
Terdengar samar samar suara tangisan ditelinga Raka, membuatnya ingin sekali membuka matanya, efek obat tidur telah membuatnya malas bangun.
Tetapi kesadarannya berangsur-angsur telah pulih, "Dimana aku?" memegang kepalanya sendiri, rasa pening masih terasa.
Kepalanya bahkan kini sudah diperban, "Adel .."panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kak Raka sudah bangun.." reflek memeluk erat suaminya.
Menangis tersedu-sedu, menumpahkan rasa gelisah didalam hatinya. "Maafkan aku kak, aku tidak..."
"Ssstttttt..." salah satu tangan Raka membungkam mulut Adelia, dengan jari telunjuknya.
"Aku tahu kamu tidak sengaja,"
"Jangan dibahas lagi, atau nanti akan membuatmu bersedih."
Mereka kembali terdiam cukup lama, larut dalam pikirannya masing masing. Hingga Raka akhirnya memecahkan keheningan.
"Apa kamu sudah makan siang?"
"Kenapa belum?" ketika Adelia menggelengkan kepalanya. Bagaimana aku bisa makan dengan tenang jika kakak saja masih belum aku ketahui kondisinya.
"Baiklah, karena sekarang aku baik baik saja, sekarang kamu juga makan iya." ujarnya lembut.
Lalu mereka makan saling suap menyuapi, dalam piring yang sama, karena ini rumah sakit VVIP, sehingga fasilitas didalamnya bagaikan dirumah sendiri, semuanya sudah tersedia dan jika ingin menu makanan yang lain tinggal request dengan chef nya.
Setelah Raka bangun kedua orang tua Adelia berpamitan pulang, memberikan ruang pada anak dan menantunya, agar lebih leluasa.
"Kapan aku boleh pulang?" tanyanya di sela sela obrolan ringan, Raka mengelap mulutnya dengan tisu.
"Kakak harus menginap disini satu malam."
"Tapi aku rasa baik baik saja."
"Kakak menurutlah, jangan membantah apa kata dokter, atau kakak tidak akan sembuh."
"Mana ada seperti itu?" melirik istrinya yang mencebik, membuatnya ingin mencium.
"Ada lah, kalau kakak tidak mau mendengarkan apa kata dokter." kata Adelia merapikan kembali ke tempat pengambilan piring kotor.
"Mau kemana?"
"Mau naruh piring kotor ini lah kak, nanti akan ada petugas yang mengambilnya."
"Kenapa kakak gelisah seperti itu?"
Tanya Adelia mengamati wajah suaminya yang sepertinya tidak nyaman. "Bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Apaan?" tanya Adelia.
"Naiklah kesini." menepuk tempat kosong disisinya.
"Kakak jangan konyol iya, ini dirumah sakit, jangan samakan dirumah," omelnya.
"Sayang, please, aku butuh asupan."
"Tadi kakak sudah makan banyak, butuh asupan apa lagi?"
__ADS_1
"Kalau mau buah biar aku kupaskan." Adelia menjangkau buah di meja yang tak jauh darinya.
"Bukan asupan itu maksudnya."
"Lalu asupan apa lagi?"
"Apa menginginkan jus buah, jus sayur, atau cemilan."
Raka menepuk jidatnya sendiri, "Kakak kalau bicara yang jelas, aku tidak mengerti apa yang kakak mau?" omelnya lagi.
"Sayang sini dulu biar aku kasih tahu."
"Memangnya harus iya? ngasih tahu dengan ikutan berbaring di brankar seperti itu?" tanya Adelia polos.
"Tentu saja." tatapan matanya mengerling manja. Seketika membuat Adelia tidak tega dan juga menuruti kemauan suaminya. Persetan dengan foto foto Vera yang ada dikamar suaminya, ia bersikap masa bodoh.
"Nah begini kan membuatku lebih baik." katanya, setelah Adelia menaiki tempat kosong disebelahnya, dan dirinya memeluk erat.
Mengendus aroma wangi strawberry khas parfum kesukaan Adelia. "Kenapa?"
"Apanya?" tanya Raka memejamkan matanya.
"Katanya kakak mau memberitahuku, asupan apa yang kakak butuhkan?"
"Ini asupannya." mencium bibir manis Adelia.
Membuat Adelia menegang, dan pikirannya menjadi mesum. Awalnya ia hanya diam saja, namun lama kelamaan ikut membalas ciuman suaminya, bahkan ia tidak mempedulikan tempat lagi.
"Ehmmmm permisi tuan dan nyonya." sapa dokter, seketika membuat Adelia reflek melompat kebawah.
"Sayang itu berbahaya, jangan melakukan hal yang membahayakanmu." mengamati istrinya ketika melakukan gerakan ekstrim tadi membuat jantungnya serasa mau copot.
"Bagaimana bisa dia bersikap biasa seperti itu, hah padahal aku sudah malu setengah mati juga." dalam hati Adelia bermonolog, bahkan kini wajahnya mungkin sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Maaf tuan dan nyonya, mengganggu waktunya, karena ini jadwal saya kunjung memeriksa pasien." ujar dokter setengah baya itu.
"Ehhhmmm iya dok, silahkan." memasang wajah termanisnya pada dokter, dan mempersilahkan memeriksa suaminya.
Berbeda dengan Raka yang kini wajahnya biasa biasa saja, tidak menampilkan rasa malu sama sekali, seperti tidak terjadi apa apa.
"Bagaimana tuan? apa yang anda rasakan?" tanya dokter memeriksa perkembangan pasiennya.
"Sudah tidak pusing lagi dok."
"Baiklah, tetapi anda tetap harus menginap satu malam tuan, untuk pemulihan,"
Dokter itu memberikan suntikan, obat anti nyeri, karena luka dikepala yang habis dijahit pasti akan terasa nyeri, dan supaya lukanya cepat kering. Setelah menjelaskan panjang lebar berpamitan keluar.
"Hah bagaimana bisa tidak merasa malu sama sekali." sindir Adelia, tangannya bersedakap didada.
"Kenapa malu?"
"Iya malu lah, pas lagi anuan tiba tiba ada dokter masuk lagi." kesal Adelia.
"Iya tinggal tutup aja mukanya kan beres." ucapnya tanpa dosa.
"Itu versi kamu,"
__ADS_1
***
.
.
.
"Kak itu anu."
"Kenapa lagi?" tanya Raka pada istrinya, saat ini pandangan katanya fokus pada ponsel ditangannya, tadi Adelia sempat menyuruh sopirnya untuk mengantarkan ponsel Raka.
"Aku perlu tidak? bilang sama mama dan papa?"
"Aku tidak berani menjelaskan hal ini pada mereka." ungkap Adelia meremas ujung bajunya.
Raka menghentikan kegiatannya, lalu menaruh ponsel yang ada ditangannya di atas meja disampingnya.
"Tak usah, lagian hanya luka kecil kan."
"Tapi aku takut kak jika nanti mereka akan menyalahkan aku."
"Tidak akan, aku sendiri yang akan menjelaskan, lagian suami kamu ini bukan anak kecil lagi yang butuh perlindungan kedua orang tuanya."
"Sini mendekatlah." memeluk tubuh dingin Adelia.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar dan teryata Vera datang sendirian dengan membawa buah tangan yang terlihat sebuah parsel ditangannya,"Vera kamu kesini?"
"Iya aku ingin menjenguk suami kamu,"
"Memangnya bagaimana kejadiannya?" tanya Vera yang mengekor dibelakang Adelia.
"Dia terjatuh." jawab Adelia singkat.
"Jatuh? bagaimana bisa terjatuh?"
"Ehhmm iya namanya juga kecelakaan kecil kan."
"Iya juga, tapi kan ada penyebabnya." cecar Adelia membuat Adelia sebal.
"Kamu tahu dari siapa jika suami aku dirumah sakit."
"Iya adalah, kalau bukan aku yang tau dari orang lain, mana pernah kamu mengabari aku." lalu tertawa centil yang sepertinya dibuat buat.
"Ck, jijik sekali aku." batin Adelia, semenjak melihat foto Vera dikamar suaminya itu membuat Adelia malas lagi jika harus berteman dengan Vera.
"Apa kamu tidak menyuruhku duduk?" tanya Vera.
"Oh iya maaf ya Ver, aku lupa, mari silahkan duduk."
"Ck, aku hanya bercanda, kenapa kamu serius sekali." Vera mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal.
"Hah mana ada, aku kam hanya lupa," jawab Adelia dongkol, namun Vera tidak begitu menyadari. Karena sudah menganggap Adelia seperti saudaranya sendiri.
"Kesini sendirian? naik apa?" tanya Adelia memperhatikan Vera bagaimana reaksi dua orang itu.
dan
__ADS_1
Bersambung