Married For Pellets

Married For Pellets
Adel bertemu teman baru


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Vera menahan langkah kaki Raka yang akan berjalan keluar apartemen nya.


Iya saat ini Vera tinggal di sebuah apartemen mewah di pusat kota Kyoto. Mereka baru saja melangsungkan bulan madu mewah di Paris selama satu minggu. Dengan fasilitas yang sangat lengkap dan nyaman untuk ditinggali.


Raka baru saja mengenakan pakaiannya, setelah selesai membersihkan diri dari kegiatannya bersama Vera semalaman. Saat ini tubuh atletisnya sudah berbalut kemeja berwarna navy di padukan dasi bermotif dengan warna senada di balut dengan jas berwarna hitam, menambah kesan tampannya bertambah dua kali lipat.


"Aku ada meeting di kantor." jawab Raka sekenanya.


"Tapi nanti pulang kan?" tanya Vera, beranjak dari tempat tidurnya dengan rasa malas, dan berjalan mendekati Raka, lalu kedua tangannya merayap ke dada bidang Raka dengan gerakan merayap. Membuat hasrat Raka kian memuncak.


"Belum tahu, aku tidak janji."


"Pulanglah aku menunggu mu untuk makan malam nanti." kata Vera. Melepaskan diri dari suaminya.


Sekelebat teringat akan bayangan Adelia, ah bagaimana kabarnya Adelia sekarang, dalam hatinya Raka bermonolog. Selama satu minggu tidak bertemu Raka seperti melupakan akan keadaan istrinya. Dan perhatian nya lebih condong ke Vera.


"Apa kamu sedang memikirkan istri kurusmu itu?" tanya Vera masih bergelayut manja di lengan Raka.


"Jaga bicaramu." bentak Raka pada Vera.


"Kenapa memangnya, bukankah benar apa yang aku bicarakan ini kenyataan." jawab Vera berapi api. Ia seolah sedang menabuh gendang peperangan.


"Bukan begitu, kamu sedang mengandung anakku, tidak seharusnya bicaramu itu sembarangan."


"Lagi pula aku tidak mau ketika anakku lahir nanti memiliki sifat kasar dan perilaku yang kurang baik." kata Raka sedikit menyindir.


"Kau menyindirku?" Vera mendongak, matanya menatap tajam Raka.


Tapi ternyata Raka lebih fokus membenahi kerah bajunya dari pada harus meladeni Vera. Tak akan ada habisnya jika dirinya berdebat dengan Vera, lebih baik segera berbenah dan keluar dari ruangan yang membuatnya engap ini.


***


Udara pagi sangat sejuk dan baik untuk kesehatan, apa lagi di Kyoto tak ada kendaraan mesin lewat. Hanya sepeda pancal yang menjadi alat transportasi mereka jika kemanapun ingin pergi.

__ADS_1


Kalaupun ada kendaraan mesin hanya beberapa saja dan itupun orang-orang penting yang benar-benar membutuhkan alat transportasi darat.


Adelia sedang berjalan-jalan menggunakan transportasi sepeda pancal dan menghirup sejuknya udara pagi hari.


Bunga-bunga banyak yang bermekaran dengan sangat indah di sepanjang jalan kota Kyoto. Kyoto memang kota impiannya sejak ia kecil. Karena dulu memang ia pernah berkunjung kemari sewaktu menjadi murid sekolah dasar.


Waktu di sekolahannya mengadakan studi banding bersama teman-teman satu kelasnya. Ia masih ingat betul waktu itu dirinya di tolong oleh lelaki yang menurutnya sangat tampan. Ketika dirinya tersesat.


Lelaki itu menyodorkan sebotol minuman dan mengantarkan nya kembali pada teman-temannya. "Gelang ini." lirih Adelia pelan. Adelia merasa lelah dan tubuhnya sepertinya membutuhkan waktu istirahat. Adelia duduk di kursi taman sepanjang jalan itu. Membuka kembali dompet di dalam tasnya yang selalu ia bawa kemana pun pergi.


Gelang yang ada ditangannya ini memang biasa saja, tetapi sangat klasik jika diamati lebih dalam lagi. Dan hanya dua di dunia ini. Karena memang limited edition. Hanya perusahaan tertentu yang memiliki hak paten.


"Pasti kamu sekarang sudah menjadi orang yang sukses, dan tampan."


"Bagaimana kabar kamu sekarang." lirih Adelia, berbicara pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba berdiri seseorang menyodorkan tisu padanya, hanya untuk mengusap air matanya.


"Jangan banyak prihatin nona, jika anak anda nanti ketika lahir tak mau ikutan prihatin." ucap Icha yang saat itu sedang bermain sepeda.


"Ah iya, aku rasa aku tak berhak tahu apapun itu, apalagi kita ini tidak saling mengenal satu sama lain."


Icha lalu berdiri dari hadapan Adelia, berniat akan meneruskan perjalanannya kembali. Namun dicegah oleh Adelia.


"Tunggu nona."


Icha berhenti, terdiam ditempatnya, menunggu reaksi dari Adelia. "Ini punya anda?" kata Adelia mengembalikan sisa tisu nya pada Icha.


"Ah aku kira apa, sepertinya anda lebih membutuhkan itu nona." jawab Icha.


"Ahhh auhhh." rintih Adelia sembari memegang perut buncitnya.


Yah karena insiden ini membuat Icha terhenti, dan menemani Adelia barang sejenak. Untuk memastikan keadaan Adelia baik-baik saja. Icha berniat membantu menghubungi suami Adelia, namun Adelia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada yang peduli lagi denganku. Bahkan kedua orang tuaku juga tidak pernah menghubungi ku, suami."


"Iya nona, dimanakah suami anda, kenapa membiarkan anda jalan-jalan seorang diri seperti ini? apa tidak khawatir terjadi sesuatu dengan bayinya?" tanya Icha bertubi-tubi.


"Sedang bulan madu dengan istri keduanya nona."


Icha terdiam seketika, mencerna setiap ucapan Adelia baru saja. Bahkan wanita ini mengeluhkan kedua orangtuanya saja juga tidak mempedulikan dirinya.


"Ah aku rasa aku harus berterima dengan anda nona." ucap Adelia. Ia tidak mau jika dirinya dikasihani oleh siapa pun.


"Ah jangan memanggilku nona lagi, panggil saja aku Icha," ucap Icha baru saja. Icha berjalan mengambil sesuatu yang ada di keranjang sepedanya.


"Minumlah ini, sepertinya ini jauh dari pertokoan." kata Icha menyodorkan minuman air mineral pada Adelia.


"Ah terimakasih nona, anda banyak menolongku dalam waktu yang bersamaan." kata Adelia.


"Tapi anda belum menjawab pertanyaanku nona? dan jangan panggil aku nona, panggil saja aku Icha."


"Icha." Adelia membeo.


Sepertinya Adelia memiliki sedikit kecocokan dengan Icha, yaitu menyukai kota Kyoto, dan menyukai bunga sakura. Mereka berbincang banyak hal, mulai dari makanan kesukaan, hobi hingga tempat-tempat yang menjadi favorit keduanya.


"Aku memiliki kebun bunga, jika ada waktu lagi aku akan mengajak mu bermain di kebun bungaku." ucap Icha dengan bersemangat.


"Ah iya, andai saja aku belum menikah, pasti aku bisa bermain kemana saja yang aku inginkan." jawab Adelia, mukanya sedikit ditekuk. Seperti ada penyesalan terdalam.


"Aku rasa tak ada yang perlu di sesali Del, mungkin seperti inilah jalan takdirmu, hanya saja kedepannya yang harus di perbaiki." ungkap Icha memberikan semangat pada Adelia.


Padahal Icha sendiri juga memiliki masalah yang sama, yaitu suaminya yang sedang jalan dibelakangnya bersama teman dekatnya tanpa sepengetahuan darinya.


"Anak kamu ini laki-laki atau perempuan?" tanya Icha. Matanya beralih ke perut buncit Adelia.


"Laki-laki sepertinya."

__ADS_1


"Wahhh itu keren, kelak dia akan menjadi bodyguard mu di masa mendatang." jawab Icha antusias.


Mereka saling bertuka nomor ponsel. Dan bercerita banyak hal. Hingga menjalang sore. Bahkan Adelia juga menceritakan jika dirinya pernah bertemu lelaki yang menjadi dewa penolong nya disaat dirinya tersesat dimasa kecil.


__ADS_2