Married For Pellets

Married For Pellets
Makan Ramyun


__ADS_3

"Kepala Jo kemarilah." panggil Raka melambaikan tangannya.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala pelayan Jo, berjalan setengah berlari menghampiri Raka.


"Apa ada buah Peach di lemari pendingin?"


"Sebentar tuan biar saya cek dulu, silahkan anda duduk dulu tuan." kata kepala pelayan Jo.


Tanpa menjawab Raka menarik salah satu kursi yang berada di meja makan, menunggu kepala pelayan Jo untuk mencarikan buah Peach seperti yang di inginkan Adelia.


"Ini tuan masih baru, kemasannya juga masih rapi." kata kepala pelayan Jo, menunjukkan packaging buah Peach pada Raka.


"Ehhmm ya, kalau begitu taruh dipiring saji, aku akan membawanya ke lantai atas."


"Baiklah tuan."


Kepala pelayan Jo membuka dan mencuci buah Peach yang tadi ia temukan di lemari pendingin. Tanpa ia bertanya pastilah tahu buah siapa buah ini.


Untung saja dirinya selalu menyetok aneka jenis buah buahan segar dan juga sayur sayuran di lemari pendingin. Jika ada tamu tidak kelabakan untuk mencari diluar.


Tidak berapa lama kepala pelayan Jo membawa nampan yang berisi piring saji, diatasnya terdapat berbagai macam buah Peach, lengkap dengan pisaunya.


"Ini tuan."


"Hemmm."


Raka mengambil dari tangan kepala pelayan Jo, lalu membawanya ke lantai atas dan memberikannya pada Adelia. Sesuai permintaan Adelia.


"Ini buah yang kau minta tadi."


"Aku sudah tidak ingin." jawab Adelia tanpa perasaan bersalah.


Membuat Raka menahan emosinya, untuk berkata kata yang tidak tidak. "Sekarang aku menginginkan yang lain, karena udara di luar sangat sejuk," kata Adelia, dirinya bangun dari tidurannya. Lalu menarik selimutnya sebatas dada.


Adelia membuka gorden, dan melihat ke arah luar jendela, lalu, melirik Raka, seketika ide cemerlang terlintas diotaknya.


"Apa?" tanya Raka, kemudian dirinya mendudukkan tubuhnya di bibir ranjang.


"Apa semua ibu hamil seperti ini, membuat orang kesal, baru saja beberapa detik yang lalu ingin makan buah Peach, dan sekarang katanya sudah tidak ingin." batin Raka.


"Apa dia berniat mengerjaiku." Raka berperang dengan batinnya.


"Jangan melihatku seperti itu, ini anak kamu sendiri yang meminta, bukan keinginan aku." kata Adelia beralibi.


"Memangnya dia menginginkan apa?" tanya Raka datar, tangannya terulur menyentuh perut buncit Adelia, padahal baru delapan bulan, tetapi sudah terlihat seperti sembilan bulan.

__ADS_1


"Auuhhh perutku," keluh Adelia, memegang perutnya yang terasa menendang nendang.


"Kenapa dia, apa dia sering berulah seperti ini, membuatmu kesakitan seperti ini?" tanya Raka khawatir.


"Tidak, kata dokter Yuki ini wajar, jadi tidak sakit sama sekali." kata Adelia menjelaskan pada Raka.


" Benarkah ini tidak sakit?" tanya Raka. Kini dirinya malah menurunkan kepalanya. Dan cuppp..


Satu kecupan mendarat di perut Adelia, membuat hatinya menghangat, untuk sesaat dia ingin melupakan persoalan perselingkuhan suaminya. Ingin menikmati kebersamaannya dengan Raka.


"Sayangnya Daddy, jangan nakal iya di dalam sana, apa kamu sudah ingin bertemu Mommy dan Daddy."


"Jangan membuat Mommy merasa kesakitan, kau tahu kalau setiap kali Mommy merasa kesakitan, Daddy merasa tidak tenang dan sangat khawatir." bisik Raka di perut Adelia. Yang anehnya seketika itu langsung terdiam perut Adelia.


"Anak yang pintar." kata Raka.


Krukkkk krukk


Suara perut Adelia terdengar alarm meminta di isi oleh empunya, "Kamu lapar?"


"Sebentar aku akan memberitahu asisten Jo."


"Tidak, jangan jangan." kata Adelia mencegah pergerakan Raka.


"Kenapa?"


Terlihat Adelia mengeluarkan bulir air matanya akibat merasa tidak dianggap pendapatnya. "Kenapa malah menangis?"


"Aku bukannya tidak mau makan?"


"Lalu?" tanya Raka, menaikkan sebelah alisnya.


"Aku ingin makan Ramyun, dan yang masak harus kamu." kata Adelia. Dengan nafas tersengal sengal karena dirinya menangis.


"Hah, baiklah tunggu dulu." kata Raka mulai bangkit dari duduknya.


"Jangan lama lama." teriak Adelia yang melihat Raka sudah lebih dulu berjalan keluar dari kamar mewahnya.


"Oh Tuhan, sepertinya ibunya sedang balas dendam padaku." gumam Raka, menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar.


Begitu dirinya sampai di pantri, Raka bingung harus memulai memasaknya dari mana. Ia masih mengelilingi dapur, berjalan ke sana kemari, lalu membuka lemari pendingin. Mencari bahan bahan yang menurutnya bergizi.


Ramyun adalah hidangan mi kuah ala Korea. Ramyun dapat dibuat dari mi basah atau mi instan. Beberapa merek ramyun instan selain dikonsumsi di Korea Selatan, ada juga yang diekspor ke luar negeri, seperti ke Tiongkok, Hong Kong, Makau, Jepang, dan Indonesia. Ramyun Korea umumnya bercita rasa pedas.


Untung saja Raka memiliki teman yang berasal dari Korea dulu, sewaktu dirinya masih kuliah di Jerman. Sehingga dengan bekal mengingat ingat saja dia bisa meraciknya dengan tepat.

__ADS_1


Kali ini Raka membuat Ramyun dengan mie basah, di tambahkan jamur enoki, jamur kancing, sawi sendok, gurita, kepiting. Jadilah cita rasa yang pas Ramyun yang Raka buat.


"Kepala Jo, sini." panggil Raka.


"Saya tuan?" tanya kepala pelayan Jo pada Raka yang saat itu sedang melintas dapur.


"Tentu saja kamu, memangnya siapa lagi." jawab Raka datar.


"Ada apa tuan?"


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala pelayan Jo pada Raka.


"Coba kau cicipi masakan buatanku ini, apakah rasanya enak atau tidak? jika tidak akan aku buang saja."


"Baiklah tuan." kata kepala pelayan Jo. Lalu mencicipinya sedikit.


Dan membuat kepala pelayan Jo terdiam beberapa saat. "Bagaimana? apa tidak enak?" tanya Raka.


Kepala pelayan Jo masih tidak menjawab. "Baiklah kalau begitu biar aku buang saja dan kau bangunkan chef untuk membuat yang baru lagi." kata Raka yang sudah mengangkat piringnya.


"Tidak tuan, tunggu,"


"Kenapa?" tanya Raka.


"Ini sangat enak menurut lidah saya,"


"Kamu bicara jujur atau hanya ingin menyenangkan aku saja?"


"Jika hanya ingin menyenangkan aku saja sebaiknya lupakan." kata Raka.


"Bukan tuan, sungguh ini sangat enak, untuk ukuran anda yang baru kali ini memasak."


Raka terdiam, mengamati manik kepala pelayan Jo, mencari kebohongan disana, dan ternyata tidak menemukan kebohongan disana.


"Ini untuk istriku, jadi aku pastikan dulu orang lain mencicipi dan menilai masakanku, aku tidak ingin nanti anakku dan juga istriku kenapa kenapa." kata Raka.


Lalu dirinya mengambil mangkuk saji untuk menuang masakanannya, Ramyun dengan aneka topping di dalamnya.


"Satu lagi, aku harus membawakan buah buahan, nanti kamu yang antarkan ke atas."


"Aku tak bisa membawanya, kau mengerti?"


"Baik tuan, sesuai perintah anda." kata pelayan Jo mengangguk hormat.


"Tuan Raka seperti sedang kasmaran saja dengan istrinya." gumam pelayan Jo menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Lalu melakukan seperti apa yang diperintahkan Raka tadi. Memotong buah buahan dan menyajikan sedemikian rupa, agar terlihat menarik.


"Sayang ini Ramyun yang kau minta." kata Raka, begitu pintu terbuka lebar. Muncul wajah Raka membawa nampan berisi Ramyun yang di sajikan di mangkuk.


__ADS_2