Married For Pellets

Married For Pellets
Pulang


__ADS_3

"Mama..." teriak Adelia mencari sang ibu mertua.


"Sayang, kapan datang." Ibu mertua langsung menghentikan kegiatannya begitu tahu kala menantu dan anaknya datang.


Mereka berpelukan layaknya seorang ibu dan anak yang sudah lama berpisah dan saling merindukan. "Mama ini untuk mama." memberikan hadiah berupa tas mahal yang ia pilih khusus untuk ibu mertuanya.


"Sayang seharusnya tidak perlu repot repot begini kan."


"Ah tidak apa ma, lagian aku juga senang melakukannya."


"Aku hanya ingin memberikan mama oleh oleh saja sebagai kenang kenangan untuk mama."


Ibu Raka menerima dengan senang hati,"Boleh mama buka sayang?"


"Tentu saja boleh ma."


"Wahhhh tas, ini limited edition loh sayang, sudah lama mama ingin model seperti ini."


"Kalau begitu aku tidak salah pilihkan ma." ujar Adelia dengan perasaan bahagia.


"Tentu saja sayang."


Raka melihat ibu dan istrinya bisa curcol begitu menggelengkan kepalanya. "Sayang kamu pasti capek, ayo masuklah ke kamar dulu."


"Ck pelit sekali, padahal mama hanya pinjam istrimu sebentar."


"Dia baru saja datang ma, biarkan dia membersihkan diri dulu."


"Hemmm baiklah ma, tak apa kan kalau aku masuk kamar dulu."


"Baiklah baik, sana bersihkan dulu diri kalian, mama tunggu dimeja makan setengah jam lagi iya."


Perkataan ibu mertuanya Adelia baru saja tidak langsung ia jawab, namun mengangkat salah satu jempol tangannya. dan berjalan mengikuti arah suaminya.


"Hahhhh capeknya." merebahkan dirinya diatas ranjang king size milik suaminya.


Raka membiarkan istrinya terlelap dalam mimpinya, ia begitu tidak tega jika harus membangunkan Adelia.


"Loh kamu kok turun sendiri, mana menantu mama?" tanya ibunya Raka.


"Dia kelelahan ma, sedang tidur dikamar."


"Aku tak tega jika harus membangunkannya."


"Hah baiklah, padahal mama sudah memasak makanan banyak juga nih."


"Tak apa ma, kan ada aku." ucap Raka membesarkan hati mamanya.

__ADS_1


"Hah kamu tuhhh apa saja juga mau."


Adelia ketiduran hingga malam, bangun bangun ketika perutnya terasa keroncongan, "Jam berapa ini?" mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan cahaya lampu kamar yang temaram.


Ini sepertinya kedua kalinya dirinya memasuki kamar Raka, yang pertama saat setelah menikah, itu pun hanya semalam dan belum sempat menjelajah seluruh isi kamar suaminya.


Kakinya turun dari ranjang dan perlahan berjalan ke kamar mandi, tidak lama hanya beberapa menit saja. Ia menoleh kesana dan kemari, seperti maling takut ketahuan pemiliknya.


"Dia begitu rapi." kala Adelia membuka laci dan melihat deretan jam tangan limited edition, kemudian membuka lemari pakaian, yang didalamnya terdapat kemeja berderet rapi, membuka lagi lemari sebelahnya yang isinya kaos kaos bermerk. Dari brand ternama.


Semua lemari pakaian sudah ia buka, masih tersisa satu lagi yang belum ia buka, pintunya berjajar dua. Tangannya sudah gatal dan rasa penasaran ini bekum terobati jika belum mengetahui isinya, ketika dibuka alangkah terkejutnya Adelia yang ternyata isinya gaun gaun yang panjangnya sebatas lutut, berbagai bentuk dan warna, di sebelahnya lagi isinya lingerie yang masih ada bandrol harganya.


"Baju apaan ini, kenapa baju kekurangan bahan ada disini juga." ternyata pakaian untuknya juga sudah tersedia juga.


"Seleranya bagus juga."


"Mana semua masih ada cap harganya gini lagi." Adelia mengambil satu dan menempelkan pada tubuhnya, lalu mengenakan gaun sebatas lutut berwarna peach, sangat cocok dan pas dengan bentuk tubuhnya.


"Laci lacinya tadi kan belum aku buka semuanya."


Adelia yang penasarannya memuncak itu membuka laci satu persatu, tidak ada yang menarik, isinya sama, yaitu jam tangan Raka.


"Apaan ini?" Adelia begitu terkejut ketika menemui foto Vera teman sekelasnya bahkan sahabatnya.


"Bukankah ini foto Vera?"


Seketika detak jantung Adelia bekerja lebih cepat, kedua tangannya dingin, kakinya bahkan melemas. Ia sepertinya tidak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri.


Hingga terdengar derap langkah kaki, ia cepat cepat memasukkan kembali foto foto itu ditempatnya semula, lalu berusaha menetralkan detak jantungnya yang tadi sempat berantakan.


"Sayang..."


"Sayang...., apa kamu mandi?" panggil Raka mencari cari Adelia.


"Iya aku baru saja mandi dan ganti baju." setelah menguasai dirinya barulah Adelia berjalan keluar dari ruangan khusus itu.


"Ini makanlah, tadi kamu dua kali melewatkan makan siang dan makan malam."


"Ehmmm." jawab Adelia terdengar malas.


Untuk saat ini ingin sekali dirinya tenggelam dan menghilang saja dari dasar laut, agar tidak bertemu siapa pun.


"Kenapa? apa kamu sakit?" tanya Raka berdiri dan tangannya terulur memegang kening Adelia.


Adelia reflek menepis tangan Raka. "Aku tidak apa apa."


"Baiklah, kalau begitu makan iya, ini tadi mama masak lagi sore tadi khusus untukmu, dikiranya kamu bangun ketika jam makan malam."

__ADS_1


"Makanya mama sisihkan buat menantu kesayangannya."


"Ehhmm seharusnya mama tidak perlu repot repot begini." jawab Adelia terdengar dingin.


"Tidak juga, dia melakukannya dengan senang hati."


"Lagian apa kamu sebegitu capeknya, hingga tidurmu nyenyak sekali." Raka mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah istrinya.


Saat ini Adelia duduk di sofa panjang, dan memakan apa yang tadi dibawa oleh Raka. Mati matian ia menelan makanan yang ada ditangannya, setelah melihat foto foto tadi.


Pikirannya berusaha menepis, ah mungkin juga Raka tidak sengaja menyimpan, tapi setahunya Vera tidak pernah punya hubungan dengannya.


Tapi kenapa hatinya terasa nyeri dan begitu ngilu jika mengingat foto Vera. Ah tidak mungkin jika kebetulan, karena foto tadi diambil dari berbagai macam gaya dan juga tempat, sepertinya Raka sengaja.


"Sudah," meletakkan kembali piring yang hanya tersisa setengahnya itu.


"Kenapa makanmu sedikit sekali, sini biar aku yang suapi."


"Tidak mau aku sudah kenyang," tolak Adelia malas.


"Aku tidak percaya, mama nanti akan kecewa jika masakannya tidak dihabiskan oleh menantu kesayangannya."


Raka setengah memaksa untuk menghabiskan makanan buatan mamanya itu, dengan terpaksa Adelia menerima suapan demi suapan dari tangan Raka, agar tak membuat ibu mertuanya kecewa.


"Kenapa melamun sayang, apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"


"Tidak, aku hanya memikirkan setelah ini aku mau ngapain."


"Tidak usah ngapa-ngapain, kamu cukup duduk diam saja, biar aku yang bekerja."


"Tapi aku ingin bekerja,"


"Nanti dulu, nikmati saja waktumu dirumah."


"Kamu pasti capek kan sehabis bulan madu."


"Tapi nanti aku boleh bekerja kan."


"Iyahh tapi tidak janji."


Hal itu membuat Adelia sangat kesal. "Besuk aku mau kerumah bunda."


"Ehmmm aku antar, tidak ada penolakan."


"Tapi aku mau mampir kerumah Vera." Adelia menekan kata katanya, ia ingin melihat bagaimana reaksi suaminya kala dirinya menyebutkan nama itu.


"Baiklah, besuk aku akan cuti sehari lagi, aku akan menjadi sopir istriku kemana pun ia pergi."

__ADS_1


"Berarti fiks memang dia naksir Vera." batin Adelia, berusaha menekan hatinya agar tak terbakar api cemburu.


__ADS_2