
"Pergi!" ucap Chihi mengulang kata-kata nya tadi.
"Tapi pon..."
"Tidak apa-apa. Aku bisa beli sendiri" Kata Chici cepat
"Tidak! Ayo ikut. Akan kuganti ponselmu.Meskipun kau yang menabrakku,jangan bertindak seolah aku tidak mampu membeli sebuah ponsel. Kau merendahkanku. Enak saja kau berbuat sesukamu!" protes pemuda itu sambil menarik tangan Chici hingga ke depan deretan ponsel.
"Cepat pilih ponselnya,aku sedang ada urusan." Lanjutnya.
"Yasudah pergi saja. Tadi aku suruh pergi malah marah-marah dan menyeretku. Sekarang kau menyuruhku memilih dengan cepat?" bentak Chici kesal.
"Aku begitu karena kau meremehkan ku." jawabnya ketus.
"Ckk siapa yang meremehkan mu. Aduhh dasar kau ini. Aku hanya tidak mau merepotkanmu." bentak Chici lagi.
"Aku tidak mau tau.. Cepat pilih atau aku akan mengirimkan semua ponsel ini ke rumahmu." ancam pemuda tersebut.
"Kauu..."
"Satu.."
"Ck sudah ku bilang.."
"Dua.."
"Baiklah baiklah, berhenti berhitung. Beli saja yang sama dengan ponsel ini" kata Chici malas berdebat lagi.
"Bagus!" kata pemuda itu sambil bergegas membeli ponsel yang dimaksud Chici.
"Ini ambillah." pemuda itu menyodorkan ponsel yang dipilih tadi.
"Terimakasih. Aku pergi duluan." Chici pergi begitu saja.
"He..Hei.. Tunggu dulu." teriak pemuda itu,tapi Chici tetap berjalan meninggalkan pemuda tersebut.
"Ck.. Dasar wanita ini. Aku bahkan belum tau siapa namanya. Dia berbuat sesukanya saja." Gerutu nya.
Setelah cukup jauh dari pemuda yang tadi,Chihi menggerutu sepanjang jalan hendak keluar dari mall.
"Ck siapa dia? Berani-beraninya dia begitu padaku! Apa tadi dia bilang? Bukan dia yang menabrakku? Maksudnya aku yang menabrak dia,begitu? Enak saja! Jelas-jelas dia yang menabrakku!" gerutu nya sambil terus menghentakkan kakinya karena kesal.
Saat hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba salah satu pengawal memanggilnya.
"Emm.. Maaf Bos. Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa?" bentak Chici masih kesal.
"I..ituu.. Emm jam tangan tuan muda be.."
"Ahh iya jam tangan kakak. Aduhh gara-gara pria sial*n itu aku jadi lupa jam tangan kakakku"
Chici bergegas kembali ke mall untuk membeli jam tangan untuk kakaknya.
***
Disisi lain,Hendra baru saja keluar dari rumah sakit. Dia bingung mau mulai dari mana untuk menjebak Fazriel.
"Ahh! Aku punya ide.. Aku akan meminta bekerja di perusahaan nya. Aku harus menghubungi nona dulu."
Hendra buru-buru meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Chici.
•*WhatsApp On...
📤: Maaf mengganggu waktu nona. Ada yang harus aku diskusikan denganmu. Apa bisa bertemu sekarang?
📥: Satu jam lagi di cafe VV!
📤: Baik. Terimakasih nona. Maaf merepotkanmu.
📥: 👍
Setelah mendapat persetujuan dari Chici, Hendra segera bersiap karena jarak dari apartemennya menuju cafe VV cukup jauh.
Hendra memakai kacamata dan topi hitam untuk menutupi identitasnya. Dia memang sengaja memakainya, takut jika rencananya akan terendus oleh orang-orangnya Fazriel.
Satu jam kemudian Hendra tiba di cafe VV. Baru saja Hendra turun dan hendak menutup pintu mobilnya, dia terpukau melihat gadis cantik berbaju biru langit di depan cafe. Gadis itu tampak sedang memberikan perintah pada beberapa orang pria.
'Aku benar-benar bodoh. Bagaimana bisa aku tergoda oleh secuil harta demi menghabisi gadis sepolos dan secantik dia. Ohh tuhan, buanglah sifat gila harta ku ini agar tidak bertindak bodoh lagi. Fazriel,kau tunggu saja' batin Hendra memaki kebodohannya sendiri.
Hendra berjalan cepat menyusul Chici yang hendak masuk ke dalam cafe.
"Selamat sore,Nona" sapa Hendra dari belakang Chici.
Mendengar ada yang menyapanya,Chici menoleh dan melihat Hendra sedang berdiri dibelakangnya.
"Ohh kau! Sore juga. Ayo masuk."
Hendra mengangguk dan membukakan pintu untuk Chici.
Chici memanggil salah satu pelayan cafe untuk mengantar mereka ke tempat VIP.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang terus memperhatikan keduanya.
Setelah tiba disana dan menghabiskan makanannya,Hendra mulai menjelaskan maksud dirinya mengajak Chici bertemu.
"Jelaskan!" kata Chici mendahului Hendra yang baru membuka mulut.
"Nona,tentang syarat darimu waktu itu. Aku..."
"Kau tidak sanggup?" tanya Chici memotong kalimat Hendra.
"Bukan begitu,nona. Aku tidak bisa dengan mudah mendapatkan semuanya dalam waktu yang singkat. Aku memerlukan sebuah siasat untuk itu." Kata Hendra berbasa-basi.
"Apa rencanamu?" tanya Chici mengerti maksud Hendra.
"Begini, nona. Fazriel tahu aku berada di rumah sakit kemarin. Aku akan bilang padanya bahwa aku berhasil membunuh hewan peliharaan kesayangan nona dan memporak-porandakan markas nona lalu membuatmu depresi atas kejadian itu. Aku akan bilang kalau nona berjanji tidak akan melakukan apapun lagi pada kami, memberikan hak sepenuhnya anak perusahaan CRX Group pada Fazriel dan membebaskan Mafia Utara dari aliansi dan meminta bekerja disana" Hendra menjelaskan siasatnya.
"Hmm.. Siasat yang cukup bagus. Baiklah aku akan kalian dalam waktu lima hari. Waktumu tidak banyak paman, lakukan dengan baik atau kau akan menghilang dari bumi ini."
Hendra mengangguk mengerti maksud Chici. Chici pamit pulang duluan karena sudah pukul 18:30.
Di luar ruangan, pemuda yang dari tadi memperhatikan Chici masih duduk disana.
'Tak kuduga! Ternyata gadis lugu yang kutemui adalah orang besar. Pantas saja sejak pertama kali bertemu dengannya aku merasakan kharisma yang begitu kuat. Huftt ntah ini keberuntungan atau justru kutukan dalam hidupku bertemu dengannya.' batinnya tersenyum penuh arti.
***
Hari sudah gelap sekali bahkan hampir larut malam tapi Chici belum pulang juga. Farka yang menunggunya dari tadi sudah sangat gelisah. Ponsel Chici juga tidak dapat dihubungi.
"Kemana bocah ini? Hanya belanja saja menghabiskan waktu selama ini? Pengawalnya sudah pulang dari sore tadi kenapa di belum juga pulang? Ini sudah larut. Apa terjadi sesuatu? Akhhhhhh dasar bocah ini! Membuatku cemas saja" gerutu Farka kesal sekaligus cemas pada adik semata wayangnya itu.
Farka terus mondar mandir didepan televisi dan sesekali mengecek ponselnya berharap ada pesan dari Chici.
"Hei! Berhenti bertanya pada dirimu sendiri dan berhenti mondar mandir disana! Apa kau tidak lelah terus mondar mandir begitu? Kau menghalangi tontonan ku!" celetuk paman Dani.
Mendengar kata-kata pamannya, Farka berdecak kesal lalu duduk dengan terpaksa disamping Paman Dani.
"Mungkin ada yang harus dia urus. Kau tidak perlu khawatir berlebihan. Lagi pula Chici tidak pernah sekalipun pergi tanpa membawa samurainya" kata paman Dani santai.
Tak bisa dipungkiri, sebenarnya dia juga cemas. Tapi mau bagaimana lagi, mau mencari pun tidak akan mudah melacak keberadaan Chici di kota sebesar ini,pikir pak Dani.
"Itu yang membuatku cemas,paman. Penampilan Chici sangat mencolok.Apalagi Chici membawa samurai. Itu pasti akan menarik perhatian orang-orang" Jawab Farka.
Pak Dani mengangguk membenarkan kata-kata Farka.
Tiba-tiba Pak Dani mengingat satu hal yang bisa membantu mencari Chici.
__ADS_1
--------------------#🕊️TBC...