
"Bagaimana sudah?" tanya Raka pada Adelia.
Padahal tadi Adelia sempat menyadap ponsel suaminya ketika Raka sempat memejamkan matanya. Lalu Adelia dengan degup jantungnya yang tak karuan memberanikan diri untuk melakukan Scan pascode di ponsel pintar Raka.
"Sudah kak ini ponsel kakak." memberikan kembali ponsel Raka.
"Taruh saja meja." kata Raka.
Adelia menuruti apa yang diperintahkan suaminya. Semenjak mengetahui saru fakta yang disimpan oleh suaminya, Adelia semakin malas bertatap muka dengan Raka. Ingin sekali ia berpisah dari Raka sekarang juga. Tapi dia belum menemukan alasannya.
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa satu bulan sudah Adelia menjadi istrinya Raka, kini mereka sudah pindah ke Jerman untuk menjalani usaha Raka.
Selama itu pulan tak ada hal yang mencurigakan bagi Adelia pada Raka. "Kak besuk sarapan paginya sudah aku pesankan lewat online kak, karena aku ada meeting dikantor aku." kata Adelia pada suaminya.
"Hemmm."
"Kenapa jawabannya cuman hemmm saja."
"Lalu kakak harus menjawab apa?" tanya Raka, lalu beralih menatap wajah istrinya setelah dirinya meletakkan ponsel ditangannya keatas meja.
"Jawab apa gitu kek selain hemmm aja gitu."
"Baiklah sayang, iya." ucapan Raka begitu mengerti akan keadaan istrinya. Jika sedang sensi begini tandanya mau dapat.
"Ini bahkan sudah satu bulan, tapi kenapa iya kak Raka kok tidak pernah lagi mengajak begituan." batin Adel. Seketika hal hal buruk mulai bermunculan dalam ingatannya.
Adel tidur dengan posisi membelakangi suaminya, ia kesal sekali, lantaran suaminya ini entah begitu sibuk atau karena ada wanita idaman lain selain dirinya.
Pagi hari, Adelia begiti sibuk menyiapkan pakaian kerja suaminya dan juga untuk dirinya, hari ini Adel harus berangkat pagi, karena ada meeting, supaya tidak terlambat Adek pergi dengan mobilnya sendiri dan Raka menggunakan mobilnya sendiri.
Begitu telah sampai dikantor ia langsung berpindah mobil dengan rekan kerjanya sekantor. Karena meeting akan dilakukan dihotel X, sehingga perlu menempuh perjalanan sekitar satu jam kurang lebih.
"Nona Adel apa anda sudah sarapan?" tanya rekan kerjanya, sambil menyodorkan roti ditangannya ke arah Adel.
Mereka pergi sekitar tiga orang termasuk Adel. "Ah iya belum karena tadi saya terburu buru takut terlambat."
"Terimalah nona, ini aku ikhlas memberinya." ucap si pemberi.
__ADS_1
Lalu dengan terpaksa Adel menerima roti ditangan rekan kerjanya dan melahapnya. "Ahhh sudah sampai, cepat sekali."
Mereka keluar dari mobil dan berjalan beriring iringan, dua perempuan dan satu orang laki laki, jika dilihat seperti memiliki dua orang istri memang.
Adel berjalan santai, berada diposisi paling belakang, namun sekilas matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
Adelia semakin menajamkan penglihatannya, ia benar jika dua orang yang berjalan memasuki Hotel tersebut tak lain dan tak bukan ialah Vera dan juga suaminya.
Hal ini membuat lutut Adel melemas, detak jantung berdebar tidak karuan, bukan berdebar karena jatuh cinta lagi, berdebar lantaran ingin menonjok seseorang.
Adel terus mengawasi pergerakan mereka berdua, berjalan kemana. Mereka memasuki lift menuju lantai tujuh. Adel dan kawan kawannya memasuki lift sebelahnya lagi. Entah kenapa kali ini Adel seperti diperlihatkan kelakuan buruk suaminya.
Adel rapat berada di lantai tujuh juga, dihalaman luas balkon. Adel hanya melihat apa yang akan mereka lakukan. Sepanjang ia rapat, Adel begitu tidak bisa fokus membahas hal hal penting dalam rapat ini. Lantaran fisiknya dimana pikirannya dimana.
Rapat berlangsung selama tiga jam, beberapa kali Adel melihat jam dipergelangan tangannya. "Nona Adel bagaimana apakah setuju?"
Yang dipanggil malah diam saja tidak merespon, "Nona Adel bagaimana?"
Hingga panggilan yang kedua kalinya barulah Adel merespon. "Ah iya iya aku setuju saja." kata Adek padahal ia tidak begitu mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Lalu dilanjutkan acara makan siang, rencananya, tetapi sepertinya klien mereka sedang terburu buru sehingga acara itu dibatalkan.
"Oh iya aku mau ijin kebelakang duluan iya." kata Adel pada mereka berdua.
Adel begitu tertutup mengenai masalah hidupnya, ia tidak pernah menceritakan bagaimana kehidupan pribadinya kepada teman temannya sekantor, sehingga mereka mengira jika Adel masih singel dan belum menikah. Hal itu membuatnya sering digoda lelaki disana, sesama rekan kerjanya.
Adelia berjalan menjauh menuju dimana tempat suami dan juga sahabatnya berada, ia menguatkan hati, agar tidak oleng ketika menghadapi mereka berdua.
Tok tok..
Tangannya perlahan mengangkat mengetuk pintu begitu saja. Padahal Adelia pasti tahu apa yang dilakukan oleh dua orang laki laki dan perempuan didalam sebuah kamar.
"Kak...." Suara Adelia tercekat ditenggorokannya, ternyata benar dugaannya selama ini.
"Siapa sayang," teriak seseorang dari belakangnya, siapa lagi jika bukan Vera.
"Siapa itu kak?" tanya Adelia pura pura tidak tahu, pandangannya dihalangi oleh tubuh kekar Raka, sehingga tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada dibelakangnya.
__ADS_1
Sama Vera pun juga penasaran siapa yang telah ditemui oleh Raka. Lalu Vera bergegas turun dari tempat tidurnya dengan menggunakan lingerie seksi.
Berjalan kearah dimana suaminya berada. "Aa...Adel." suara Vera tergagap.
Ia begitu syok mendapati Adelia dihadapannya. "Iya ini aku Ver kenapa?"
"Jadi kalian berdua sudah mengkhianatiku."
"Adel ini tidak seperti yang kamu lihat." kata Vera.
"Apa masih kurang jelas dengan yang aku lihat, aku rasa mataku tidak buta, jadi sudah jelas semuanya kan."
"Sekarang keputusan ada ditangan kakak, pilih aku atau dia?" tanya Adelia berusaha tenang.
Raka tak bergeming ditempatnya, ia tidak bisa meninggalkan Vera begiti saja, lantaran Vera saat ini sedang mengandung buah hatinya.
"Baiklah sudah jelas sekarang, dari jawaban kakak."
"Aku artikan jika kakak telah memilihnya, jadi aku akan mundur."
Adelia beralih menatap Vera, berusaha sekuat tenaga menahan isak tangisnya. "Selamat kamulah yang jadi pemenangnya."
Lalu Adelia mundur beberapa langkah dan berjalan lebih cepat untuk keluar dari sana. "Sayang tunggu Adel..." teriak Raka pada Adelia.
Namun tidak di gubris sama sekaki oleh Adelia. Adelia turun ke lantai dasar. Untung saja ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Adelia langsung masuk begitu saja. Mana Raka yang mengejar dirinya tidak membawa apa apa termasuk kontak mobilnya.
Raka begiti frustasi, ia mengira jika belangnya tidak akan ketahuan oleh Adelia istrinya secepat ini. Tapi apa bahkan baru saja satu bulan pernikahan, sudah berada diambang kehancuran. Rumah tangga yang baru saja akan mereka rajut, ia sendiri yang telah membuatnya hancur.
Raka kembali, dan terdiam. "Kak bagaimana Adelia?" tanya Vera melemahkan suaranya.
"Dia pergi meninggalkanku."
"Sudahlah kamu tidurlah, itu biar menjadi urusanku,"
"Nanti kamu kenapa kenapa dengan janinmu."
Sebulan sebelum Raka menikah dengan Adelia, ia telah melakukan party, dan berakhir mabuk. Hingga tak sengaja meniduri Vera sahabat Adelia. Sehari setelah pernikahan terjadi Mereka melakukan pernikahan. Ketika Raka mendapatkan telepon dari Vera. Yang kebetulan Adelia masih berada dirumahnya.
__ADS_1