
Malam hari, mereka sedang melakukan makan malam romantis di restauran yang berada di sana, sebelumnya Raka sudah melakukan reservasi terlebih dahulu.
"Adelia." Panggil Raka pada istrinya.
"Ehm iya, apa?".
"Gantilah pakaianmu, kita akan makan malam di luar." Raka sudah bersiap untuk mengajak istrinya makan di luar dengan menggunakan celana pendek sebatas lutus dan kaos oblong santai, namun tak mengurangi kadar ketampanannya.
"Baiklah," Adelia berganti pakaian lalu setelah beberapa menit sudah menghampiri Raka yang sudah menunggunya.
"Aku sudah siap."
Raka yang sedang duduk santai, mendongak menatap wajah istrinya, menelisik penampilan Adelia dari atas kebawah.
"Kenapa kamu berpakaian seperti ini." Tanya Raka pada istrinya itu.
"Kenapa?".
"Pakaian ini terlalu terbuka."
"Tetapi tak apa, besuk-besuk lagi kalau aku mengajakmu keluar jangan memakai yang seperti ini ya." Raka.
"Baiklah aku akan memakai kardigan." Adelia berjalan mengambil kardigan lalu memakainya.
Raka sengaja mengajak istrinya untuk makan malam romantis di saat-saat seperti ini, supaya kenangan manis sepulang dari sini tetap mereka ingat.
Mereka berjalan beriringan menuju dimana restauran berada, di sana Raka memilih tempat duduk dipinggir, yang viewnya langsung mengarah keluar.
"Wahh pemandangannya di sini sangat indah sekali, aku tak menyangka jika dimalam hari akan seindah ini juga." Kata Adelia antusias.
"Iya aku sengaja memilih mengajakmu makan malam di sini, karena view nya sangat bagus."
Tak berapa lama pelayan datang membawa buku menu dan mencatat pesanan mereka. Lalu suami istri itu melanjutkan kembali obrolannya.
"Wahh kamu anda tuan Raka kan." Tiba-tiba saja ada perempuan cantik menghampiri mereka.
"Siapa ya, kenapa saya tak ingat." Ujar Raka terus terang.
"Saya Ivana desainer dari Jerman."
"Apa anda lupa tuan Raka, jika beberapa minggu yang lalu kami telah mengadakan kerjasama." Balasa Ivana menerangkan.
__ADS_1
Raka kembali mengingat-ingat pada masa minggu itu sebelum dirinya menikah mendadak.
"Ohh yang beberapa minggu lalu kita bertemu di cafe A kan." Raka.
"Iya anda benar tuan Raka, apa saya boleh bergabung bersama kalian."
Seketika itu Adelia terdiam, menyimak pembicaraan mereka yang saling menyahut satu sama lain, seolah mengabaikan keadaan Adelia yang berada di sana. Sepertinya Ivana juga sengaja untuk mendominasi pembicaraan ini.
"Wanita ini sepertinya sengaja mengalihkan perhatian kak Raka dariku." Begitulah batin Adelia bermonolog.
"Apa nona Ivana datang ke sini juga untuk berlibur?"
"Ehmm iya tuan Raka, anda benar."
"Lalu nona Ivana datang kesini sendirian atau bersama dengan kekasih, teman mungkin."
"Saya datang ke sini bersama teman perempuan saya tuan Raka."
Ivana sengaja tak bertanya balik pada Raka, karena sudah jelas di depannya telah duduk perempuan, sudah pasti Raka datang ke sini bersama dengan kekasihnya. Pikir Ivana berspekulasi sendiri.
Ivana ikut memesan makanannya, hal itu membuat Adelia sangat malas dengan perempuan di depannya ini yang mencari perhatian dari suaminya.
"Lalu dimana teman perempuan anda nona Ivana."
Raka mengangguk mengerti, namun ia baru ingat jika sejak tadi telah mengabaikan keberadaan istrinya.
"Sayang ini lauknya dimakan juga." Raka menunjukkan perhatian pada istrinya yang berubah air mukanya ini. Lalu berbisik pelan di telinga Adelia.
"Jangan cemberut, nanti aku akan menunjukkan kepadamu tempat yang sangat indah." Bujuknya pada istrinya.
Adelia hanya diam, pura-pura tak mendengar ucapan suaminya. Entahlah walaupun dirinya tak mencintai Raka sepenuhnya, tetapi Raka sekarang adalah suaminya, sehingga jika Raka berdekatan dengan pria lain tentu saja hal itu membuatnya sangat cemburu.
Ivana melihat ke arah Raka, hal itu terlihat sangat romantis dimatanya, sehingga menimbulkan rasa iri dihatinya dan berniat akan mendekati Raka lewat kerjasama yang mereka lakukan.
"Apa anda sudah lama tuan Raka berada di sini?"
"Ehmmm lumayan." Tanya Raka singkat.
Lalu mengambil makanan dengan sendoknya, dan menyuapkan pada istrinya dengan penuh hati-hati. Hal itu membuat Ivana sangat tak suka dengan perhatian Raka pada kekasihnya, pikirnya.
Ivana terus saja mengajak Raka mengobrol, namun sengaja tak mengajak Adelia berbicara sama sekali, hal itu menunjukkan jika Ivana tak menyukai Adelia.
__ADS_1
"Sayang aku sudah selesai." Adunya memotong pembicaraan mereka, sebagai sesama perempuan tentu saja hal ini sangat peka di hati Adelia.
"Baiklah ayo."
"Emm maafkan kami nona Ivana, kami harus pergi dulu bersama istri saya." Kata Raka pamit dari sana.
Hal itu tentu saja membuat Ivana terkejut, bagaimana tidak, memangnya kapan Raka menikah, karena yang ia tahu kemaren Raka masih singel, pengusaha muda yang masuk dalam nominasi sepuluh besar, masuk jajaran pengusaha dunia.
"Aku sangat tidak suka dengan perempuan tadi." Celetuk Adelia tiba-tiba.
"Kenapa?" Tanya Raka pada istrinya.
"Dia selalu mencari perhatianmu." Adelia mengeluarkan semua yang ada di dalam hatinya.
"Apa kalian melakukan hubungan kerjasama?" Tanya Adelia memandang wajah Raka.
"Ehmm iya, tetapi kami tidak bertemu berdua saja, tetapi ditemani oleh asistenku." Terangnya pada istrinya ini, dirinya seperti sedang kedapatan selingkuh saja. Sehingga membuatnya menjelaskan semuanya pada istrinya.
Raka malah tersenyum, menggenggam erat tangan istrinya, memasuki lift dan pergi ke suatu tempat.
Saat ini mereka berada di rooftoop restauran itu. Disana pemandangan terlihat sangat indah dan dapat melihat pemandangan.
Adelia tersenyum senang, di sana dirinya berdiri membelakangi suaminya, merasakan udara dingin di malam hari, untung saja tadi dirinya memakai kardigan, kalau tidak sudah pasti saat ini akan kedinginan terkena angin malam.
"Apa kamu menyukai tempat ini?" Tanya Raka memeluk istrinya dari belakang.
"Sangat." Jawab Adelia, menoleh ke arah suaminya.
Adelia sendiri pikirannya masih kosong, dia bingung terkadang ada yang seperti mengendalikan tubuhnya, terkadang juga seperti dirinya sendiri.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Raka pada istrinya.
Adelia menggelengkan kepalanya, jika efek dari pelet itu hilang, maka ingatannya adalah hal-hal tentang dirinya saat masih bersama dengan kekasihnya dulu Ivan.
Jika ingatan itu kembali, dirinya akan menjadi marah-marah tak jelas, bahkan bisa membanting barang apa saja yang ada di depannya. Berbeda dengan Raka jika ingatannya kembali tanpa efek pelet, dirinya lebih bisa mengontrol emosinya ketimbang istrinya.
Sepulang dari sini mungkin dirinya membutuh psikiater untuk menangani dirinya, dan menanyakan ha-hal yang berhubungan dengan dirinya.
Raka sendiri takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan, misalnya saja menyakiti Adelia misalnya. Karena dirinya akhir-akhir ini merasakan perubahan pada tubuhnya yang tiba-tiba, tetapi tidak tau apa itu.
"Apa jika aku memintamu menjauhi wanita tadi, apa kamu keberatan." Adelia terus terang saja tanpa basa basi pada suaminya.
__ADS_1
dan
Bersambung