Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.14 Menjalankan Rencana I


__ADS_3

"Tapi hanya ada satu bidang yang kekurangan karyawan.Apa kau mampu mengurus keuangan perusahaan?"


Fazriel tampak ragu-ragu. Tapi memang di bidang itu yang kekurangan karyawan.


Semua usahanya untuk menjatuhkan Chici dimulai dari sana. Hal itu lah yang membuatnya ragu-ragu. Semua rahasianya tersembunyi disana.


Ada dua pertimbangan yang membuatnya semakin ragu-ragu.


Pertama,jika Hendra berniat mengkhianatinya maka ia tidak akan bisa lari ataupun mengelak karena semua bukti-bukti penggelapan dana tersimpan rapi disana.


Kedua,jika Hendra benar-benar bekerja untuk uang tanpa niat berkhianat maka itu adalah sebuah kesempatan emas bagi Fazriel. Ia bisa memperalat Hendra yang mata duitan untuk penggelapan-penggelapan dana perusahaan untuk proyek berikutnya.


"It's Oke. Kau bisa mengandalkan ku. Aku akan memulainya dari bawah"


"Baiklah. Besok kau bisa mulai bekerja. Veli akan membantu mengurus segala yang kau butuhkan. Dia juga akan membimbingmu di perusahaan."


Meskipun risiko dan keuntungannya sama besar, Fazriel akan mengubah risiko itu menjadi keuntungan.


Ia mendapat ide untuk menaklukkan Hendra agar tidak mengkhianatinya.Lagi.


'Bagus. Kau memang bod*h, Fazriel! Hanya demi wanita ******, kau mempertaruhkan hidupmu, mencelakai orang yang sudah menyelamatkan nyawamu dulu. Bersiaplah untuk menerima karmamu. Kali ini aku tidak akan tertipu dengan tipu muslihatmu' Batin Hendra.


Dia tahu kalau Fazriel tidak akan melepaskan dirinya semudah itu. Dibalik semua ini, dia juga pasti sudah menyiapkan rencana untuk menjebaknya.


Tapi itu tidak ada apa-apanya bagi Hendra. Bahkan itu lebih baik dari pada harus melawan kekuasaan Chici.


Bagi Hendra, melawan Chici bagaikan mengantarkan nyawa ke mulut harimau.


Setelah keduanya membuat sebuah kesepakatan, Fazriel segera pamit. Ia hendak kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Chici.


Setelah mobil Fazriel hilang dari pandangan Hendra, dia cepat-cepat menelpon Zhan dan Farka, memberitahu kedatangan Fazriel ke rumah sakit mengunjungi Chici.


***


Setibanya di rumah sakit, Paman Dani dan Bi Meta sempat melihat Fazriel yang sedang berjalan cepat menuju ke toilet. Mereka heran melihat Fazriel berjalan dengan cepat seperti sengaja menghindari keduanya.


Baik Paman Dani maupun Bi Meta memang tidak tahu apa yang sudah diperbuat Fazriel terhadap Chici. Mereka tidak tahu kalau kondisi Chici sekarang ada hubungannya dengan Fazriel.


Baik Chici maupun Fafka memang sengaja tidak memberitahu kejadiannya. Itupun atas permintaan Chici agar tidak membuat keduanya cemas.


Mereka berdua tidak menghiraukan keberadaan Fazriel. Mungkin dia sedang buru-buru,pikir keduanya.


Disisi lain, Suzu yang masih terlelap memeluk tangan Chici. Farka juga tak kalah pulasnya. Mungkin ia lelah karena sudah semalaman berjaga.


Chici sebenarnya sudah sadar dari tadi,tapi ia tidak tega untuk membangunkan Suzu maupun kakaknya. Akhirnya Chici memutuskan untuk menunggu salah satunya bangun.

__ADS_1


Lama-kelamaan tangan Chici terasa semakin pegal. Namun, salah satunya dari mereka belum bangun juga.


Chici berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Suzu. Tapi bukannya terlepas, Suzu malah semakin erat memeluk tangannya.


Chici berdecak kesal. Ia menarik kasar tangannya hingga terlepas dari pelukan Suzu.


"Waaaaa.. Apa? Ada apa ini?"


Suzu terperanjat dari tidurnya karena gerakan kasar yang tiba-tiba, sampai-sampai berdiri tegak celingukan saking terkejutnya.


"Sssttttt!!! Jangan berisik! Kakakku masih tidur!" Kata Chici berbisik.


"Kau sudah ba..."


"Sstttt!! Astaga! Pelankan suaramu bod*h! Kau tidak dengar ya?" Bentak Chici sedikit berbisik dan menutup mulut Suzu.


"Aduhh.. Sshhh.. Kepalaku sakit." Erang Chici memegang kepalanya.


"Kamu kenapa? Ayo berbaring lagi"


Suzu panik seketika. Ia membantu Chici kembali berbaring.


"Pelan-pelan. Akan ku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu."


Suzu hendak pergi memanggil dokter tapi langkahnya terhenti saat Chici meraih tangannya.


Chici berusaha untuk duduk bersandar. Namun ia kesulitan untuk duduk karena kepastiannya terasa sakit dan badannya masih lemas.


Suzu segera membantu Chici bersandar.


"Apa kamu yakin tidak mau ku panggilkan dokter? kondisimu masih lemah."


Suzu tampak khawatir karena Chici meringis menahan sakit di bagian kepalanya lagi pula tubuh Chici masih sangat lemah.


"Sudah ku bilang tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat saja. Itu sudah cukup, setelah itu kondisiku pasti membaik"


"Baiklah kalau begitu. Tapi tidak boleh menolak untuk di periksa kalau dokter Ilham sudah disini. Dia teman baikku. Tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan darinya. "


"Hmm.. Oke thank you. Kamu sudah memberiku kekuatan."


"Tidak masalah. aku akan selalu ada di sampingmu. Sekarang katakan apa kamu mau minum atau makan?"


"Air hangat saja"


Suzu segera mengambilnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak panggil aku sebagai Dewi mu lagi seperti tadi malam, Zume?"


"Ehh..Itu.. Emm ini minumlah dulu."


Suzu menyerahkan air hangatnya. Wajahnya memerah karena malu.


"Apa sudah mendingan?" Tanya Suzu mengalihkan topik pembicaraan.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Jangan coba-coba mengelabui ku."


"Huhhh.. Kau ingin tahu? Baiklah. Apa menurutmu aku pantas untuk memanggil mu sebagai Dewi ku di saat kamu masih terikat dengan pria lain?"


Chici tersenyum tipis. Ia tak menyangka jika laki-laki yang ia marahi di mall ternyata dia adalah laki-laki yang baik. Dan kini ada dihadapannya.


"Apa benar begitu? Lalu bagaimana dengan kejadian tadi malam?Kamu memanggil ku Dewi mu, memelukku, mencium keningku, bahkan kamu tidur sambil memeluk tanganku. Sampai tanganku terasa pegal sekali."


Chici mulai mengomeli laki-laki di depannya itu.


"Ishh kau ini! tidak usah di sebutkan sedetail itu. Aku melakukannya hanya untuk memberimu semangat agar tetap hidup. Kau juga menangis setelah aku menceritakan itu semua. Aku tak tega melihatnya. Makannya aku berusaha agar bisa membuat mu lebih tenang."


Mendengar alasan Suzu, Chici tersenyum bahagia. Ia sungguh-sungguh tak menyangka akan alasan yang diberikan Suzu.


"Terima kasih"


"Tidak perlu sungkan. Aku dan kakakmu adalah teman."


Ditengah perbincangan hangat mereka ternyata Farka, Paman Dani dan Bi Meta mendengar semuanya.


"Wah wah wah jangan-jangan sudah ada benih-benih cinta ya di antara kalian berdua." Ucap Farka usil.


"Kakak! jangan begitu. Aku masih punya Nugi." Kata Chici mengembungkan pipinya.


"Huhhh memangnya apa bagusnya Nugi untukmu? hahaha"


"Kak Farka! " Bentak Suzu pelan karena malu.


"Lihat wajahmu itu nak Suzu. merah sekali seperti tomat yang sudah masak" kata paman Dani ikut menimpali.


"Paman kau juga?! aihh kalian ini usil sekali."


Saat mereka sedang asik berbincang tiba-tiba Farka mendapat telepon. Farka pamit angkat telepon dulu. Tak lama kemudian ia masuk lagi.


"Ada apa kak?"


"Akan ada sebuah pertunjukan. Kita harus bersiap sekarang." ucap Farka serius.

__ADS_1


--------------------#🕊️TBC...


__ADS_2