Married For Pellets

Married For Pellets
Mengantar Kepergian Ivan


__ADS_3

Kemudian Ivan pamit undur diri dari hadapan ayahnya Adelia itu. Waktu terus berlalu dengan cepat.


Tak terasa hari ini hari keberangkatan Ivan menuju Jerman, dirinya akan menempuh pendidikan di sana hingga selesai. Sesuai janji Adelia, jika dirinya hari ini akan mengantarkan kekasihnya itu sampai di bandara. Adelia ikut satu mobil dengan calon ibu mertuanya itu, ibu Dewi.


Ibu Dewi sudah mengenal baik keluarga Adelia begitu juga sebaliknya, terkadang jika hari libur Ivan mengajak Adelia pergi kerumahnya, dan Adelia melakukan kegiatan bersama bu Dewi seperti membuat kue terkadang berkebun dan ke salon bareng bahkan shoping.


Sehingga mereka sudah kenal akrab seperti saat ini. "Kau bersabarlah nak, hubungan jarak jauh itu memang tidak mudah, tetapi tante percaya jika cinta kalian kuat, kalian akan dipersatukan dengan yang indah yaitu sebuah pernikahan" ucap bu Dewi saat ini.


Iya yang mengantarkan Ivan sampai ke Bandara hanya ibunya saja dan juga kekasihnya, karena tadi papanya Ivan ada rapat dikantor yang tak bisa di tinggalkan. Ivan bisa memaklumi itu. Saat ini ada mamanya dan juga Adelia baginya sudah cukup.


"Baik tante" Adelia menjawab singkat, dirinya tak dapat berkata-kata lagi jika dalam situasi seperti ini, takut air matanya tak bisa ditahan.


"Ivan" panggil ibu Dewi


"Iya ma" Ivan yang saat ini duduk di kursi sebelah pengemudi menoleh ke belakang.


"Kamu sanggup kan menjalani hubungan jarak jauh ini" tanya bu Dewi


"Kamu jangan kecewakan mama, mama harap kamu bisa menjaga cinta kalian, menerima kekurangan dan kelebihan pasangan itu adalah yang paling utama dalam menjalani sebuah hubungan"


"Jika di sana ada yang lebih baik dari Adelia, jangan sekali-kali dirimu berkhianat, mama tak pernah mengajari hal seperti itu, lebih baik lepaskan Adelia dengan baik-baik jika kamu sudah tak mencintainya lagi" nasehat mama pada anaknya itu


Ivan mendengarkan dengan seksama tanpa menyela ucapan mamanya. Sedangkan Adelia yang mendengarkan ucapan mamanya itu tak bisa untuk tak menahan air matanya. Kemudian ibu Dewi memeluk Adelia, "Tante sedang memberikan pelajaran pada anak tante sayang"


Bu Dewi menenangkan Adelia yang sedikit terisak itu karena mendengar ucapan mamanya, "Sudahlah mama jangan berbicara melantur seperti itu, mama ini seperti tak tahu watak anaknya kayak gimana saja" bantah Ivan


"Sudah iya sayang jangan dengarkan ucapan mama" Ivan menoleh kebelakang dan memberikan selembar tisu pada Adelia


"Kau harus dengarkan kata-kata mama tadi Van" tegas bu Dewi pada anaknya itu.


Ibu Dewi akhirnya menenangkan Adelia dengan memeluk dan mengusap punggung Adelia pelan.


Tibalah mereka saat ini di bandara. Mereka menuju ruang tunggu dimana tempat para penumpang berada. Ivan menaiki pesawat komersil supaya nyaman jika perjalanan jarak jauh seperti ini.

__ADS_1


"Kau berangkat sekarang juga" tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapanya, Ivan dan tiga orang itu menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu sendiri mau kemana" tanya balik Ivan sambil berjabat tangan dengan Raka.


"Aku juga akan berangkat sekarang"


"Cek kau ini seperti mengikuti jejakku saja" Ivan berdecak kesal pada Raka


"Enak saja, mana aku tahu jika dirimu akan berangkat hari ini" jelasnya


Kemudian Raka melihat di samping Ivan ada Adelia dan juga bu Dewi. Mereka juga berkenalan "Kenalin ma ini Raka temanku basket"


"Hallo tante saya Raka" sambil menjabat tangan bu Dewi itu


"Hallo nak Raka, apa kamu juga akan bepergian juga" tanya bu Dewi, karena saat ini Raka terlihat membawa banyak barang seperti koper dan tas.


"Iya bu sama seperti Ivan anak ibu, saya juga akan pergi ke jerman" Raka menjelaskan dengan tegas namun masih dengan suara yang terdengar sopan.


"Wah kamu jadi ada temannya Van, tante titip Ivan ya nak, jika dia macam-macam disana jangan sungkan-sungkan melapor ke tante" tante dewi meminta nomor ponsel Raka, hanya jaga-jaga saja jika anaknya itu tak bisa dihubungi nanti.


"Ck, mama ini tak percaya padaku, apa tak sekalian menyewa detektif saja" kesal Ivan yang membuat mereka semua tertawa.


Sedangkan Raka dirinya hanya diantar oleh teman-temanya serta juga adik sepupunya yang bernama Nita. Nita yang melihat ke keakraban mereka merasa tak suka.


"Oh iya kenapa ayah dan ibumu tak ikut mengantarkan nak" tanya bu Dewi penasaran


"Mereka sudah berada disana lebih dulu tante"


"Ohh pantas saja tak ada disini mengantarmu" bu Dewi


"Oh iya apa ini pacar kamu juga nak" tanya bu Dewi penasaran


"Oh iya tante kenalin ini adikku, adik sepupuku tante namanya Nita"

__ADS_1


Sedangkan Nita yang namanya disebut itu tersenyum canggung dengan terpaksa dirinya menjabat tangan mama Ivan sama seperti apa yang dilakukan oleh Raka tadi.


"Wahh tante kira pacar kamu tadi" bu Dewi dengan suara ramahnya


"Dia ini jomblo sejati tante, belum punya pacar, apa tante punya anak perempuan" tanya Raga pada bu Dewi


"Iya tante, ya kali aja bisa dijodohkan dengannya" Arman menimpali ucapan Raga pada tante Dewi.


"Wahh sayangnya tante juga tak punya anak perempuan, jika saja tante punya anak perempuan sudah pasti tante mau banget memiliki menantu yang tampan sepertimu nak, mana sopan sekali lagi" bu Dewi memuji kagum dengan adab Raka pada orang tua


Memang bu Dewi juga selalu mengajarkan adab sopan dan santun terhadap anak-anaknya itu seperti dirinya mengajarkan sopan santun kepada Ivan dan juga Dirga adiknya Ivan. Saat ini Dirga tak ikut mengantarkan Ivan karena tadi ada ekstrakurikuler di sekolahnya.


Tibalah saat ini mereka akan memasuki pesawatnya, Ivan berpamitan pada Adelia dengan mencium kening kekasihnya beberapa kali, dirinya tak peduli jika sekarang telah menjadi pusat perhatian banyak orang termasuk teman-teman Raka serta Nita.


Nita yang melihat adegan romantis itu tentu saja kebakaran jenggotnya. Sifat iri dengki sepertinya telah tertanam dalam dirinya saat ini, yaitu susah melihat orang lain bahagia, dan senang melihat orang lain susah.


Namun semuanya tak ada yang memperhatikan dirinya. "Sudahlah jangan diapa-apain anak orang" sergah bu Dewi segera menjauhkan tubuh Adelia dari hadapan Ivan.


"Mama ini kenapa syirik sekali melihat anaknya bahagia dikit aja" Ivan


"Bahagian apanya, mau mengambil untung iya" bu Dewi tak mau kalah


"Sini peluk mama saja" sambil merentangkan tangannya siap menyambut anaknya memeluknya


"Mama ini bilang saja jika ingin memelukku" kesal Ivan pada ibunya


"Apa kamu tak mau meminta doa restu pada mama" bu Dewi mengingatkan


Semua yang berada di sana tentu saja tak bisa menahan senyum melihat perdebatan antara ibu dan anak itu.


Setelah itu Raka juga berpisah dengan teman-temannya dan juga adik sepupunya Nita, sekilas dirinya Melihat Adelia begitu pun sama, Adelia melihat dirinya hingga tatapan mereka bertemu beberapa saat. Tak ada yang Raka pikirkan untuk saat ini.


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2