
DUKKK
Chici menendang perut perampok itu dengan kuat. Akibat tendangan itu, perampok tersebut ambruk ke tanah seketika.
"Aaakkhhhh sialan kau." bentaknya sambil terbatuk-batuk.
'Bagaimana bisa tendangannya sekuat ini? Shhhh lambungku hancur rasanya.' batinnya merintih menahan sakit yang begitu kuat di perutnya.
"Ha ha ha. Oouuu kasihan sekali. Maafkan aku paman, aku tak bisa mengontrol kekuatan ku" ucap Chici mendramatisir.
"Diam kau" bentaknya sambil berusaha untuk bangkit.
"Cup cup cup. Mari sini paman aku bantu. Pegang lah." ujarnya menyodorkan ujung pedangnya.
Perampok itu semakin kesal saja melihat kelakuan Chici. Beberapa perampok lain yang sejak tadi diam menyaksikan pertarungan antara Chici dan rekannya menelan ludah dengan susah payah. Kerongkongan nya seakan tercekik melihatnya.
Pada awalnya mereka datang untuk membantu, tapi mereka cukup tahu diri kalau ia bukanlah tandingannya. Walaupun mereka bekerja sama mengeroyok Chici belum tentu bisa menumbangkannya.
Melihat reaksi perampok di hadapannya, Chici berniat langsung menghabisinya. Akan tetapi Jakibara menghentikan gerakan Chici yang tinggal beberapa centimeter dari lehernya.
"Dia punya informasi yang bisa kita dapatkan, kita harus tahu kenapa mereka menyerang desa kecil yang baru seperti ini." ujar Jakibara menjelaskan.
Mendengar pernyataan Jakibara, Chici tak banyak bicara lagi, ia langsung menatap tajam pada orang didepannya meminta jawaban segera.
"Aku adalah Soni, teman kecilmu, Jakibara." katanya dengan lemas.
Jakibara kembali terduduk lemas mendengar jawaban darinya.
"Ka-kau?! So-Soni? Teman ke-kecilku?" tanya nya terbata-bata.
"Kenapa kau lakukan ini jika kau benar-benar Soni teman baikku sejak kecil hah?! Tega-teganya kau menghancurkan kedamaian desa ku! Apa yang kau inginkan?" ucapnya menggebu-gebu.
Soni terdiam, rasa benci, sedih, dan bahagia kembali bertemu dengan teman kecilnya bergelut di dalam hati dan fikirannya.
__ADS_1
Hal yang sama tak jauh berbeda dari yang Soni rasakan, Jakibara kini menangis tersedu-sedu merasakan tekanan yang begitu kuat dalam hatinya.
Terbersit rasa ingin saling memeluk satu sama lain.Namun sayangnya rasa benci akan masalalu menyelimuti hati Soni.
"Aku melakukannya karena kau! Sejak kecil kita selalu bersama, tapi beberapa tahun kemudian kau pergi ntah kemana tanpa memberitahu aku! Aku mencarimu selama bertahun-tahun. Aku merindukan dirimu setiap malam.
Saat usiaku 15 tahun, aku berhasil menemukanmu. Tapi kau sama sekali tak mengenaliku, kau berlalu dihadapanku dengan santainya seolah tak melihat siapapun.
Hatiku hancur, kau yang sudah ku anggap sebagai saudara ku berlalu dengan anggun melewati sapaanku. Kau malah asik tertawa terbahak-bahak dengan wanita.
Aku mencari alamat mu, ternyata keluargamu sama gilanya, bukannya mempersilahkan aku masuk, malah mengusir ku dengan kasar.
Siapa aku? Mana saudara kecilku? sejak saat itu aku selalu berusaha kembali bertemu dan berbincang-bincang seperti dulu, tapi sejak saat itu pula kau tak pernah menengokku.
Apalagi saat kau mendapatkan harta yang melimpah. Kau semakin gila dan buta sampai lupa pada saudara kecilmu ini" ujar Soni melemah di akhir kalimat nya.
"Soni.." lirih Jakibara.
Jakibara bangun perlahan-lahan dan menghampiri Soni. Chici melepaskan todongannya, ia membiarkan keduanya melepas rindu, menghapus dendam karena perpisahan yang pahit.
Selama beberapa saat keduanya saling mencurahkan isi hati yang selama bertahun-tahun mereka pendam. Setelah keduanya merasa lega, akhirnya mereka berpelukan.
Tak bisa dipungkiri jika kasih sayang antar sesama memang kuat, dendam seperti itu bisa hilang setelah pertemuan kembali.
***
Pagi hari terasa begitu segar, penampilan sunrise yang sejuk memadamkan api amarah. Dendam akan kalah dengan rasa saling memiliki satu sama lain, rasa persaudaraan yang kuat takan bisa diputuskan oleh apapun.
Di tengah-tengah desa, semua warga tampak berkerumun mengelilingi Chici dan rombongan. Mereka bergantian mengucap terimakasih atas bantuan semalam. Tak hanya itu, mereka memberikan beberapa makanan dan aksesoris khas kerajinan tangan warga desa untuk bekal perjalanan Chici sebagai tanda terimakasih.
Chici dan rombongan awalnya menolak karena mereka menolong dengan ikhlas, akan tetapi warga desa memaksa.
"Kalau begitu terimalah ini sebagai tanda permintaan maaf kami. Karena kalau bukan karena kami meminta pertolongan, kalian pasti istirahat dengan nyaman semalam bukan malah repot-repot membantu kami." ujar Jakibara selaku kepala desa.
__ADS_1
"Ya, dan terimakasih sudah mempersatukan kami kembali sebagai saudara. Tolong terimalah. Kami juga minta maaf karena sudah meresahkan warga desa dan mengganggu istirahat mu non" timpal Soni.
Akhirnya Chici mau menerimanya, bukan sebagai tanda terimakasih tapi sebagai tanda maaf saja. Setelah itu mereka pun segera pamit untuk melanjutkan perjalanan karena hari semakin terik.
Perjalanan hari ke dua pun dimulai dengan rasa lega namun disertai lelah fisik karena kejadian semalam. Chici meminta maaf kepada anak buahnya karena sudah membuat mereka lelah dan menunda perjalanan.
"Tidak apa-apa,bos. Meskipun melelahkan, berkat kejadian semalam lah kami bisa menghilangkan ketegangan untuk menghadapi situasi sulit berikutnya. Kami melampiaskan ketakutan dan ketegangan kami semalam.Hhehe" ucap Wixi mewakili isi hati yang lainnya.
Chici tak bisa menutupi rasa bahagianya. Akhirnya ia bisa membuat anak buahnya tidak tegang lagi. Ntah kenapa ia sangat bahagia belakangan ini ketika sedang bersama-sama dengan anak buahnya.
Tak bisa dipungkiri hati Chici sedikit menyesal atas sikapnya yang dingin pada mereka dulu. Kini Chici benar-benar mengerti artinya keluarga semenjak ia pulang dari vila di pinggir pantai.
"Hahhh.." helaan nafas Chici terdengar begitu jelas oleh Zhan yang tengah menyetir.
"Ada apa,Nona?" tanyanya.
"Hmm, aku senang,Zhan." jawab Chici sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.
Zhan tidak menjawab, ia hanya tersenyum lebar kala mendengar jawaban Chici.
"Nona, sepertinya kita harus melewati hutan nanti malam. Apa kita akan berhenti di sana untuk beristirahat atau memaksakan untuk dilanjutkan saja?" tanya Zhan setelah melihat peta.
"Bagus. Kita istirahat disana. Pulau Teratai Api banyak hutannya, kita bisa berlatih dulu disana sambil beristirahat."
"Baiklah,Nona. Lagipula jiwa Blood One sudah menyatu dengan alam liar." ujar Zhan penuh semangat.
Sejak dulu, anggota Blood One selalu dilatih di tengah hutan olehnya. Awalnya semua anggotanya tidak nyaman dan susah berkonsentrasi.
Lama kelamaan mereka mengerti kenapa Chici melatihnya di tengah hutan. Sepoi-sepoi angin begitu menyejukkan pikiran, tidak ada gangguan yang berarti sebetulnya.
Semakin lama mereka semakin terbiasa dengan alam liar, bahkan mereka mendapatkan kemampuan baru yaitu memanjat pohon dengan cepat.Hhihi.
-------------------------#🕊️TBC...
__ADS_1