Married For Pellets

Married For Pellets
Adelia Raka


__ADS_3

Satu bulan kemudian, Raka sudah bisa menerima kepergian Adelia. Bayinya diasuh oleh Vera, Vera saat ini juga melahirkan seorang Putra tampan. Tapi sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan dirinya, tetapi lebih condong pada Vera.


Ketika El sedang menangis kejer untuk meminta susunya, Vera sama sekali tidak menghubbris hal itu. Ia malah asik pergi menjauh dari kamar yang terdengar berisik itu. Untuk bermain bersama bayinya sendiri.


"Nyonya maaf nyonya, tuan kecil sedang ingin meminta susu."


"Terserah mau kau apakan anak haram itu aku tidak peduli." kata Vera ketus.


Loren pelayan yang setia mendampingi El menggelengkan kepalanya, lalu dengan cekatan membuatkan susu untuk El. Sesekali Loren meneteskan air matanya. "Nasibmu begitu buruk nak, kau memiliki ibu sambung yang begitu jahat. Tidak memperdulikan dirimu." kata Loren sambil menimang untuk menenangkan El.


Vera akan bersikap manis jika di hadapan Raka, tetapi sebaliknya jika di belakang Raka. Ia akan mengabaikan El dan menimang bayinya sendiri, setiap hari begitu terus sampai membuat Loren mengelus dadanya sendiri, tetapi tidak berani untuk mengungkap hal ini pada Raka.


"Kau begitu manis sayang, ah aku bahagia sekali saat ini memiliki Putra yang sangat tampan-tampan iya kan Daddy."kata Vera menimang baby El dan membiarkan bayinya di timang oleh Loren.


Raka yang baru saja datang, terlihat sangat lelah tetapi begitu melihat bayi-bayinya yang lucu seketika lelah itu menguap begitu saja.


tidak lupa Raka mengecup pipi El dan juga Bentley bayi Vera. "Kau mandi saja dulu sayang."


Sebenarnya Raka sudah tahu jika Bentley ini bukan darah dagingnya, tetapi ia membutuhkan sosok ibu untuk El. Raka sudah mengantongi hasil tes DNA Bentley dengan dirinya yang membuktikan bahwa mereka tidak ada hubungan darah. Tetapi Raka masih menyimpannya saja dan belum ada niatan untuk mengusir Vera. Apalagi Viera baru saja melahirkan, ia akan teringat Adelia.


"Sayang kau mandilah dulu, aku akan menyiapkan pakaian untukmu. Anak-anak biar diasuh oleh bibi Loren." kata Vera manis lalu menarik tangan Raka untuk naik ke lantai 2 menuju kamar utama.


"Baiklah apakah hari ini terjadi sesuatu dengan El?" tanya Raka sambil membuka kancing bajunya yang tinggal terakhir.


"Tidak ada sayang, kau jangan mengkhawatirkan mereka. Mereka adalah anak-anak yang manis."


Sebenarnya Vera begitu cemburu jika Raka menanyakan bagaimana perkembangan El setiap hari, tetapi tidak dengan anaknya.


"Menyebalkan. Kenapa anak perempuan gila itu saja yang ditanyakan, anakku juga butuh kasih sayangnya." batin Vera menggerutu kesal.

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Biar aku saja sayang yang membukanya." kata Vera lalu beranjak membuka handle pintu.


"Maaf nyonya, tuan kecil sejak tadi masih menangis. Sepertinya ia ingin meminum susunya."


Bibi Loren berbicara pada Vera dengan wajah menunduk. Berusaha menenangkan baby El. Tetapi Vera terlihat kesal, malah membentak bibi Loren.


" Bukankah masih banyak stok susu buat El, kenapa kau membawanya kemarin? Ck... mengganggu saja." kesal Vera.


Raka masih mengenakan pakaiannya, ia tidak mendengar dengan jelas pembicaraan kedua orang itu. Tapi terdengar bisik-bisik.


"Ada apa?" tanya Raka datar seperti biasa. Sejak kepergian Adelia senyum Raka seolah hilang dari wajahnya. Ia sama sekali tidak makan dengan teratur, pakaiannya juga berantakan tidak serapi biasanya. Setiap hari hanya sibuk kerja kerja dan kerja, bahkan terkadang sampai larut tengah malam barulah ia beranjak dari kantornya.


"Tidak ada, hanya masalah kecil mengenai El." kata Vira berusaha menenangkan kegugupannya.


"Ayo kita turun ke bawah, kau belum makan malam kan akan aku siapkan."


"Tak perlu aku sudah makan malam dengan klien ku tadi."


Vera masih berusaha menghilangkan kegugupannya, tapi mimik wajahnya tidak bisa dibohongi. Raka melihat dengan jelas hal itu, tapi ia berusaha menepis pikiran buruknya mengenai Vera.


***


*


*


Adelia begitu shop bawa dirinya baru saja menemukan fakta yang membuatnya hampir saja pingsan. Ia baru saja bertemu teman lama ibunya, yaitu tante Lita. Tante lita menjelaskan bahwa Adelia bukanlah anak kandung ibu dan ayahnya.


Mereka mengalami kecelakan beruntun ketika akan berlibur ke puncak di akhir pekan. Mobil yang mereka tumpangi bertiga terguling kejurang. Hingga membuat ayahnya dan juga adiknya meninggal di tempat. Lalu ibunya masih bisa di selamatkan, ketika dilarikan ke rumah sakit.

__ADS_1


Ibunya nitip wasiat pada tante Lita, jika bertemu Adelia untuk mengatakan hal ini padanya, sekaligus meminta maaf. Saat itu tante Lita berusaha menghubungi Adelia.


"Maafkan aku Adelia. Aku berusaha menghubungi nomor ponselmu, tapi sama sekali tidak tersambung. Sepertinya kau mengalami masalah, ataukah mengganti nomormu?" tanya tante Lita yang tidak tahu menahu soal rumah tangga Adelia yang sudah usai.


"Maafkan aku tante, saat itu memang aku sempat kehilangan ponsel. Lalu aku membeli ponsel yang baru dan saat aku mau menghubungi mereka. Nomor kedua orangtuaku, tetapi sama sekali tidak tersambung."


"Tante apakah di masa lalu aku memiliki banyak salah, ternyata aku hanyalah anak buangan yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuaku."


"Mungkin inilah karma yang aku terima, dari kesalahan kedua orang tuaku." lirih Adelia. Air matanya sama sekali tidak bisa keluar.


"Sekarang kau tinggal di mana?" tanya tante Lita berusaha menenangkan Adelia.


"Aku tinggal di seberang sana tante, kerabat temanku memiliki butik ternama dan aku bekerja di sana sebagai desainer perhiasan."


"Wow pencapaianmu sangat keren, butik itu tidak hanya memproduksi tas dan juga pakaian branded saja, tetapi juga perhiasan kau tahu itu." kata tante Lita antusias.


Tante Lita lalu mengeluarkan sebuah amplop berisikan foto-foto masa kecilnya. "Ini hanya tinggal beberapa lembar saja yang tersisa."


"Aku rasa ini cerita yang menyedihkan buatku, dan selama ini kedua orang tuaku berusaha menutupi semua itu. Walaupun begitu aku harus berterima kasih pada mereka, tidak membuangku kembali atau bahkan membunuhku."


Kisah pilu Adelia, terungkap saat ini. Ketika kedua orang tua angkatnya sudah membesarkan dengan susah. Adelia ditemukan di kawasan hutan yang tidak jauh dengan perkantoran. Lalu dibesarkan oleh suami istri yang tidak memiliki anak saat itu. Tidak berapa lama ketika Adelia tumbuh besar. Barulah suami istri itu memiliki anak, tetapi kini semua mereka telah tiada meninggalkan Adelia sendiri, seperti sedia kala ketika Adelia terbuang. Saat ini dirinya juga sendiri tidak punya siapa-siapa lagi. Sekelebat Adelia teringat akan putranya.


"Bagaimana kabarnya dia." lirih Adelia dalam hati.


"Tante Lita akan sering-sering berkunjung kemari kau tahu itu, sekarang kamu harus bisa menjaga dirimu baik-baik sayang oke."


Adelia kembali ke tempat butik di mana ia bekerja saat ini, Adelia ditempatkan di bagian kepala divisi.


"Bagaimana kerjamu hari ini? siapa yang kau temui tadi? "

__ADS_1


"Ck, kok itu mau bertanya apa mau wawancara diriku." kesal Adelia pada Nara.


Bersambung


__ADS_2