pembangunan dibuat kalang kabut dengan kedatangan Chici yang tidak berakhir baik setelah perjalan panjang.
Mereka segera mengantar Chici ke rumah sakit agar segera ditangani.
---------------
__ADS_1
Chapter ini agak ngaco ya?! 😅 Yauda maafin lagi gabut bngt ni jadi males😅🤦