
Seharian ini rasanya membuat Adelia seperti uring-uringan, dirinya sendiri tidak tahu apa penyebabnya, hingga beberapa kali ketika suaminya mengajaknya berbicara menyahut dengan suara dongkol.
"Kenapa? hemmm?"
"Apa aku ada buat salah." Raka bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri istrinya.
Bagaimana tidak, pelet yang menempel ditubuh keduanya perlahan sudah mulai memudar, seiring berjalannya waktu.
"Pokoknya hari ini aku ingin sendiri."
"Kamu keluarlah." sifat Adelia menjadi berubah ubah, seperti ada yang mengendalikan dirinya.
"Sayang, apa aku ada salah? jika iya katakan, biar aku bisa memperbaikinya."
"Aku tidak tahu." suaranya sangat tidak enak didengar. Raka bahkan ini memeluk suaminya sayang, ia berusaha menekan rasa apa ini yang membuatnya ingin berpisah dengan Adelia, dirinya sendiri berusaha mati-matian menepis pikiran pikiran buruknya, apa lagi mereka ini masih pengantin baru. Orang bilang masih hit-hotnya.
Diluar dugaan, respon Adelia malah mendorong Adelia. Hingga membuat Raka terjengkang kebelakang, dan kepalanya membentur meja belakangnya.
Raka yang awalnya begitu terkejut, masih sadar dan meraba pantatnya, namun ia merasakan pusing dan tak mampu untuk bangkit. Hingga detik berikutnya tak sadarkan diri.
"Sayang... sayang.... bangunlah." teriak Adelia begitu tidak menyangka, perbuatannya yang tak disengaja.
"Sayang...jangan membuatku takut." teriak Adelia menangis begitu histeris hingga mengundang orang orang yang berada diluar kamarnya. Kamar yang tidak tertutup rapat itu tentu saja suaranya terdengar hingga lantai bawah di bagian ruang tengah.
Adelia dengan histeris mengguncang tubuh suaminya, dan tangannya berniat mengangkat kepalanya, namun alangkah terkejutnya dia ketika tangannya meraba kepala suaminya malah merasakan basah, ia melihatnya dengan seksama. Ternyata darah yang terus merembes dari kepalanya akibat terkena benturan meja.
"Tolong...tolong..." teriak Adelia menambah volume suaranya.
"Yah...kayak ada yang teriak teriak." suara nyonya Alison pada suaminya.
"Masak sih bun, ayah tidak dengar tuh." ayah Adelia yang saat ini sedang membaca surat kabar ditangannya dan nyonya Alison sedang menyirami tanaman.
"Masak ayah tidak dengar sih, perasaan aku jadi tidak begini sih yah."
"Coba yah tengok ke dalam." perintahnya pada suaminya.
"Paling juga tetangga sebelah itu bun." malasnya.
"Hah selalu saja ayah ini." menaruh asal selang yang ada ditangannya lalu pergi berjalan masuk kedalam rumahnya kaki dihentakkan.
Tuan Alison melihat tingkah istrinya hanya melihat sekilas dan menggelengkan kepalanya.
"Bundaaa....ayahhhhhh toloooooong." mendengarkan teriakan putrinya yang semakin jelas, membuat bunda Adelia berlari menuju lantai atas.
"Adel ada apa del." ketika sudah sampai di depan pintu kemar putrinya, melihat menantu yang tak berdaya dengan bersimbah darah pada tangan Adelia, dengan reflek memasuki kamar putrinya dan berlari.
"Ada apa ini Del?"
__ADS_1
"Bunda tolong panggilkan pak Kosim bunda, tolong bawa ka Raka ke rumah sakit sekarang juga."
"Baiklah, baik tunggu dulu sebentar bunda akan kebawah."
"Ayahhh yahh..." berlari keluar tidak begitu lama Raka diangkat oleh pak Kosim sopir pribadi keluarga Alison dan juga tuan Alison menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan membuat Adelia menyesal, dan juga menangis tiada hentinya. "Ada apa nak sebenarnya?" tanya nyonya Aliso ibunya Adelia.
"Bunda..." wajahnya memelas. Ia berkeinginan pisah dengan Raka, namun melihat wajah ayah dan bundanya tak sampai hati berbicara mengenai ini, apa lagi Raka dalam kondisi tidak memungkinkan, membuat Adelia urung menyampaikan niatnya.
"Adel ada apa nak?"
"Apa kalian bertengkar?"
"Apa kamu telah menyakiti suami kamu?" tanya bunda Adelia memberondong begitu banyak pertanyaan bertubi tubi.
"Bundaa..." panggil tuan Alison memberikan isyarat agar gak memberondong putrinya, dengan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah tolong jelaskan pada bunda jika nanti kamu sudah siap."
Adelia menganggukkan kepalanya dan memeluk erat, hanya ini kedamaian yang ia temukan.
"Keluarga pasien?" panggil dokter setelah keluar ruangan menangani Raka.
"Saya istrinya dok."
Adelia berjalan mengikuti dokter, untuk mengurus segalanya keperluan suaminya mulai dari administrasi dan juga persetujuan operasi kecil.
"Apa yang terjadi dengan tuan Raka nyonya?" tanya dokter setengah baya itu.
"Suami saya jatuh dan tidak sengaja terbentur meja dok." jawab Adelia apa adanya, tidak mungkin juga kan dirinya mengaku jika jatuhnya habis ia dorong, bisa membuat reputasinya jatuh jika mengaku.
"Begini nyonya, tuan Raka sedang mengalami cedera kecil pada kepalanya, sehingga membuatnya harus dijahit."
"Jadi lain kali berhati hatilah." pesan dokter.
"Dan karena kehilangan lumayan banyak darah, jadi untuk semalam perlu perawatan intensif, dan akan transfusi farah.
"Baiklah dokter, lakukan terbaik buat suami saya."
"Berapa pun biayanya akan saya bayar."
Percakapan itu berlangsung panjang lebar, mengenai kesehatan Raka.
"Bagaimana kondisi suami kamu Adel?" tanya tuan Alison. Begitu putrinya keluar dari ruangan dokter.
"Tidak apa apa kok yah, ayah sama bunda pulang saja, biar aku yang jagain kak Raka."
__ADS_1
"Tidak bisa nak, nanti siapa yang akan menemani kamu disini?" bunda Adelia begitu tidak tega jika harus membiarkan putrinya sendirian dalam kondisi seperti ini.
"Aku..." Adelia membeo.
"Iya bunda akan tetap disini menemani kamu, kalau ayah kamu terserah mau pulang apa tetap mau tinggal."
"Ayah tentu saja juga akan menemani putri ayah."
Adelia malah begitu ingin pecah tawanya, kenapa malah jadi kedua orang tuanya yang debat.
"Baiklah terserah kalian saja deh."
"Habis ini kak Raka mau dipindah di ruangan perawatan."
Tidak berapa lama beberapa suster memindahkan ruang perawatan Raka di ruangan VVIP. "Apa kamu tak berniat memberitahu ibu dan ayah mertua kamu nak?" tanya tuan Alison lembut pada putrinya.
"Aku belum tahu yah, aku takut yah."
"Takut kenapa nak?"
"Aku takut mereka akan menyalahkan aku." ucap Adelia sendu.
"Kalau soal itu jangan khawatir nak, ini namanya kecelakaan, jika mereka menyalahkan putri ayah, ayah yang akan maju."
"Baiklah, nanti dulu saja yah, aku masih belum siap." mereka berjalan beriringan menuju ruangan perawatan Raka.
"Bunda sama ayah istirahatlah, aku akan duduk disini menunggui kak Rama."
"Iya nak, ini sudah siang, kamu makanlah dulu iya."
Didalam ruangan perawatan VVIP begitu banyak makanan dan buah buahan, serta aneka minuman, semuanya sudah tersedia disana, lantaran fasilitas yang mereka tempati memilih high class.
Adelia tak dapat menyembunyikan rasa bersalahnya, tuan Alison sendiri merasa ada yang aneh dengan gelagat putrinya. Namun ia masih membiarkan Adelia mengatasi sendiri.
"Tidurlah dulu sayang jika kamu lelah, biar gantian sama ayah iya jaga suami kamu." bujuknya.
"Tidak yah, aku belum mengantuk, aku akan disini saja." tolaknya.
Padahal niat tuan Alison menyuruh putrinya tidur supaya putrinya bisa sejenak menenangkan diri.
"Kak cepatlah bangun kak."
"Jangan tinggalkan aku." tangisnya tertahan.
Tuan Alison dan istrinya bahkan pura pura tidak mendengarnya.
dan
__ADS_1
Bersambung