Married For Pellets

Married For Pellets
Kepanikan Nara


__ADS_3

Raka yang melihat Adelia makan yang begitu lahap membuat hatinya menghangat, ia merasa tidak sia-sia jika usahanya untuk memasak tadi adalah sebuah pengorbanan untuk istrinya yang sedang ingin memakan masakannya.


"Hati-hatilah jika makan, tidak akan ada orang yang merebutnya."


"Ehhmm ini sudah habis, tapi malam ini aku ingin kembali ke apartemen Nara."


"Tidak, aku tidak akan mengizinkanmu pergi dari rumah ini, badai salju sudah turun, kau tahu jika udara di luar sangat dingin, itu akan membahayakanmu dan juga calon anak kita." ucap Raka datar.


" Aku tidak peduli akan hal itu, pokoknya malam ini aku ingin kembali ke apartemen Nara."


" Adel." satu kata ucapan dari mulut Raka yang mampu membungkam Adelia yang sedang berontak.


Hingga membuatnya terdiam tak berkutik, sorot matanya melihat ke arah pandangan Raka yang ternyata memandangnya dengan pandangan yang sangat tajam. Bahkan seperti musuh yang ingin memangsa lawannya. Membuat tubuh Adelia menciut seketika.


Tanpa diduga ternyata Adelia menunjukkan pandangannya ke bawah, dapat dilihat Raka dengan jelas jika Adelia meneteskan air matanya, bahkan hanya sebentar saja sudah terlihat sesenggukan.


"Kenapa tidak boleh? padahal aku hanya ingin mengunjungi temanku saja kemari, kamu tidak pernah memahami perasaanku, kamu tidak mencintaiku."


"Aku benci kamu, Aku benci dengan semua ini, keluar kamu dari kamar ini, Aku tidak ingin ditemani kamu."


Teriak Adelia pada Raka, bahkan ia sudah membuang rasa takutnya tadi. Raka terdiam membeku di tempatnya melihat Adelia berontak seperti ini, dengan langkah pelan, Raka mendekati tubuh lunglai Adelia, lalu mendekapnya dengan perlahan, tanpa berbicara sepatah kata pun, ia langsung mendekap tubuh ringkih istrinya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud melarangmu keluar dari rumah ini."


"Tapi percayalah, jika di luar sedang ada badai salju. Kamu masih beradaptasi di lingkungan seperti ini, Nanti jika aku memaksakan mengantarmu keluar rumah, Aku jadi khawatir jika kamu akan kedinginan di luar. Aku berjanji, besok aku akan mengantarmu ke tempat temanmu itu."


"Tapi jika badai saljunya sudah hilang. Mengertilah untuk saat ini." ucap Raka pada Adelia pelan.


Namun tidak ada sahutan sama sekali dari dari Adelia. Membuat Raka melihat ke bawah bagaimana reaksi Adelia, ternyata istrinya itu sudah terlelap ke alam mimpinya.

__ADS_1


Melihat keadaan seperti ini membuat Raka frustasi bercampur bingung, bagaimana tidak beberapa menit yang lalu dirinya melihat istrinya itu marah meledak-ledak dan di saat bersamaan ketika dirinya berbicara malah istrinya terlelap begitu saja, entahlah nasihatnya tadi didengar atau tidak.


"Maafkan aku istriku, Aku tahu kamu marah padaku."


" Aku tidak tahu apakah semua ini jebakan atau tidak, yang jelas beri aku waktu untuk membuktikan bahwa anak itu bukan anakku,"


" Kamu harus tetap berdiri disampingku, bersama calon anak kita, kamu harus kuat menghadapi ini bersama-sama."


" Aku tidak bisa jika hidupku tanpamu dan dia." gumam Raka pelan tangannya terulur menyentuh perut Adelia yang sudah terlihat membuncit.


"Kau tahu, aku hampir gila karena mencarimu beberapa minggu yang lalu."


" Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa berbicara padaku? aku mengerti perasaanmu. Kamu pasti sangat terluka dengan sikapku, tapi tidak begini caranya." gumam Raka berbicara sendiri pada Adelia yang sudah terlelap di alam mimpinya.


***


Di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen yang begitu mewah untuk ukuran seorang gadis yang belum menikah. Siapa lagi jika bukan Nara sahabat karib Adelia, teman yang membantu Adelia di kala susah.


Tidak mungkin jika dirinya keluar sendiri dengan keadaan seperti ini, jalan satu-satunya dirinya harus mengambil cuti satu hari untuk mencari keberadaan temannya itu, yang menghilang bagaikan ditelan bumi.


" Adelia ke mana sih perginya kamu, aku tuh khawatir sama kamu tahu, tolong beri aku petunjuk Tuhan." gumam Nara pelan, ia mengatupkan kedua tangannya dan berdoa agar Adelia segera ditemukan.


Tringgg....sebuah notifikasi ponselnya terdengar, pertanda ada pesan masuk. Dengan cepat Nara membuka layar kunci di ponselnya.


Ternyata pesan dari nomor yang tidak dikenal, jika Adelia sedang berada di rumah suaminya dan dirinya diminta agar tidak mencarinya untuk saat ini. Hal itu membuatnya bernafas lega, namun tak dapat dipungkiri jika Nara sangat penasaran. Nomor siapakah itu yang menghubunginya barusan hingga reflek Nara melakukan panggilan pada nomor tak dikenal itu.


Tapi anehnya nomor itu sudah tidak bisa Nara hubungi, padahal baru saja mengirim pesan padanya. " Oh Tuhan apa jangan-jangan Nara diculik suaminya." kata Nara pelan.


"Baiklah besok aku harus memastikannya sendiri, bagaimana keadaan Adelia, semoga saja baik-baik saja. Dirinya dan juga calon keponakanku."

__ADS_1


***


Berbeda dengan Vera, malam ini dirinya tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Lantaran suaminya sama sekali tidak bisa dihubungi, bahkan nomor ponselnya terlihat mati beberapa kali dirinya melakukan panggilan. Hanya operator yang menjawab, tak jarang pula terkadang Vera juga mengumpat.


"Kemana sih perginya kamu mas, kamu tahu jika aku dan anak kamu sedang merindukanmu."


"Sabar ya sayang, Papa kamu sedang sibuk bekerja mungkin. Mana di luar badai salju sudah turun lagi,"


"Tidak mungkin juga jika aku menyusul ke kantornya atau aku akan mati kedinginan di luar sana. Aku juga masih ingin hidup." keluh Vera berbicara sendiri dengan calon bayinya.


Rasa dingin merayap ke seluruh tubuh Vera, hingga membuatnya tidak tahan, walaupun suhu penghangat ruangan sudah ia besarkan volumenya. Mungkin karena efek dirinya merindukan Raka, beberapa kali juga Vera berusaha memejamkan matanya, namun masih saja tidak bisa terpejam. Karena beberapa hari ini dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran Raka di sampingnya.


"Kamu jahat mas, kamu meninggalkanku sendirian dan anak kamu, pokoknya besok kamu harus menebus kesalahanmu malam ini." Vera.


Sedangkan orang yang Vera rindukan, kembali ke tempatnya semula, memang tidak seharusnya Raka berada di tempatnya. Dirinya dan juga Raka hanyalah sebuah kesalahan yang mereka perbuat dulu.


Pagi-pagi sekali Raka sudah menyiapkan beberapa aneka sarapan dan membawanya ke dalam kamar Adelia. Ada beberapa menu mulai dari buah-buahan, jus buah hingga makanan berat yang ia sajikan pada istrinya. Sayangnya Adelia masih terlelap di alam mimpinya.


Tentu saja dibantu dengan kepala pelayan Jo. "Anda akan berangkat bekerja sekarang tuan?"


Raka mengangguk sebagai jawabannya. "Jangan bangunkan dia, biarkan dia bangun dengan sendirinya, jika istriku sudah bangun maka tanyakanlah padanya apa yang dia inginkan,"


" Dan jangan sekali berani-beraninya menolak apa yang dia inginkan, Apa kau mengerti?"


"Baik tuan sesuai perintah anda." jawab kepala pelayan Jo menundukkan kepalanya sopan.


" Baiklah aku percaya padamu,"


Sebelum berangkat pergi bekerja, dirinya berpamitan pada istrinya yang masih terlelap, dengan mencium puncak kepalanya dan kedua pipinya bertubi-tubi lalu Raka beranjak dari sana.

__ADS_1


"Dan satu lagi, jika ada tamu orang asing datang kemari. Pastikan dulu tanyakan siapa namanya, dan apa keperluannya."


"Baik tuan."


__ADS_2