
Hari telah berganti menjadi minggu, tidak terasa bulan madu Adelia dan Raka di sana sudah satu minggu tepat, namun reaksi pelet dalam diri mereka masing-masing sepertinya sudah pudar.
Di pagi hari Adelia sudah meledak marah-marah tak jelas pada suaminya, namun berbeda dengan Raka, Raka walaupun merasakan berbeda pada tubuhnya, tetapi masih bisa mengendalikan emosinya.
"Tenanglah, nanti sehabis ini kita jalan-jalan."
"Aku tak mau, aku ingin jalan-jalannya berkeliling menaiki helikopter." Ucap Adelia random dan berapi-api. Niatnya hanya satu, yaitu membuat kesal suaminya.
Tetapi siapa sangka keinginannya ini malah di kabulkan oleh suaminya.
"Baiklah, aku akan menghubungi seseorang dulu."
"Sekarang kamu mandilah dan bersihkan dirimu,"
"Tak mau." Adelia benar-benar menguji kesabaran Raka.
Tetapi Raka memilih diam lagi dan tak bersuara, lalu terlihat sedang menghubungi seseorang di sana. Entah apa yang mereka bicarakan.
Beberapa menit kemudian setelah percakapannya selesai, menutup sambungan telepon dan kembali membujuk istrinya ini, dengan kesabaran penuh akhirnya Adelia mau mandi, tentu saja banyak drama.
Setelah mandi, jika suami istri pada umumnya, maka yang menyiapkan peralatan baju dan segala macam adalah istri menyiapkan untuk suaminya, tetapi berbeda dengan pasangan yang satu ini.
Raka menyiapkan keperluan istrinya, mulai dari baju, dan pakaian dalam yang akan di kenakannya hari ini, hingga kebutuhan make up.
Adelia yang keluar dari kamar mandi sudah melihat ada baju yang di siapkan untuk dirinya langsung saja menyambar dan memakainya tanpa bilang terimakasih pada suaminya.
Tetapi tak ma salah bagi Raka, Raka mengira jika istrinya akan mengalami datang bulan, hingga emosinya tak stabil seperti ini.
Kemudian dirinya yang bergantian memasuki kamar mandi dan membersihkan diri di sana, dirinya butuh mendinginkan pikiran dan juga hatinya, sekuat tenaga dirinya menekan egonya.
Walaupun ada reaksi pelet dalam dirinya yang tak di ketahui olehnya, tetapi Raka berpikir realistis saja, dan sekuat tenaga menerima kenyataan jika istrinya sekarang Adelia Alison, perempuan cantik itu sudah sah menjadi istrinya, entah bagaimana proses mereka bersatu, tetapi Adelia kini adalah tanggung jawabnya.
Raka mengisi bathub dengan air hangat dan memberinya tetesan aromatherapy, lalu berendam di sana, dan memejamkan matanya sejenak. Karena nanti jika dirinya keluar dari sana, sudah dapat di pastikan jika Adelia pasti akan memancing emosinya.
Raka berendam hanya lima belasan menit saja lalu keluar dari sana membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower.
Adelia menunggu sambil duduk di teras balkon, dan menscroll layar ponselnya.
"Adelia, apa kamu sudah siap?" Tanya Arka tiba-tiba yang sudah berdiri di depannya. Adelia mendongak menatap wajah suaminya, dirinya terdiam sejenak melihat suaminya yang hari ini terlihat sangat tampan jika dilihat lebih jelas.
__ADS_1
"Adelia, kenapa kamu malah bengong, ayo." Menggandeng tangan istrinya keluar kamar dan berjalan menuju parkiran, dirinya tadi sudan meminta sopir dari pihak resort untuk mengantarnya ke suatu tempat, sesuai permintaan istrinya kali ini.
Setelah kurang lebih satu jam lamanya, sampailah mereka di sebuah tanah lapang, di sana sudah ditunggu oleh helikopter pesanannya tadi.
"Hey kamu gila bro, yang benar saja pesan helikopter mendadak sekali, bisa di umpati orang aku, untung saja ada salah satu orang yang pesanannya di batalkan " Keluh salah satu temannya yang menjadi kolega bisnisnya itu.
"Ehmm iya maafkan aku, seharusnya aku jauh-jauh hari pesannya." Raka masih berusaha menutupi jika yang meminta tiba-tiba ini adalah istrinya.
"Iya iya...ya aku percaya jika pengantin baru itu inginnya selalu bermesraan dimana saja, silahkan nikmati hari-hari kalian."
" Hemm baiklah, terimakasih sudah banyak merepotkan kamu."
Temannya itu tak menjawab, hanya mengangguk mengerti, lalu mempersilahkan sepasang suami istri itu masuk menikmati perjalanan mereka.
"Ayo sayang silahkan masuk." Menggandeng tangan Adelia penuh perasaan.
Hari ini mereka akan berkelilin kemana saja yang istrinya mau, untung saja Raka sudah hafal dan mengerti bahasa mereka.
Di tempat lain, Nita sudah sangat panik, seharusnya ini sudah waktunya menambahkan kiriman peletnya lagi, kemaren dirinya sudah menemui mbah Joyo di gubuk tempat mbah Joyo tinggal.
Tetapi kata mbah Joyo sedikit kesulitan, karena tak bisa memasangi dengan media yang berhubungan langsung dengan kedua orang itu. Minimal salah satunya ada yang terhubung langsung dengan Nita.
Sehingga mau tidak mau Nita harus menunggu kepulangan mereka supaya rencananya berjalan lancar.
.
.
.
"Setelah ini aku ingin berbelanja," kata Adelia bersuara.
"Baiklah, nanti aku akan menunjukkan tempat belanja yang bagus-bagus."
Mendengar itu Adelia sudah bisa membayangkan barang apa saja nanti yang akan di belinya, dan daftar nama yang akan dia belikan oleh-oleh, seketika dengan reflek dirinya memeluk suaminya.
"Terimakasih suamiku,"
Raka tentu saja membalas pelukan istrinya dan tersenyum tipis, hampir tak terlihat jika tak dilihat dengan seksama.
__ADS_1
"Ehmm iya sama-sama."
Menit berikutnya Raka merogoh saku celananya, mencari sesuatu yang ada di dalam dompetnya, dan memberikan kartu ajaibnya pada Adelia istrinya.
"Ini untukmu, dari kemaren aku belum memberikan kamu ini, buat kebutuhan kamu sehari-hari."
"Terimakasih sayang." Ucap Adelia tanpa sadar, kata ajaib yang keluar dari mulutnya, diluar dugaan Raka.
"Coba ulangi lagi, mengucapkan kata apa tadi?" Tanya Raka pura-pura tak mendengarkan istrinya.
"Terimakasih suamiku sayang." Sambil memeluk tubuh Raka erat.
"Nanti setelah kita pulang dari sini, kita akan pindah di rumah baru kita." Kata Raka memberitahu istrinya.
Seketika Adelia menegakkan punggungnya, menoleh pada Raka dengan alis berkerut.
"Kenapa?" Tanya Raka lagi.
"Aku belum siap jika harus pindah di rumah sendiri," Tanpa di duga Adelia malah mengeluarkan air matanya.
"Katakan apa alasannya, supaya aku bisa membantumu."
"Aku takut tak bisa mengurusmu, mengurus rumah dan masih banyak lagi, aku juga tak bisa memasak, lalu bagaimana jika kamu kelaparan, karena aku tak bisa memasak." Adelia malah mengeluarkan unek-uneknya dengan menangis sesenggukan.
"Kenapa malah kamu tertawa, memangnya ada yang lucu apa." Memukuli tubuh suaminya.
"Iya ekspresi kamu yang seperti ini yang sangat lucu." Menghentikan pukulan istrinya dengan memegang kedua tangannya.
"Adelia, dengarkan aku baik-baik, suamimu ini bukan lelaki miskin yang tak kuat membayar asisten rumah tangga."
"Jika kamu tak bisa memasak, kita bisa memperkerjakan orang untuk memasak buat kita, jika kamu tak bisa membersihkan rumah, aku bisa membayar orang untuk membersihkan rumah."
"Semua nanti sudah aku sediakan, soal kamu mengurusku, kamu tak usah memikirkannya."
"Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Benarkah, tetapi apa kamu tak keberatan jika aku belum bisa memasak dan mengurus kamu dengan baik nantinya."
Raka menggelengkan kepalannya pelan dan tersenyum pada istrinya, lalu meraih tubuh Adelia dan memeluknya. Memberikan sebuah ketenangan di sana, Adelia serasa menghangat hatinya. Hal buruk yang ada di dalam pikirannya seketika sirna.
__ADS_1
dan
Bersambung