Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.15 Bukti dan Saksi


__ADS_3

Pukul 14:45 Fazriel tiba di rumah sakit dengan alasan mau menjenguk Chici. Setelah tiba di depan pintu kamar Chici, ia membuka pintu pelan-pelan memastikan benar-benar tidak ada orang di dalam sana.


Setelah yakin tidak ada siapa-siapa di dalam,ia masuk dengan hati-hati. Dia menghampiri Chici yang pura-pura belum sadarkan diri. Dia menatap tajam-tajam wajah Chici yang tampak masih pucat.


"Chi,asal kau tau, aku melakukan semua ini demi hidupku. Aku juga tak mengerti maksud dari permintaannya. Dia memintaku membunuhmu. Aku tidak peduli apapun alasannya. Kamu memang tidak terlalu berharga. Tapi hartamu itu yang seluas laut setinggi gunung,itu sangat berharga. Sangat-sangat berharga." Kata Fazriel sambil terus mondar mandir di samping Chici.


Ntah kenapa dada Fazriel terasa sesak. Tanpa ia sadari air matanya tampak mengintip di sudut matanya.


Dengan cepat ia mengedip-ngedipkan matanya berusaha menarik kembali air mata yang hendak menetes.


Dia menarik nafas dalam-dalam berusaha menstabilkan emosinya.


"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan semua itu. Setelah itu aku baru bisa menukarnya dengan sesuatu yang lebih berharga lagi. Sesuatu yang lebih penting dari pada harta benda. Menyerahlah sekarang,nona kecil. Nyawamu sudah di ujung lidah. Kau tidak akan pernah bisa melawan ku lagi. Kau mau minta bantuan siapa lagi sekarang hah? Hendra? ck ck ck. Dia sudah ada dalam genggamanku. Oh ya aku lupa memberitahu mu. Mulai besok Hendra akan bekerja untuk ku. Aku mohon izin darimu, nona Presdir. Uhh.. Hah hah lucu. lucu sekali. Bagaimana bisa nona sekecil ini mampu merebut segalanya dari ku hmm??"


Fazriel berjalan ke samping kanan Chici dimana tangan Chici di infus. Ia meraih sesuatu di balik jas nya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah berisi cairan.


"Nona Presdir,ajalmu sudah berjalan kemari. Aku akan membantu mu menjemputnya lebih cepat. Emm tapi sebaiknya tidak. Aku ingin melihatmu bermain dulu sebentar. Bolehkan nona manis?"


Fazriel menyeringai. Ia menyuntikkan cairan itu pada infusan Chici.


"Setelah semua cairan ini masuk ke dalam tubuhmu, kau hanya punya waktu 3 jam untuk menghirup udara di bumi ini. Setelah itu kau akan tidur dengan nyenyak, sangat nyenyak. Hah hah saya mohon undur diri nona Presdir. Selamat sore dan selamat beristirahat. Hhehe."


Fazriel keluar dengan senyum percaya diri nya. Setelah terdengar suara pintu tertutup,Chici mengintip dari sudut matanya.


Setelah yakin Fazriel sudah cukup jauh dari kamar Chici, Suzu dan yang lainnya keluar dari kamar mandi.


Suzu melihat Chici yang tampak kesulitan untuk duduk. Ia segera menghampiri dan membantunya bersandar.


"Bagaimana ini? dia memasukkan cairan itu ke dalam infusan Chici. Apa kita harus panggil dokter?"

__ADS_1


Suzu bertanya dengan suara yang bergetar hebat. Ia sangat takut kalau-kalau Fazriel benar-benar memasukkan racun ke dalam infusan Chici.


Sedangkan Farka tersenyum penuh arti melihat kecemasan di wajah Suzu. Chici yang sudah pasti mengerti kekhawatiran Suzu, paman dan bibinya segera menengok ke arah kakaknya.


Farka yang mengerti maksud Chici menatapnya segera manganggukkan kepala. Setelah mendapat anggukan dari Farka,Chici menatap Suzu dan yang lainnya sesaat. Setelah itu ia membuka hansaplast yang merapatkan jarum infus ke tangannya.


Suzu sangat terkejut sekaligus lega. Ternyata harumnya hanya menempel dan tidak masuk ke pembuluh darah nya.


Farka memang meminta Chici mencabut jarum infusnya, lalu menyumbat nya dan hanya menempelkannya untuk mengelabui Fazriel.


Ternyata firasat Farka benar. Fazriel menyuntikkan sebuah cairan untuk mencelakai Chici.


Paman Dani dan Bi Meta hanya memperhatikan ketiganya. Banyak hal yang ingin mereka tanyakan. Namun tenggorokan nya seperti tersumbat sesuatu hingga sulit untuk mengeluarkan suara.


Keduanya sangat bingung dengan apa yang mereka lihat barusan.


'Ada apa sebenarnya ini?' batin keduanya.


"Kita sudah cukup bukti dan saksi untuk penganiayaan mu. Tapi untuk penggelapan dana di perusahaan, kita tinggal menunggu kabar dari Hendra. " Ucap Farka sambil menyodorkan sebuah kamera kecil.


"Ya. Kau benar kak. Sebaiknya kakak saja yang menyimpan bukti itu. Jika aku yang menyimpan ini, akan mudah ditebak oleh lawan. Dan aku yakin besok sore Hendra akan membawa kabar baik untuk kita semua"


Paman Dani dan Bi Meta hanya bengong menyaksikan itu. Mereka benar-benar tak mengerti apa yang terjadi.


Chici membaringkan tubuhnya kembali. Mereka semua mengerti Chici hendak istirahat.


"Rinrin, emm.. Aku harus pulang dulu. Mommy pasti khawatir. Bagaimanapun juga aku sudah tidak pulang selama dua hari. Nanti malam aku akan kembali lagi ke sini." Kata Suzu seraya mengusap kepala Chici.


"Kau pulang dengan siapa? Apa kau bawa mobil?"

__ADS_1


"Tidak. Tapi supir sudah menjemput. Oh ya, paman dan bibi tolong tungguin Chici dulu di sini. Aku dan kak Farka akan pulang dulu untuk membersihkan diri biar nanti malam paman dan bibi istirahat lagi di rumah" Pinta Suzu.


Paman Dani dan Bi Meta yang masih terheran-heran dengan kejadian barusan hanya mengangguk menjawab permintaan Suzu.


Suzu dan Farka akhirnya pulang duluan. Suzu khawatir bundanya akan sangat cemas. Bagaimanapun juga Suzu adalah anak semata wayangnya.


Sesampainya di rumah,Suzu sudah ditunggu sang bunda di depan pintu.


"Ohhh manisnya putraku. Apa kau sudah puas bermain sayang?" Tanya sang bunda menghampiri Suzu yang baru saja keluar dari mobil.


"Hhehe..Bunda,jangan begitu. Aku kan sudah bilang sama bunda,kalau aku nemenin adiknya kak Farka. Ayo masuk bunda sayang,di luar sangat dingin. Hhihi"


Suzu merangkul dan mengecup kening sang bunda. Ia mengerti maksud kalimatnya,ia sangat khawatir akan keselamatan putranya.


Bunda dari Chieko Suzume bernama Shina Su.


"Suzu,Apa bunda akan segera punya mantu?"


Bunda Shina bertanya dengan senyum yang lebar. Tapi Suzu malah merespon dengan mengerutkan keningnya.


"Bunda,apa maksud bunda? Bunda kan sudah punya calon mantu. kok nanya nya gitu sih,Bun?"


"Ck.. Suzu, kamu tahu sendiri bunda nggak suka wanita itu. Kamu juga tau sendiri sayang, dia itu jahat,matre, boros ,pemalas pula. Belum lagi dia itu jal*ng! menjijikkan. Bunda nggak mau punya mantu seperti itu." rengek bunda Shina.


"Iya,bunda. Tapi ini sudah disepakati. Kita akan menikah karena bisnis. Lagipula bunda kan belum pernah bertemu Rin'er sekalipun. Bagaimana bunda bisa me.."


"Tunggu! Rin'er ?!! Hmmm..!?"


Bunda Shina menyipitkan matanya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Suzu seakan menyelidik sesuatu.

__ADS_1


"Ehh..Emm..Itu anu Bunda.. "


---------------------#🕊️TBC...


__ADS_2