Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.54 Pulau Teratai Api [ Part 8 ]


__ADS_3

"Kau sudah mengambil jalan yang salah, Tom. Ini adalah akhir dari kesalahanmu. Kau akan segera bertemu dengan kakak mu" ucap Fino saat melihat formasi nya sudah siap.


"Aku minta kalian jangan membunuhnya, lumpuhkan saja. Aku ingin menghabisinya dengan nona." ujar Wixi.


Mereka bersiap melempar sayap sayap kecil itu. Sedangkan Tom dan yang lainnya hanya bisa bersiap menerima serangan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.


Clep..clep..clepp..


Sayap sayap kecil menembus pertahanan mereka. Mereka berteriak kesakitan dan terduduk tak bertenaga.


Wixi memerintahkan yang lainnya agar menepi. Ia menghampiri Chici yang tengah terbaring lemah.


"Nona, maafkan atas kelancangan ku. Aku pinjam dulu panah ini untuk menghabisinya." izin Wixi.


"Ampun..Ampuni aku tuan, kami khilaf, aku dibutakan oleh rasa kehilangan." ujar Tom memohon.


"Kau sudah terlambat untuk memohon" ketus Wixi.


Wixi menarik tali busurnya lalu melepaskan satu anak panah berwarna merah. Bak memiliki pemikiran sendiri, anak panah merah itu menjadi banyak sesuai jumlah nyawa didepannya dan berhenti tepat sasaran.


Wixi kembali kehilangan tenaganya, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Namun, belum sempat ia merenungi kesalahannya masalah lain pun menghampiri.


"Bos, lihat bunga itu. Tidak kah menurutmu bunga itu berbeda dari yang lainnya?" celetuk Fino pada Zhan.


Dengan malas Zhan menengok ke arah yang di tunjuk Fino. Tak jauh dari sana, tampak sebuah tanaman bunga yang merambat mengeluarkan lendir yang cukup banyak.


Bagai tersambar petir, Zhan langsung berdiri dan berteriak memberikan aba-aba untuk segera pergi dari sana.


"Gawat! Semuanya cepat pergi dari sini dan jangan sampai kalian menginjak lendir lendir itu." perintah Zhan dengan cemas.


Lendir yang keluar semakin banyak dan hampir menjebak mereka di area itu. Zhan semakin khawatir.


"Wixi, Fino bantu aku menggendong,nona."


"Biar aku yang menggendongnya." ucap Wixi


"Jangan membantah!" bentak Zhan.

__ADS_1


Melihat situasi yang darurat, mereka pun membantu Chici untuk digendong Zhan. Semua anggota Blood One sudah berada di area aman dari tanaman itu, kini tinggal Zhan,Wixi,Fino dan Chici yang tengah digendong Zhan.


"Kalian ambil kayu itu dan buatkan jalan untukku. Taburkan penawar yang kau pegang di jalan itu,Fino. Cepatlah! Waktu kita tidak banyak."


Wixi dan Fino segera melakukan apa yang diperintahkan Zhan. Dengan cepat mereka semua melakukan hal yang sama dari arah sana.


Sesaat setelah itu akhirnya mereka lolos dari racun itu. Dan untuk sesaat mereka bisa bernafas lega.


Zhan meminta anak buahnya membuat tandu untuk Chici, bagaimanapun juga mereka harus keluar dari wilayah itu.


Dengan susah payah mereka akhirnya bisa keluar dengan perasaan yang campur aduk, hingga rasa lapar dan haus pun tak mereka hiraukan.


Kini mereka sudah berada di wilayah timur. Masih ada waktu satu hari satu malam untuk memulihkan diri.


Wixi tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Chici. Ia amat khawatir akan terjadi hal buruk padanya.


"Sudahlah Wixi, sebaiknya kau makan dulu. Biar aku yang berjaga dulu disini selama kau makan" ujar Zhan menghampiri Wixi.


Akan tetapi Wixi tak sedikitpun merespon perkataan Zhan. Zhan pun mengerti akan sikapnya. Tak lama, Fino datang membawa makanan dan minuman untuk Wixi.


"Aku tidak akan makan sebelum nona membuka matanya." bantah Wixi.


"Aku mengerti kau sangat khawatir padanya. Kami juga merasakan hal yang sama sepertimu. Jangan membuat nona sedih lagi saat melihat rasa bersalah mu yang keterlaluan." Fino sedikit geram melihat Wixi yang keras kepala.


"Dia benar. Kau juga tahu, nona paling sedih jika melihat orang lain tersiksa hanya karena dirinya." ucap Zhan


Akhirnya Wixi mau makan,namun tetap berada di samping Chici. Zhan dan Fino hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Wixi. Meskipun kadang Wixi sangat konyol dan ceroboh, tapi jika menyangkut keselamatan Chici, dia yang paling terluka saat melihat Chici tak berdaya.


***


Cahaya bulan menerangi pulau terkutuk itu. Api unggun dimana-mana membuat cuaca dingin tak lagi terasa.


Suara riuh orang-orang dari berbagai penjuru terdengar seperti lebah yang tengah mencari madu.


Kondisi Chici yang seperti itu mencuri perhatian banyak orang dengan beragam tanggapan. Banyak yang mengira hal itu biasa saja, namun tak sedikit juga dari mereka yang peduli. Hingga beberapa dari mereka bahkan memberikan sebagian dari makanan mereka.


Simpati itu tak membuat Wixi luluh, namun membuatnya merasa terhina.

__ADS_1


"Mereka pikir kita kenapa sampai memberi kita makanan? mereka pikir kita kekurangan makanan?!" bentak Wixi emosi.


"Tenanglah, mereka hanya peduli pada Chici saja. Jangan mengganggu istirahat nona, biarkan saja orang akan berbuat apa selama tidak berbahaya bagi nona." Zhan menepuk pundak Wixi dan memintanya kembali duduk.


Malam semakin larut, rasa kantuk mulai menghinggapi mata mereka semua. Hanya Zhan dan Fino yang tampak kehilangan nafsu untuk tidur. Keduanya tengah menghangatkan diri di dekat api unggun disamping Chici. Sedangkan Wixi, dia hampir terlelap disamping Chici.


Tak lama kemudian Chici tampak membuka matanya perlahan-lahan. Tak ada yang menyadari jika Chici sudah mulai sadar.


"Wixi.." ucap Chici lirih.


Mendengar ada yang memanggilnya, Wixi kembali terjaga dan melihat Chici tengah menatapnya.


"Nona, nona, kau sudah sadar? bagaimana keadaan mu? Apa luka di perutmu masih sakit? Atau ada luka lain lagi di tubuhmu? Katakan, katakan padaku yang mana yang sakit,nona? Sebentar, sebentar aku ambilkan air hangat untukmu. Tunggu ya, tunggu disini, jangan..." kalimat Wixi terhenti kala Chici memegang tangannya mencegah ia pergi.


Mendengar ocehan Wixi, Zhan dan Fino segera menghampiri mereka. Bahkan semua anggota Blood One terbangun dari tidurnya dan segera bergabung dengan mereka.


"Kenapa kau menghujani nona dengan ocehan mu,bodoh!" bentak Zhan memukul kepala Wixi.


Chici memberi kode agar mereka diam.


"Maafkan aku, nona.. Aku..."


"Tidak apa.. Aku yang harusnya minta maaf sudah merepotkan kalian." ucap chici lemah.


"Tidak tidak tidak.. Kami yang sudah membuat nona seperti ini, tolong maafkan kami nona" ujar Wixi terisak-isak.


"Sudahlah Wixi nanti kita bicarakan lagi hal ini. Sekarang pergi dan ambilkan makanan dan air hangat untuk Chici. Beberapa dari kalian cari ranting-ranting lagi untuk memperbesar api unggun, kondisi nona akan semakin buruk jika kedinginan" Zhan membagi tugas.


Mereka segera melakukan berbagai kegiatan untuk membantu memulihkan kondisi bosnya.


"Ayo nona, kami bantu nona untuk duduk" ujar Zhan.


"Aduhhh" desah Chici saat perutnya tersentuh.


"Pelan pelan,nona" ucap Fino.


Wixi datang membawa beberapa makanan. Ia segera menyuapi Chici perlahan-lahan.

__ADS_1


__ADS_2