Mafiaku Yang Cantik

Mafiaku Yang Cantik
Ch.41 Perjalanan III [Sebuah Kekacauan]


__ADS_3

Suasana malam yang gelap terasa semakin mencekam. Warga desa sudah sangat gelisah menanti tamu tak diinginkan akan yang akan segera tiba di desanya.


Meski semua perangkap sudah dipasang dengan susunan permainan yang sempurna, tetap ada kegelisahan mengintip di dalam relung hati mereka.


Mempercayai orang baru bagi mereka amat tidak mudah, bagaimanapun juga sudah banyak orang asing yang masuk ke desa dan menghancurkan ekonomi mereka, mencuri setiap kesempatan yang ada bagi warga untuk mengembangkan potensi besar dibalik desa kecilnya.


Sumber daya yang melimpah tidak selalu memberikan dampak positif, akan tetapi tidak pernah luput dari dampak negatifnya, hal itulah yang membuatnya cemas.


Malam yang dimulai dengan sambutan dari hewan-hewan yang turun gunung sudah berakhir tanpa pertumpahan darah.


Leo mengatakan kalau mereka turun gunung dengan alasan kuat, yaitu ada salah satu warga desa yang sudah membabat habis keturunan keturunan mereka dengan cara yang sadis, sehingga populasi mereka terancam punah.


Sebelum pelakunya di tangkap maka warga harus memberi mereka makanan setiap malam ke hutan. Begitulah kata Leo yang berkomunikasi dengan bangsanya.


Warga semakin gaduh atas apa yang di sampaikan Chici dari Leo. Mereka jadi saling menyalahkan dan memarahi orang-orang disekitarnya. Untungnya Chici dapat menenangkan mereka dan kembali fokus pada rencana keduanya yaitu menangkap para perampok.


Anjing bersembunyi dari terkaman harimau. Sudah pukul dua belas malam tapi tidak ada sedikitpun tanda-tanda kalau akan ada yang datang.


Warga tersulut emosi, mereka kesal dan marah karena merasa dipermainkan. Chici membentak mereka saat semua orang bicara seolah-olah menyalahkan dirinya adalah sekutu dari perampok dan mencoba menipu mereka. Warga desa diam serentak mendengar teriakan Chici yang begitu lantang.


"Jika kalian tidak percaya pada kami maka terserah kalian mau berbuat apa. Sudah bagus kami kebetulan lewat sini dan mau membantu kalian. Kalian pikir kalian siapa? Kami menolong kalian sepenuh hati tapi kalian malah menyulut api ditumpukan jerami." ucap Chici dingin.

__ADS_1


Merasakan adanya kemarahan dalam setiap kata yang Chici ucapkan, anak buahnya terdiam membisu, tubuhnya mulai terlihat gemetar. Akan tetapi situasi tersebut segera hilang saat salah satu warga kembali menghina dan memfitnah Chici, hingga membuat amarah muncul dalam diri mereka. Mereka tahu benar apa yang akan terjadi jika warga berhasil membuat Chici murka, baik disengaja maupun tidak disengaja.


"Kami tidak mudah percaya pada orang asing. Dari tadi kita hanya diam dan duduk saja, menahan kantuk dan menonton nyamuk-nyamuk berterbangan." teriak seorang pria dari kerumunan warga.


"Hei! Jaga bicaramu. Memangnya apa untungnya bagi kita menolong kalian? Kalian pikir kami tidak mengorbankan waktu istirahat kami? Asal kalian tahu, kami singgah di sini juga untuk istirahat dari perjalanan panjang kami. Harusnya kalian berterimakasih karena nona mau mengorbankan waktu istirahat untuk kembali bekerja keras membantu kalian! Desa boleh baru tapi otak kalian jangan sampai ketinggalan zaman." Zhan teriak-teriak memaki warga desa yang tidak tahu terimakasih.


"Sudahlah,Zhan. Mereka mungkin tidak mau kita bantu. Jika kalian tidak percaya pada kami, maka terimakasih sudah mengizinkan kami singgah sebentar di desa ini. Kami akan pergi. Semoga kalian bisa menghadapi para perampok yang akan datang sepuluh menit lagi." ucap Chici dengan tenang.


"Kalian lihat?! Dia masih sempat berterimakasih dan berdoa yang terbaik untuk kalian!" bentak Wixi yang sedari tadi menahan nafas karena kesal.


"Sudah Wixi, hentikan. Ayo semuanya kita pergi dari sini" Chici melangkah meninggalkan kerumunan orang.


Chici dan anak buahnya harus berjalan terlebih dahulu, karena mereka menyimpan mobil-mobil di pinggir desa tidak jauh dari kerumunan warga.


Warga yang merasa tertipu tak hentinya mencela Chici. Akan tetapi beberapa menit kemudian semuanya berhenti bicara bersamaan saat mendengar suara langkah kaki yang berlari ke arah mereka. Mereka jadi kalang kabut, bahkan tak sedikit dari mereka yang sudah terduduk lemas akibat lutut mereka yang bergetar hebat.


Tak sedikit dari mereka yang menyesali perbuatannya pada Chici beberapa saat yang lalu, namun ada juga yang berusaha menghibur dirinya dengan mengatakan kalau itu bukan suara langkah kaki perampok. Namun nihil, karena sudah sering mendengar kedatangan mereka, jadi sulit baginya untuk membohongi diri sendiri.


"Bagaimana ini? Seharusnya kita percaya pada mereka saja tadi." celetuk salah seorang dari mereka.


"Sudah ku bilang jangan sembarangan bicara pada nona Chiyo dan yang lainnya. Kalian tidak mendengarkan aku dan malah mengutamakan ego sendiri. Kalian dengar sendiri mereka datang untuk istirahat tapi malah kita repotkan dengan malash pribadi desa kita." Pak Toto marah-marah pada warganya.

__ADS_1


Jelas saja ia saja ia sangat kesal, bagaimanapun ia sudah berusaha mengingatkan mereka agar berhati-hati, namun usahanya kalah dengan ego mereka sehingga membawanya pada situasi seperti ini.


"Sudah. Jangan panik. Lakukan sesuai rencana dari nona Chiyo dulu, cobalah untuk menahan mereka. Aku akan mengejar nona dan anak buahnya agar kembali bersedia membantu kita. Ingat jangan membuat kekacauann lagi"


Pak Toto berlari sekuat tenaga mengejar Chici yang sudah dekat dengan mobilnya. Sedangkan para warga mencoba menenangkan diri agar rencananya berhasil. Mereka mengutuki kebodohannya sendiri, jika di hitung maka sepuluh menit yang di ucapkan Chici benar adanya. Mereka segera berpencar untuk melakukan tugas masing-masing yang sudah disepakati.


"TARIIIKKK" teriak seseorang memberikan komando saat target sudah dekat.


Mendengar komando tersebut, dua orang yang memegang tali saling berhadapan saling menarik tali tersebut sekuat tenaga hingga mengencang dan menjatuhkan langkah kaki para perampok. Tidak sedikit dari mereka yang terkena jebakan namun banyak juga perampok di belakangnya yang berhasil mengendalikan langkahnya.


Para perampok yang berhasil lolos dari jebakan terus berlari melangkahi rekan-rekannya yang terbaring. Bahkan mereka sempat terinjak-injak hingga tulangnya ada yang patah.


Lima orang warga berlari memancing perampok ke sebelah Utara, lima lainnya ke sebelah selatan memecah gerombolan.


Lima warga yang berhasil memancing perampok ke sebelah Utara mulai menjalankan aksinya. Mereka melompat sangat tinggi satu meter dari pohon yang tampak lebih besar. Alhasil para perampok yang tak menyadari ada lubang besar dedepannya terjatuh kedalamnya.


Disisi lain, bagian selatan desa tengah sepi. Lima orang warga yang memancing perampok tidak terlihat batang hidungnya juga. Para perampok yang kebingungan mencari mencari mereka di balik pohon dan semak-semak disekitarnya,namun tidak menemukan siapapun.


Disaat mereka tengah berkumpul memberitahu hasil pencariannya, tiba-tiba ada jeratan yang membuat mereka bak terperangkap jaring laba-laba dan menggantung di pohon.


----------------------------#🕊️TBC...

__ADS_1


__ADS_2