Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.49 Pulau Teratai Api [ Part 3 ]


__ADS_3

"Nona, lihat! Ini bunga duri lima yang sangat langka." teriak Wixi yang tak sengaja melihat bunga berduri lima.


"Jangan menyentuhnya, bunga itu salah satu dari lima tanaman beracun di wilayah Selatan." ucap Chici memperingatkan.


"Yah aku tahu, warna merah kehitaman sudah menjelaskan semuanya" jawab Wixi berbangga diri.


"Jangan so tau! Tidak semua warna merah kehitaman itu mengandung racun" ucap Chici terkekeh sambil terus berjalan.


"Hei, tunggu. Bagaimana mungkin? Itu sudah pasti, warna itu adalah ciri khas tanaman beracun" elak Wixi tetap angkuh.


"Ckk! Kau memang bodoh,Wixi! Tidak semua tanaman beracun memiliki duri! Kau lihat saja nanti!" ujar Zhan geram sambil memukul kepala Wixi.


"Aduhh kau ini pemarah sekali. Aku akan memberimu seratus ribu kalau kau menemukan tanaman beracun yang tak berduri." celetuk Wixi menantang.


"Aku pegang omonganmu,bocah hhahaha"


"Kau memang bodoh,Wixi." celetuk Chici terkekeh akan taruhannya.


Tak lama kemudian Zhan berhenti di sebuah pohon yang berbuah seperti apel.


"Wixi, apa kau lapar? Lihat ada apel."


"Wahhh kebetulan sekali, akan aku ambilkan untuk kalian juga." ujar Wixi semangat


"Kau mau mati ya?" bentak Chici kesal.


"Kenapa kau marah nona? Akan aku ambilkan untukmu juga tenang saja"


"Aku marah karena kau terlalu bodoh! Itu pir beracun! Apa matamu jadi rabun sejak memasuki pulau ini? Kau mau aku pukuli lagi?! Ayo ambil kembali tas mu dan lanjutkan perjalanan!" teriak Chici memukul-mukul pantat Wixi.


"Aduhh aduhh tapi nona...itu.." ucapnya meringis.


"Itu apa?! Kau mau aku dimarahi nenekmu karena kau mati disini saat misi?! Gila! Kau gila! Ayo cepat jalan!" bentak Chici menjewer telinga Wixi dan menyeretnya.


Semua orang melongo melihat perdebatan kecil antara Wixi dan Chici.


"Hahhh??? Pfftttt...Jhhahahaha.." tawa yang begitu keras menggema disana, membuat burung-burung yang tengah bertengger di dahan pohon terbang menjauh.


"Kenapa kalian tertawa" bentak Chici menengok dengan tajam.


Suara tawa mendadak hilang bersamaan dengan tatapan membunuh Chici tertuju pada mereka. Sedangkan Wixi malah menjulurkan lidahnya mengejek mereka.

__ADS_1


"Tak kusangka. Aku kira geng mafia adalah geng yang kejam dan dingin seperti rumor yang beredar. Tapi yang kusaksikan sekarang sungguh berbeda jauh" celetuk Dani.


"Kau hanya tahu satu sisinya saja" celetuk Fino ketus.


Hari semakin terik dan tubuh mereka mulai berteriak lelah dan kehausan. Mereka akhirnya berhenti untuk beristirahat terlebih dahulu.


Belum lama mereka duduk, tiba-tiba Wixi berteriak-teriak.


"Aduhhhh!!! Bau apa ini? Busuk sekali..." teriak Wixi mengibaskan tangannya didepan hidung.


Selang beberapa detik kemudian aroma busuk yang dimaksud Wixi menyebar dengan cepat dan sangat pekat.


"Hmm?! Hahhh.. Bau busuk apanya? Ini sangat harum" celetuk Dani yang mendapat anggukan kedua temannya.


Suasana hening seketika, Chici melirik Zhan dan yang lainnya memberi kode. Dengan cepat mereka mengambil kain dan menutupi mulut serta hidungnya.


"Sudah kuduga! Kalian punya niat jahat bergabung dengan kami. Untung saja rute yang ku ambil melewati area bunga kejujuran" ujar Chici mendekati mereka bertiga.


"A..apa maksudmu nona?" tanya Dani was-was.


"Jangan berbohong lagi. Kau juga tahu sendiri maksud dari aroma yang dicium setiap orang." Zhan menarik pedangnya.


"Cihh.. Sepertinya kita sudah tidak perlu berpura-pura lagi. Ayo serang mereka!" teriaknya di akhir kalimat.


Beberapakali orang muncul dari balik pohon dan semak-semaknya. Dengan cepat mereka mengepung Chici dan yang lainnya.


"Zhan, berikan panah ku."


Zhan menyerahkan panah itu pada Chici.


"Wah wah wah lihat itu. Panah yang bagus nona, apa boleh aku pinta?" tanya seorang pria mendekati Chici.


Slashhh..


Darah mengucur dari bahu kirinya. Ia tak menyadari gerakan Chici yang secepat kilat menebas tangannya.


Suasana semakin hening bersamaan dengan menetesnya darah demi darah dari tangan pria itu.


"Eh?! Bukankah itu Tim? Orang yang tadi menghalangi jalan kita,nona?" tanya Fino menyadari sesuatu.


"Hahaha kau salah anak muda. Aku adalah kembarannya,Tom. Kau harus membayar luka yang sudah kau goreskan pada tubuh kakak ku" ucapnya dengan suara yang berat.

__ADS_1


"Oohhh ternyata kau kembar ya?! Apa otakmu sudah rusak? Kenapa kau menyerahkan nyawamu pada kami?" tanya Wixi mengejek.


"Apa maksudmu bocah?"


"Ck. Selain tua, Kau juga bodoh ternyata. Maksudnya, jika kakak mu saja kalah, apalagi kau adik kecilnya? Jangan bergurau denganku, aku sedang buru-buru dan tidak punya banyak waktu untuk meladeni kalian." ujar Chici dingin.


"Apa kau takut anak kecil? Kita akan tahu hasilnya setelah pertaruangan ini berakhir kan?" katanya dengan sombong.


"Baiklah, sesuai keinginanmu"


Chici menarik tiga buah anak panah bersamaan dalam satu busur dan diarahkan ke langit. Mereka tertawa lepas melihat tindakan Chici yang menurut mereka sebuah lelucon .


Tawa mereka berhenti, berganti teriakan yang saling bersahutan. Puluhan anak panah turun dan menghujani mereka.


"Selain cantik, panahmu juga sakti ternyata. Aku semakin menginginkannya."


"Ambillah jika kau mau. Aku tak masalah jika kau menginginkannya." ujar Chici meletakkan busurnya di tanah dan mulai bertarung dengan yang lain.


Tom segera berlari menghampiri busur milik Chici. Namun sayangnya busur itu tidak bisa ia angkat dari atas tanah. Setelah bersusah payah berhasil mengangkatnya, tangannya tiba-tiba terasa panas seakan terbakar.


Dengan cepat Tom melemparkan busur itu tepat kehadapan Chici. Ia mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa amat panas.


"Hahhh hahh huuuhhhh huhhhhh kenapa panas sekali? Hei bocah sialan! Sihir apa yang kau gunakan pada busur itu hah?" bentak Tom sambil meniup-niup tangannya.


"Tidak ada mantra khusus yang kugunakan. Hanya saja, Semua senjataku hanya dapat dipegang oleh orang yang berhati bersih, semua senjataku juga dapat mengenali tuannya" celetuk Chici kembali mengambil busur itu dari tanah.


"Dari mana asalmu? Aku yakin kau bukan orang asli disini"


"Aku lupa tempat asalku, tapi aku ingat pernah tumbuh di China dan Jepang lalu meneruskan hidupku disini." jawab Chici santai.


"Pantas saja" gerutunya.


Tom berdiri dan hendak menyerang Chici, namu. langkahnya terhenti kala ada sebuah auman dari belakangnya.


"Ha..ha..harimauuuuuu" Teriaknya sambil berlari tunggang langgang menjauhi seekor harimau.


Leo mengejarnya hingga beberapa meter, lalu tak berapa lama kemudian ia kembali. Suasana hening masih membeku disana, namun tak bertahan lama.


"Pfftttt... Hahahahaha" tawa menggema lagi disekitar sana.


"Hhohoho lihatlah dia takut sekali melihatmu, Leo. Kau, dasar kucing nakal" kata Chici terkekeh mengingat bagaimana caranya Tom dan teman-temannya lari ketakutan.

__ADS_1


Dian dan yang lainnya masih berada disana, mereka hanya diam mematung menyaksikan semuanya. Kesadaran mereka Kembali sepenuhnya, dan merekapun akhirnya menyerah, langsung pergi meninggalkan tempat itu.


---------------------#🕊️TBC...


__ADS_2