Married For Pellets

Married For Pellets
Ijin Kerja


__ADS_3

"Apa jika aku memintamu menjauhi wanita tadi, apa kamu keberatan." Adelia terus terang saja tanpa basa basi pada suaminya.


Raka terdiam sejenak, mencerna setiap perkataan istrinya, apa Ivana yang di maksud istrinya tadi.


"Kenapa hemm." Raka mencium puncak kepala istrinya, membalik tubuh Adelia dan menatap matanya dalam.


Sedangkan Adelia yang di tatap mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Merasa malu di tatap suaminya intens seperti ini.


Lalu menepis tangan suaminya dan berjalan menuju tempat duduk, dirinya sepertinya sangat kesal terhadap suaminya saat ini.


Raka mengikutinya dari belakang, dan menyusul duduk di hadapan Adelia.


Bukanya menjawab malah bertanya balik, mungkin hal itulah yang membuatnya moodnya tiba-tiba turun.


"Baiklah akan aku usahakan, namun aku tak bisa janji, karena kami terikat kontrak kerja sama,"


Adelia mendongak menatap wajah Raka kesal, pandangan matanya sangat tajam, kenapa dirinya jadi cemburu bercampur kesal seperti ini. Entahlah apa yang terjadi dengan dirinya.


Adelia tidak langsung merespon, tetapi semua kata yang keluar dari mulut Raka sangat membekas di hatinya.


"Kamu bisa pegang kata-kataku lagi." Ucapnya lagi.


Malam semakin larut, udara dingin dan angin sepoi-sepoi mengenai kulit halus Adelia, kedua tangannya mendekap tubuhnya sendiri.


"Ayo masuk, aku takut kamu akan masuk angin nanti."


Adelia diam saja, namun mengikuti langkah kaki Raka untuk turun ke bawah dan kembali lagi ke kamarnya.


Di dalam kamar, Adelia menunggu Raka yang saat ini ada di dalam kamar mandi, dirinya ingin membicarakan masalahnya.


Adelia duduk dengan gelisah, sesekali ujung jarinya meremas baju tidur yang saat ini menempel di tubuhnya.


Ckelk..


Pintu kamar mandi terbuka, reflek Adelia berdiri dari duduknya, lalu menatap wajah Raka datar.


"Kenapa masih bekum tidur?"


"Apa kamu menungguku?"


Adelia hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya, coba katakan, sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan.


"Apa aku masih boleh bekerja setelah ini nantinya?"

__ADS_1


"Hanya itu yang ingin kamu sampaikan?"


"Ehmm iya, aku rasa aku perlu menyampaikannya, karena aku sekarang tak sendiri lagi seperti dulu saat sebelum menikah."


"Ingin kerja dimana?" Tanya Raka singkat. Menatap manik hitam istrinya.


"Aku ingin bekerja di kantormu,"


Raka berjalan mengitari tempat duduk, dan memposisikan tubuhnya duduk di sebelah istrinya, di sofa panjang yang ada di dalam ruangan itu.


"Ta...tapi tenang saja, aku akan melewati jalur tes dan tak akan menggunakan kecurangan kok." Usul Adelia tergagap.


"Aku mohon biarkan aku bekerja, karena jika tidak.."


"Jika tidak kenapa?" Tanya balik Raka.


"Aku akan sangat kebosanan berada di rumah sepanjang hari."


"Lagi pula kita menikah bukan di Jerman, sehingga orang-orang kantor tidak akan ada yang tahu."


Raka menautkan sebelah alisnya, sehingga keningnya membentuk sebuah kerutan.


"Maksud kamu ingin bekerja di kantorku dan menutupi identitas aslimu kalau kamu istriku begitu?"


"Iya kamu cepat sekali menebak ucapanku."


"Kamu menggodaku sayang, hemmm?"


Raka berusaha tak tergoda dengan rayuan maut istrinya, membiarkan Adelia berbuat semaunya. Tetapi setelah mulutnya memasuki benda pusakanya, pertahannya runtuh juga.


Adelia berdiri membuka bajunya sendiri, dan duduk di pangkuan suaminya, lalu menari di sana dengan lihainya.


"Ahhhh kamu belajar dari mana sayang. Kenapa kamu sangat lihai sekali, padahal aku tahu bahwa aku lah lelaki pertama yang menyentuhmu."


Adelia tak menjawab, tetapi masih meneruskan aksinya dalam mode merayu. Mungkin ini cara ampuh untuk menaklukan suaminya. Setelah beberapa menit pertempuran itu. Mereka telah mencapai puncaknya bersamaan dengan Adelia yang berteriak memanggil namanya dan seketika itu ambruk di atas tubuh suaminya.


Tetapi setelah kegiatan panas itu selesai, seperti ya Raka masih tak terpengaruh dengan rayuan maut suaminya.


Kegiatan terulang kembali saat mandi bersama, lalu keluar dengan menggunakan bathrobe.


"Jadi bagaimana?"


"Apa?" Raka pura-pura tak mengetahui.

__ADS_1


"Yang tadi, aku boleh kan bekerja di kantormu?"


"Aku akan menjadi karyawan biasa, dan akan mematuhi semua perintah yang ada di sana."


"Tidak, aku tak setuju, aku mau semua irang mengetahui jika kamu adalah istriku,"


"Tidak, aku tak mau, nanti mereka malah mencari muka dan menjadi penjilat."


"Tapi bagaimana jika nanti kamu di taksir oleh karyawanku sendiri di sana, aku bersumpah akan melenyapkannya jika sampai itu terjadi."


"Kamu tak usah khawatir soal itu, aku bisa menjaga hatiku untukmu."


Lama Raka menimbang-nimbang permintaan istrinya, akhirnya dengan perdebatan panjang, Raka sedikit mengalah pada Adelia. Karena Adelia akan mengancam pergi ke rumah orang tuanya dan mengadu kepada orang tua Raka jika dirinya tak di perlakukan dengan baik. Tentu saja hal itu menjadi menakutkan bagi Raka. Karena image dirinya di hadapan ke dua orang tuanya sangat bagus. Dirinya tentu saja tak mau image nya tercoreng dengan hal-hal seperti ini. Apalagi dengan masalah rumah tangganya, sebisa mungkin harus ia jaga dan selesaikan sendiri.


"Baiklah tetapi harus ada sopir pribadi yang mengantar dan menjemput kamu."


"Aku tak mau," Tolak Adelia lagi.


"Aku akan menyetir mobil sendiri."


"Kalau begitu aku tak menyetujuinya."


"Ihh kamu ini, benar-benar suami yang membuatku kesal setengah mati." Gumamnya pelan, namun tentu saja hal itu terdengar jelas di telinga Raka.


"Apa kamu bilang, baiklah jika begitu kamu di rumah saja tak di ijinkan keluar rumah tanpaku."


"Baiklah, baik aku akan mau di antar sopir pribadi, tetapi yang tak di kenal oleh mereka, dan memakai mobil biasa dan jangan yang bagus."


Bisa-bisa mati kebosanan dirinya jika dirumah saja dan tak melakukan aktivitas apapun. Mumpung mendapatkan angin segar, kesempatan ini tak boleh di sia-siakan. Pikir Adelia dalam hati.


Raka pun merasa aneh dengan permintaan istrinya ini, di saat perempuan lain sedang ingin menikmati hidup menjadi ibu rumah tangga saja di rumah dan menghabiskan uang suaminya dengan berbelanja dan ke salon, tetapi malah kebalikannya dengan dirinya.


Adelia malah meminta hal lain, lalu Raka merogoh sesuatu dari dalam tasnya, mengeluarkan dua buah kartu ajaibnya dan memberikan ke tangan Adelia.


"Ini untukmu, gunakan untuk keperluanmu."


"Lalu untuk keperluan dirumah bagaiamana?"


"Semua sudah di urus oleh kepala pelayan yang di tugaskan."


"Baiklah terimakasih sayang," mencium bibir suaminya sekilas dan tersenyum senang mendapatkan kartu gesek ini.


"Sekarang tidurlah, besuk kita lanjutkan kembali jalan-jalannya."

__ADS_1


Mereka tidur dengan saling berpelukan satu sama lain. Esuk hari masih ada jalan-jalan membeli oleh-oleh dan masih banyak tempat yang belum mereka kunjungi.


dan


__ADS_2