Married For Pellets

Married For Pellets
Adelia Raka


__ADS_3

"Apakah benar saat itu kamu selingkuh?" Adelia mengatakan hal ini dengan sangat berat, Adelia menanyakannya pada Raka daripada mati dibuatnya penasaran.


"Kenapa kau malah tersenyum jawab dulu pertanyaanku?"


"Atau pertanyaan ku tadi terdengar lucu?"


Adelia mencebik, karena Raka tak kunjung menjawabnya. "Kau berhutang penjelasan padaku."


"Baiklah honey, aku akan menjelaskanmu tapi sekarang sebelum kau mendengarkan ceritaku, ayo makanlah dulu ini." kata Raka, tangannya sudah memegang sebuah piring yang berisi berbagai macam hidangan.


"Aku rasa kau butuh tenaga untuk mendengarkan ceritaku."


"Ck, aku hanya mau mendengarkan ceritamu bukan mau bekerja Tuan."


"Menurut lah ayo buka mulutmu."


Adelia masih enggan untuk membuka mulutnya, semua tubuhnya terasa kaku untuk ia gerakkan saat ini. "Jangan memaksaku, tubuhku terasa sakit semua, dan aku tidak berselera untuk mengunyah makanan."


Reaksi Raka di luar dugaan, ia malah memanggil dokter spesialis kulit untuk segera memeriksa Adelia. Tidak berapa lama dokter menghampiri ruangan Adelia dan memeriksa keadaan Adelia lalu memberikan obat pereda nyeri.


Dengan bujukan dan rayuan Raka Adelia akhirnya mau makan suapan dari Raka meskipun Raka sedikit mengintimidasi Adelia. Raka memberikan sebuah ancaman jika Adelia tidak segera sembuh maka Raka tidak akan membawa Adelia bertemu putranya. Bujukan yang paling ampuh seketika Adelia menurut dengan perintah Raka.


"Aku sudah kenyang, kau saja yang menghabiskan makanannya."


"Baiklah sekarang tidurlah, tenangkan dulu pikiranmu."


Raka meletakkan kembali piring yang berisi makanan yang hanya dimakan seperempat dari isi piring itu, lalu menaikkan selimut Adelia sampai sebatas dada dan memberikan kecupan hangat di kening dan di bibir Adelia. Hingga Adelia yang merasakan sebuah kecupan hangat itu seperti tersengat listrik ada getaran-getaran aneh di dalam hatinya.


Raka lalu kembali meneruskan pekerjaannya yang tadi sempat ia tinggal. Tidak berapa lama dirinya mendapatkan telepon dari seseorang agar tidak mengganggu tidur Adelia. Raka keluar dari ruangan itu supaya bisa berbicara lebih inten dan tidak berisik.

__ADS_1


"Halo bos saya sudah menjalankan perintah bahwa nona Nita pergi ke suatu tempat yang tidak biasa." kata seseorang seruan Raka dibalik telepon yang tersambung.


"Info Apa yang kau berikan padaku?"


"Nona Nita pergi ke suatu tempat yang letaknya jauh dari perkotaan, di sebuah rumah yang berada di tengah hutan. Bukan rumah tetapi seperti gubuk yang temboknya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari alang-alang."


"Baiklah cari tahu info selanjutnya, aku tidak ingin menunggu terlalu lama, dan harus hari ini kau mendapatkannya." lalu Raka mematikan ponselnya sepihak.


Raka kembali masuk ke dalam ruangan begitu ia selesai menerima telepon dari orang suruh, sedangkan Adelia sudah mendengar halus tanda wanita itu sudah berada di alam mimpi.


Tidak butuh waktu lama Raka untuk mendapatkan info yang diinginkannya, berkat orang suruhannya sudah ia percaya dan begitu handal, dapat ia percaya dalam waktu kurang lebih 3 jam Raka sudah menerima telepon kembali dari orang suruhannya, mengatakan bahwa Nita pergi ke suatu tempat di mana tempat itu adalah rumah seorang dukun.


Bukan dukun untuk memperkaya diri, tapi dukun ilmu pengasihan, pasang susuk dan masih banyak lagi keahlian yang dimiliki dukun itu yang bernama Mbah Joyo.


Raka yang mendengarkan informasi ini begitu murka dengan adik sepupunya yang bernama Nita. Ingin rasanya ia mengirim Nita kepada temannya yang bernama Mala. Tetapi ia masih mengingat Jika Nita adalah saudara sepupunya biar bagaimanapun.


"Awasi terus pergerakannya dan jangan biarkan dia berkeliaran tanpa pengawasan mu."


"Honey, kau sudah bangun."


"Kau mengelabuiku?"


Adelia mengerjapkan matanya, kesadarannya masih ia kumpulkan untuk mengintrogasi Raka, dan Raka tadi sudah berjanji akan bercerita banyak hal mengenai dirinya sampai menikah dengan Nara.


Tapi karena ia sudah kekenyangan hingga membuatnya mengantuk dan lupa dengan niat awal. "Kemarilah katanya kau akan bercerita dan aku akan jadi pendengar yang baik."


Seketika Raka menepuk jidatnya dengan salah satu tangannya, menarik nafas mengeluarkannya kasar bahwa ia masih berhutang penjelasan pada Adelia. Hingga Adelia tak bisa tidur nyenyak sepertinya karena memikirkan hal ini.


"Oh my God Honey kau tak bisa tidur nyenyak sepertinya tadi karena memikirkan ceritaku baiklah."

__ADS_1


Raka lalu meletakkan ponselnya di atas meja lalu berjalan mendekati istrinya. "Mau ku awali dari mana ceritanya?"


"Ck, dari awal sebelum kau menikah sampai kau menikah. Memangnya dari mana lagi." kesal Adelia mencebik.


Raka memulai ceritanya, pikirannya menerawang jauh di mana pada saat itu dirinya diundang oleh salah satu temannya untuk berkumpul dengan sebuah acara reuni, reuni yang hanya dihadiri geng-geng tertentu. Pada awalnya Nara menghadiri acara itu karena ajakan salah satu teman lelakinya.


Tidak ada yang aneh dengan acara reuni, acara anak muda party kecil-kecilan membahas hal-hal yang tidak penting, mereka bercanda tawa lalu terjadilah kecelakaan mereka tidur bersama. Nara dan juga temannya karena saat itu sama-sama mabuk.


Raka juga terkejut ia mengira bahwa ia telah meniduri Nara, ternyata setelah beberapa tahun Raka baru mengetahui jika dirinya dijebak dan semua itu atas ide dari Nara.


Ini membuat Raka murka hingga pada awalnya Raka masih memberikan maklum pada Nara, karena dirinya telah ditinggalkan oleh Adelia tapi makin ke sini karena El membutuhkan sosok seorang ibu dan mendapatkan kejutan baru dalam hidupnya membuat Raka harus mengeluarkan Nara dalam rumahnya.


"Memangnya dulu dia itu perempuan seperti apa hingga dia menjadi sahabatmu? aku rasa dia itu perempuan yang congkak, arogan dan juga sangat serakah. Dia pantas mendapatkan ganjarannya atas semua ini." kata rakat di akhir ceritanya Adelia mendengarkan dengan seksama.


Tetapi Raka belum menceritakan kejadian di mana dirinya bisa menikah dengan Adelia. Semua atas campur tangan saudara sepupunya Nita yang mencintai Ivan.


"Honey kenapa kau diam saja sejak tadi? aku sudah bercerita panjang lebar, sekarang giliranku mendapatkan upahnya. Dan setelah ini aku akan memintanya jika kau sudah sembuh." kata Raka tersenyum smirk.


"Senyummu terlihat menakutkan tuan, aku rasa semuanya sudah kau miliki, tidak ada yang istimewa dariku jadi kau tidak perlu meminta apapun dariku." potong Adelia datar.


"Benarkah? ah Aku sangat menyesal telah bercerita dengan sia-sia tanpa mendapatkan imbalan yang pantas."


Raka pura-pura memelaskan wajahnya, hal itu malah terlihat lucu di mata Adelia. Padahal Raka terlihat garang di mata bawahannya. Karena sejatinya Raka pemimpin yang sangat berwibawa, jarang tersenyum jika berada dengan karyawannya di kantor atau dengan siapapun. Terlebih lagi rival bisnisnya.


"Baiklah kau meminta hadiah apa? jika aku bisa aku akan mengabulkannya."


"Benarkah honey? oh aku sangat senang mendengarnya."


sepertinya Adelia sudah masuk dalam jebakan Raka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2