
"Kamu masih ada urusan denganku, karena dia milikku." ucap Raka. Tangannya terulur menyentuh perut buncit Adelia. Yang berhasil ditepis Adelia. Walaupun dia sangat ingin di sentuh tangan itu.
Adelia terdiam ditempatnya, apakah ini mimpi, dirinya masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Tangannya mencoba ia cubit sendiri, ternyata sakit, itu artinya bukan mimpi.
"Kak aku."
"Ayo ikut aku sekarang." kata Raka memotong ucapan Adelia.
"Tidak kak, aku tidak mau."
Tanpa berbasa basi lagi, Raka mengangkat tubuh berisi Adelia dan membawanya menuju pintu keluar, lalu turun menuju basemen dimana mobilnya terparkir disana.
"Kakak aku tidak mau kak, jangan paksa aku." teriak Adelia memukul dada Raka brutal, namun sayangnya Raka seolah menulikan pendengarannya.
Sama sekali tidak bergeming, ia masih memegangi tubuh istrinya kuat kuat, iya selama ini Raka tidak pernah menandatangani surat perceraian yang dikirimkan Adelia padanya.
Raka berusaha mencari keberadaan Adelia, tetapi sayangnya dirinya kalah cepat dengan perginya Adelia ke keluar negeri.
Raka jarang pulang kerumah sejak Adelia pergi, bahkan ia sering menghabiskan waktunya di kantor. Hanya kerja dan kerja yang ia pikirkan.
"Kak aku tidak mau." Adelia berusaha kabur setelah dirinya dimasukkan ke dalam mobil Raka. Tetapi pintunya terkunci lebih cepat.
Lalu Raka menjalankan mobilnya dengan perlahan, membelah kota yang kebetulan memasuki musim dingin.
Mereka terdiam kembali, tidak ada lagi pembicaraan diantara suami istri. "Bukankah aku sudah mengirim surat itu kepada kakak." kata Adelia akhirnya. Tanpa menoleh pada Raka yang duduk di kursi kemudi.
Raka tidak bergeming di tempatnya, sama sekali tidak mau menimpali omongan Adelia baru saja. Pandangan matanya yang tajam membuat nyali Adelia menciut. Dirinya tak lagi bersuara. Hingga sampailah di sebuah rumah mewah bak istana. Jika dilihat dari luar lebih mirip dengan kastil kerajaan modern. Terdapat banyak penjaga di depan gerbang pintunya saja.
Ketika mobil roda empat yang membawa mereka memasuki gerbang yang tingginya menjulang, membuat perasaan Adelia seketika merinding. Jika akan terjadi sesuatu dengan dirinya.
"Kak ini rumah siapa?" tanya Adelia merendahkan suaranya.
Masih tetap sama dengan awal perjalanan, jika Raka sama sekali tidak menjawab pertanyaan Adelia. Raka memarkirkan mobil mewahnya di basemen. Terlihat disana banyak koleksi mobil mewah yang berjejer rapi.
Raka berjalan mengitari mobilnya, lalu membuka pintu samping. Mempersilahkan Adelia keluar dari dalam sana. Adelia yang enggan keluar dari mobilnya masih terdiam di tempat duduknya. "Apa perlu aku menggendongmu."
Tangan Raka menengadah, seolah dirinya siap menjadi tumpuan Adelia untuk berdiri. Namun Adelia berdiri dengan berpegangan kabin mobil tanpa menghiraukan dirinya.
__ADS_1
"Kakak belum menjawab pertanyaanku." kata Adelia mengulang lagi.
"Tidak ada yang perlu aku jawab,"
Tanpa sadar, Adelia mengikuti langkah kaki Raka yang berjalan menuju lift yang terhubung dari basemen menuju lantai atas.
Ternyata rumah ini terdiri dari empat lantai, lantai kelima barulah rooftop. Yang disana terdapat kolam renang pribadi. Dibelakang rumah terdapat hamparan luas yang yang ternyata di sana terparkir pesawat pribadi dan juga helikopter pribadi yang berlabelkan AA.
Dan disinilah saat ini mereka. Di samping kolam renang terdapat tempat duduk yang nyaman. Dan di kelilingi aneka tanaman.
Sehingga udaranya semakin sejuk dan juga syahdu. Raka menarik nafas pelan lalu membuangnya perlahan. Tatapan matanya begitu dingin, namun pembawaannya tenang.
Bagaikan seekor Elang yang siap memangsa incarannya. Membuat hawa sejuk semakin bertambah sejuk di seluruh tubuh Adelia.
"Duduk." perintah Raka pada Adelia.
Adelia mengerjap, mengumpulkan kesadarannya kembali, setelah dirinya berhasil menguasai dirinya. Adelia duduk di kursi yang telah tersedia disana.
Adelia masih memperhatikan apa lagi yang akan dilakukan Raka setelah ini, lama tidak bertemu lelaki dihadapannya ini membuatnya canggung, serasa mereka tidak pernah dekat dan kenal.
Setelah meletakkan benda persegi tetapi bukan ponsel, keatas meja itu, Raka beralih menatap Adelia horor. "Ehhhemm." Adelia berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Mulai sekarang disinilah tempat tinggal kita." kata Raka.
"Tidak ada bantahan, ini perintah." ucap Raka yang mengetahui Adelia akan protes pada dirinya.
"Semua fasilitas disini sudah tersedia lengkap, jika kamu menginginkan sesuatu bisa kau tanyakan pada kepala pelayan Jo."
"Tapi kak, bukankah aku kakak sudah menerima surat itu?" tanya Adelia mengulang pertanyaan yang sama.
"Tidak akan ada perpisahan, kamu dan dia adalah milikku, jangan sekali sekali kamu mencoba kabur dariku lagi."
"Tapi aku tidak mau tinggal disini, buat apa aku tinggal di istana mewah tetapi istana rumah tanggaku sudah hancur." ucap Adelia lantang tak mau kalah.
"Tempat tinggalku yang sesungguhnya bukan disini, aku rasa aku tidak berhak tinggal disini."
"Tolong jangan mempersulit hidupku kak, kembalikan aku ke apartemen Nara." teriak Adelia.
__ADS_1
"Ahhhhh aduuuhhh perutku," teriak Adelia, berjongkok memegangi perut buncitnya, sepertinya terjadi sesuatu.
"Adel kamu kenapa?"
"Aduuhhh sakkiiiiit."
Wajah Adelia berubah pucat pasi, salah satu tangannya memegangi perut buncitnya, keringat dingin bercucuran didahinya.
"Kepala Jo cepat panggil dokter kandungan kemari." teriak Raka pada sambungan Handi talky yang ia letakkan diatas meja tadi.
Dengan sigap, Raka membawa Adelia ke kamar utama melalui lift yang terhubung langsung di depan kamar utama.
Kamar utama yang di desain minimalis dan memiliki kesan mewah, serta dilengkapi berbagai furniture modern. Menggambarkan pemiliknya yang menyukai desain desain modern.
Seluruh tubuh Raka membeku, takut terjadi sesuatu dengan Adelia yang masih sah menjadi istrinya, bahkan uang bulanan untuk Adelia dirinya juga masih rajin mengirim, namun menunggu saat saat yang tepat saja, dirinya dapat melepaskan diri dari cengkraman Vera. Tetapi ternyata istrinya terlanjur mengetahui lebih dulu.
"Sayang bertahanlah, jangan membuatku khawatir." bisik Raka ditelinga Adelia.
"Sakiiiiit, aku tidak kuat."
Tidak berapa lama tim medis datang ke tempat tinggal mereka. Membawa perlengkapan seperti yang dikeluhkan asisten Jo tadi.
Salah satu perawat memasang infus, dan seorang dokter sedang memeriksa. "Dokter tolong selamatkan istri saya dokter."
"Anda tenanglah dulu tuan." kata dokter muda itu.
Setelah dokter selesai memeriksa Adelia selesai. Dan memberikan suntikan vitamin. Mereka meletakkan alat alat medisnya kembali dan beralih ke Raka.
"Sepertinya istri anda sedang syok berat tuan."
"Apa yang dilakukan istri anda sebelumnya?" tanya dokter muda yang bernama Kimbab di name take nya.
"Dokter jangan salah, istri saya tidak melakukan aktivitas apa pun sejak pagi tadi." jawab Raka tak terima.
"Apakah sebelumnya istri anda mengalami sesuatu yang membuatnya terkejut tuan?" tanya dokter Kimbab.
Raka terdiam sejenak, lalu ingatannya kembali pada beberapa jam yang lalu, ketika istrinya dibawa kemari membuatnya terkejut dan wajahnya terlihat memerah seperti sedang menahan amarah.
__ADS_1