Married For Pellets

Married For Pellets
Bertemu Raka


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa ini sudah bulan ke tujuh kehamilan Adelia, Nara begitu antusias untuk menyambut kelahiran calon anak Adelia.


Kamar untuk bayi laki laki sudah ia siapkan, dengan nuansa berwarna blue, menyesuaikan dekorasi untuk anak laki laki, berbagai macam model pakaian bayi laki laki sudah tertata di almari, stroller, kursi bayi, mainan bayi.


Bahkan di dalam kamar itu nampak seperti koleksi untuk peralatan bayi, "Aku rasa semuanya sudah lengkap, tidak ada yang ketinggalan satu pun yang aku beli." kata Nara begitu dirinya selesai menata pakaian bayi dam sepatu sepatu bayi.


"Apaan, kata orang Indonesia kayak gini tidak boleh loh, nanti bisa jadi pamali," jawab Adelia pada Nara.


"Tidak apa apa, kan yang belanja aku bukan kamu." kata Nara, dirinya terlihat senyum senyum sendiri.


"Kenapa malah melamun?" tanya Adelia, yang ketika dirinya melihat Nara malah senyum senyum tidak jelas.


"Rasanya aku sudah tidak sabar, ingin bertemu dia." kata Nara, tangannya terulur, menyentuh perut buncit Adelia.


"Sabarlah, lagian juga kan masih kurang dua bulan lagi dia keluarnya."


"Iya juga iya,"


"Ayo sekarang bersiaplah."


"Mau kemana?"


"Mengantar kamu lah, pergi ke tempat senam ibu hamil." jawab Nara santai.


"Apaan, kamu lebih terlihat mirip seperti seorang suami yang mengatur segala sesuatu untuk istrinya."


"Yahh anggap saja begitu." jawab Nara.


Lalu mereka bersiap, pergi ke tempat senam ibu hamil. Dengan Adelia diantar oleh Nara. Nara yang membawa peralatan Adelia seperti tas dan kelengkapan yang lainnya.


"Rasanya susah sekali menjadi ibu hamil itu."


"Jangan banyak mengeluh, seharusnya kamu bersyukur, lihatlah orang orang yang susah memiliki anak itu." jawab Nara.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, perjalanan menuju ke tempat senam. Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit saja sudah sampai.


"Ayo, nanti kita akan terlambat." Nara.


"Baiklah." Adelia berjalan mengikuti Nara dari belakang.


Kelas senam ibu hamil terdiri dari beberapa kelas, tergantung usia kandungan mereka. Adelia masuk kelas dengan ibu hamil yang usia kandungannya sama sama tujuh bulan.


Perjalanan menuju kelasnya melewati lorong ruangan, yang nampaknya banyak ibu ibu hamil di dalam sana, dengan berbeda gurunya.


Sekilas dirinya seperti melihat Vera dan juga Raka. Lalu menggelengkan kepalanya. "Kamu jangan berhalusinasi Adel." batinnya.

__ADS_1


"Kamu nanti harus konsentrasi, tidak boleh banyak melamun, bahaya loh ibu hamil banyak melamun itu." omel Nara panjang lebar.


"Baiklah kanjeng Mami." jawab Adel, salah satu tangannya menutup mulutnya, menahan senyum yang akan meledak.


"Hei aku masih muda, kenapa kamu memanggilku demikian." omel Nara lagi.


"Karena kamu seperti ibu ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya." jawab Adelia santai.


"Sudah jangan banyak bicara ayo."


Nara menarik tangan Adelia memasuki sebuah ruangan khusus. Yang ternyata banyak ibu ibu hamil yang diantar oleh suaminya.


"Mereka banyak yang diantarkan oleh suaminya." bisik Adelia ditelinga Nara.


"Tak apa, aku rasa kamu harus menjadi ibu yang tangguh dan kuat." balas Nara ditelinga Adelia.


Jujur saja, dengan kondisi seperti ini, melihat teman temannya yang didampingi suaminya, membuat Adelia sangat iri. Tak dapat dipungkiri jika dirinya juga ingin seperti teman temannya.


Ditemani ketika pergi senam ibu hamil, dimanjakan ketika sedang mengidam. Dan diperhatikan lebih. Bahkan Adelia harus mengubur impiannya itu dalam dalam. Tak ada lagi yang ia harapkan.


Suaminya sudah memiliki wanita idaman lain selain dirinya, jika mengingat hal ini membuat nafasnya sesak. Dan tubuhnya melemah. Beberapa kali dirinya mengedipkan matanya, agar air matanya tidak lolos. Dan juga menarik nafas panjang, untuk mengurangi beban penderitannya.


"Baiklah ibu ibu, senam akan kita mulai." kata pemandu senam.


"Maaf Miss, suami sayaa.." ucapannya terhenti, seakan suaranya tercekat di tenggorokannya.


"Suaminya sedang dinas di luar negeri miss." jawab Nara menyahut.


"Saya yang akan menjadi pendampingnya." kata Nara dengan senyum manisnya.


Sudah otimatis seluruh orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya. Namun detik berikutnya kembali ke instruksi pemandu senam.


Gerakan bagaimana caranya mengejan nanti dan juga mengatur pernafasan. Berbagai tehnik sudah diajarkan. Memakan waktu sekitar satu jam setengah.


Begitu selesai mereka saling menyapa satu sama yang lainnya. "Hai ibu Adelia iya." tanya salah satu ibu hamil yang sepertinya keturunan asia itu. Karena terlihat dari matanya yang tidak sipit, dan kulitnya kuning langsat.


"Ah iya, saya Adelia." jawab Adelia ramah.


"Lusa aku ingin mengundang ibu Adelia ketempat makan saya, datang iya," sambil menyodorkan surat undangan.


Perempuan yang diketahui namanya bernama Alina itu, memang terlihat ramah. Suka menyapa orang lebih dulu, sehingga tidak sulit untuk Adelia yang sedikit introvet untuk menyapanya.


"Siapa?" tanya Nara.


"Itu nyonya Alina mengundang kita makan makan, besuk lusa."

__ADS_1


"Kamu bukan aku yang di undang."


"Aku sudah menanyakannya, kalau kita berdua boleh datang."


"Benarkah sudah kamu tanyakan?" tanya Nara memastikan.


"Iya."


"Baiklah, sekarang ayo kita pulang." kata Nara.


Lalu mereka berjalan keluar, dan menuju dimana mobil mereka terparkir. "Oh iya kamu jalan saja duluan, barang aku ada yang ketinggalan."


"Baiklah aku tunggu dimobil." jawab Nara.


Sebetulnya barang Adelia tidak ada yang ketinggalan, dirinya hanya mencari tempat persembunyiannya saja, karena dirinya melihat Vera dan juga Nara.


Sekitar lima belas menit, Nara menunggu Adelia di depan mobilnya, namun tak kunjung juga kembali, sehingga memutuskan kembali dan mencari keberadaan Adelia.


Begitu dirinya ketemu obyek, ternyata Icha sedang mengumpat di balik tembok, dan mengangkat sebelah tangannya ke arah mulutnya.


Nara menyadari, siapa yang telah membuat Adelia begitu tidak ingin menampakkan dirinya, ternyata ada sepasang suami istri yang sedang bermesraan di balik mobil.


"Mereka sudah pergi, ayo." kata Nara.


Adelia mengangguk, lalu berjalan mengikuti Nara. Dan mengatur nafasnya yang berat.


Nara tak mau lagi berbicara atau pun menanyakan hal demikian, karena nanti malah menambah beban pikiran Adelia, pikirnya.


Setelah cuti sebentar untu mengantar Adelia senam hamil, Nara kembali bekerja. Itu artinya dirinya dirumah sendirian.


Terdengar bel apartemen Nara berbunyi. "Apa lagi sih yang ketinggalan." omel Adelia.


Dirinya begitu terkejut, mendapati seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui. "Ka kamuuu."


"Iya ini aku,"


"Apa kamu terkejut?" tanya Raka, memicingkan matanya, lalu pandangannya beralih menatap perut buncit Adelia.


Tanpa menjawab Adelia akan menutup pintunya kembali, namun berusaha ditahan oleh Raka. Raka masuk ke dalam apartemen Nara. Dan sedikit mendorong tubuh Adelia.


"Apa begini cara kamu menyelesaikan masalah?"


Raka berdiri di depan Adelia. Mata mereka saling memandang. "Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan kakak."


"Kamu masih ada urusan denganku, karena dia milikku." ucap Raka. Tangannya terulur menyentuh perut buncit Adelia. Yang berhasil ditepis Adelia. Walaupun dia sangat ingin di sentuh tangan itu.

__ADS_1


__ADS_2