Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.55 Pulau Teratai Api [ Part 9 ]


__ADS_3

Matahari tampak mengintip dari balik pohon-pohon di pulau itu. Orang-orang sudah bersiap untuk bertarung memperebutkan Bunga Teratai Api itu.


Berbeda dengan yang lainnya, kelompok Chici malah belum satupun yang membuka matanya. Bahkan hanya sekedar menggeliat pun tidak. Sebenarnya mereka tak sepenuhnya tidur, mereka masih bisa mendengar ocehan orang-orang tentangnya. Tapi, ya begitulah rasa malas bisa mengalahkan segalanya.


"Lihat orang-orang itu, untuk apa mereka datang kemari kalau masih saja bersantai?" celetuk seseorang.


"Benar. Apa mereka tak takut ada yang membunuh jika terlalu santai seperti itu?"


"Ya ya, kalian benar sekali. Pertempuran akan segera terjadi tapi tak satupun dari mereka yang bangun"


Kira-kira begitulah celoteh orang-orang tentang Chici dan anak buahnya. Namun sayangnya, Chici hanya tersenyum dalam tidurnya mendengar celotehan unfaedah itu.


"Hey, apa kau memikirkan hal yang sama dengan ku?" bisik seseorang tak jauh dari tempat Chici terlelap.


"Mungkin. Lebih baik kita menyingkirkan lawan kita satu persatu bukan?" timpal rekannya.


"Ya. Ini waktu yang tepat untuk memulainya. Ayo kita coba dekati mereka." ajaknya.


Teman disampingnya hanya mengangguk dan mulai mendekati Chici.


Krekkkk..


Salah satu dari mereka menginjak sebuah ranting. Tapi mereka tak menghiraukan ranting itu, karena mereka kira itu hanya ranting biasa.


Sayangnya, ranting yang ia injak justru membuat Peperangan Pulau Teratai Api dimulai.


Jleb..Jleb..Jleb..


Puluhan anak panah terlontar kesana kemari tak beraturan. Kejadian itu tak hanya membuat dua orang tadi terkejut, tetapi semua orang disana amat terkejut dengan 'tombol peperangan' itu.


"Hey! Apa yang kalian lakukan?" bentak seorang pria tua.


"Ka..kami tidak melakukan apapun" jawab keduanya bingung.


"Jangan mengelak! Kalian yang melontarkan anak-anak panah itu kan?" bentaknya lagi.


"Tidak tuan! Apa kau lihat kami membawa busur dan anak panah sebanyak itu?"


"Tunggu..Lihat" ujar seorang wanita menunjuk Chici.


Semua orang mengikuti arah telunjuk wanita itu, dan menemukan Chici tengah tertawa kecil.

__ADS_1


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Peperangan sudah resmi dimulai. Lalu apa lagi yang kalian tunggu?" tanya Chici santai.


"Tidak tidak! Jangan mendekat. Jangan ada yang melangkah lagi mendekatiku" teriak Chici mendramatisir.


"Kau mau mempermainkan kami?" tanya wanita yang tadi menunjuk Chici.


"Oowhh,, nona manis siapa namamu?" celetuk Zhan menyeringai.


"Aku? Kau punya hak apa bertanya seperti itu padaku?"


"Haihhh...Tidak seru.. Silahkan lanjutkan,nona. Aku masih mengantuk..hoaammmm.." ucap Zhan sambil menguap dan berbalik badan.


"Hhehe..Maaf maaf kami masih lelah.. Lihai itu.. Bunga Teratai Api sudah mulai berevolusi dan menmpakkan wujud aslinya. Ayo kalian mulai saja bertarung dan perebutkan bunga itu. Kami harus istirahat, sebaiknya kalian jangan mengganggu istirahat kami." ucap Chici dingin di akhir kalimat.


"Hey! Sombong sekali kau!" teriak seseorang dan hendak berlari mendekati Chici.


Lagi, lagi dan lagi... Setiap ia melangkahkan kakinya puluhan anak panah dan pisau-pisau kecil berterbangan kesana kemari mencabut nyawa puluhan orang.


"Pria tua! Jangan melangkah lagi atau kau akan tiada!" bentak seorang pemuda sambil menarik pedangnya.


Pria tua itu berhenti melangkah, bukan karena ancaman pemuda tadi tapi karena ia sudah kehabisan nafas.


"Ck ck ck.. Apa kalian semua tak mendengarkan aku? Pergi dan mulai saja saling bertarung! Jangan mengganggu istirahat kami jika tidak ingin berakhir seperti pria tua itu!" ucap Chici teriak-teriak.


"Semuanya, dengarkan aku. Kita memang harus melakukan apa yang gadis itu katakan. Setiap langkah kalian mendekati mereka semua, maka puluhan nyawa akan tiada sia-sia" teriak wanita tadi memperingatkan.


"Cihhh kau bijak juga ternyata." ejek Wixi yang terbangun karena teriakannya.


Mereka akhirnya mulai bertarung satu sama lain dan berusaha secepat mungkin mendapatkan bunga itu. Mereka bukan takut akan mati, mereka juga tau kalau tak berhasil mendapatkan bunga itu, maka nyawa sebagai gantinya. Hanya saja mereka tak ingin mati sia-sia, tanpa perlawanan, dan tanpa tujuan.


'Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi dimana? Akhh sudahlah,, setelah semalaman mengatur strategi, mataku benar-benar butuh istirahat' batin Chici.


"Zhan..Zhan.." panggil Chici perlahan-lahan.


"Hmm? Ya? Ada apa nona?" tanya Zhan dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ahh..Tidak apa,Zhan. Kau lanjutkan saja tidurmu" ujar Chici tak tega.


"Katakan saja,nona. Aku tau kau butuh sesuatu." jawab Zhan bangun dan duduk.


"Emm. Sebenarnya mataku sangat perih, aku ingin tidur dulu. Tadinya aku ingin meminta beberapa orang untuk menjagaku selama tidur." katanya ragu-ragu.

__ADS_1


"Ohh. Tidak apa,nona tidurlah. Biar aku,Wixi, Hendra dan Fino yang menjaga nona." jawab Zhan tersenyum.


"Baiklah, terimakasih,Zhan. Maaf merepotkan mu"


"Iya, tidak apa,nona" jawab Zhan tulus.


Setelah Chici kembali membaringkan tubuhnya, Zhan menghampiri ketiga anak buahnya untuk minta mereka menjaga Chici.


"Tolong kalian jaga nona ya, aku sangat mengantuk" ujar Zhan malas.


"Hey..Kau juga harus ikut menjaga..Kami juga mengantuk" jawab Wixi sama-sama malas.


"Kalian tidak boleh malas, nona muda adalah bos kalian juga kan? Ayo bekerja" kata Zhan tetap malas.


Fino dan Hendra saling berpandangan, mereka berjalan menghampiri tas mereka dan mengambil botol minum.


Byurrr..


Fino dan Hendra menyiram Zhan dan Wixi hingga mereka terjaga 100%.


"Otak kalian perlu mandi" celetuk Fino dan Hendra.


***


'Gadis itu..Bukan gadis biasa, aku harus hati-hati' batin wanita tadi.


Tranggg.. Tranggg.. Tranggg..


Senjata tajam berbenturan dimana-mana, Senjata api saling menodong satu sama lain, melenyapkan lawan didepannya untuk mendapatkan bunga itu.


Hari berjalan begitu cepat, diiringi dentingan pedang dan peluru yang berhamburan, sungai darah mengalir dimana-mana menghiasi hutan yang indah itu.


Chici dan anak buahnya mulai terlihat bangun. Mereka saling menggeliat dan menguap. Bukannya langsung ikut bertarung, mereka malah duduk bersila dan makan bersama sambil menonton 'pertunjukan' yang mengerikan.


Banyak orang yang geram akan aksi yang dilakukan Chici dan teman-temannya, tapi mereka tak bisa melewati puluhan jebakan yang siap melahap nyawa mereka.


Setelah cukup lama merek menonton, Chici dan yang lainnya berdiri dan melepaskan semua jebakan.


Hujan anak panah dan belati kecil menumbangkan sebagian orang yang tersisa. Chici berjalan sambil menyeret pedangnya membelah tanah yang sudah ia lewati.


Tak banyak yang geram akan aksinya, tetapi juga tak sedikit dari mereka yang menjadi takut hingga seluruh badannya gemetar. Bahkan, beberapa orang dari mereka melarikan diri dari sana. Meninggalkan ketegangan diantara dua geng yang tersisa.

__ADS_1


__ADS_2