
"Mau ke mana?" tanya Adelia yang melihat Raka sudah berpakaian rapi.
"Aku ada urusan sebentar yang harus ku selesaikan, kau bisa melakukan apapun yang kau mau." kata Raka sambil merapikan dasinya yang terlihat miring di mata Adelia.
Saat ini mereka menetap di Paris, semua itu atas permintaan Adelia Adelia. sebulannya lalu sebelum ke pindahnya ke Paris Adelia sempat mengunjungi makam keluarga angkatnya.
Walaupun ia masih kecewa mendapati fakta yang tidak sesuai seperti apa yang ia harapkan, kini Adelia sudah menerima dengan lapang dada dengan takdirnya.
"Baiklah kembalilah dengan selamat dan berhati-hatilah ketika berada di luar Aku menunggumu di rumah." kata Adelia sembari tangannya sibuk merapikan dan si suaminya yang miring.
Raka terkesima melihat gerak-gerik istrinya, jantungnya dibuat berdetak tidak karuan. Detik berikutnya Raka merapatkan tubuh Adelia hingga tidak ada jarak 1 cm pun diantara mereka, sebuah kecupan mendarat di bibir manis Adelia yang semula hanya kecupan berubah menjadi sesapan.
Lama kelamaan dasi yang semula sudah dirapatkan oleh Adelia tapi Raka malah menariknya dengan kasar membuka kembali pakaiannya dengan bibir yang masih bertautan dan mengarahkan Adelia menuju ranjang King size mereka. Adelia yang semula akan menolak tapi Raka malah menekan tengkuknya sehingga Raka menindih tubuh ramping Adelia. Kedua tangan Raka bertumpuk menahan tubuhnya.
Satu lenguhan mampu membuat bangkit gairah Raka. Ciuman Raka yang erotis mampu melenakan akal sehat Adelia, pikirannya berkata tidak tapi tubuhnya tidak bisa menolak. Tak ada penolakan dari Adelia membuat Raka melancarkan aksinya di pagi hari ini di mansion mewah yang baru saja sebulan ini Raka tempati bersama dengan putranya dan juga Adelia.
"Uuh apa kau tidak jadi pergi? kau akan terlambat menuju tempat acara mu." bisik Adelia di tengah-tengah ciuman panas mereka.
Tapi Raka seolah menulikan pendengarannya sama sekali tidak menghiraukan perintah dari Adelia. "Aku bosnya dan akulah yang berkuasa di sana. Pagi ini mari kita bersenang-senang sebelum aku berangkat, kita buatkan dulu adik untuk El. "
"Kau jangan gila kalau masih keee."
Belum sempat Adelia melayangkan protesnya pada Raka tapi Raka sudah membungkam dengan ciuman erotisnya. Hingga membuat tubuh Adelia menggeliat seperti cacing kepanasan. Ciuman Raka turun ke bawah dan menuju ke tempat favoritnya di mana di sana terdapat gunung kembar pemandangan yang indah selama ia berada di dekat istrinya. Entah kapan baju keduanya sudah berserakan di lantai.
__ADS_1
Raka menyesapnya dengan rakus, hari ini pemandangan indah itu adalah miliknya. Salah satu mulutnya tidak berhenti untuk menyesapnya dan tangannya bermain-main di area favoritnya hingga terdengar ******* yang membuatnya tak ingin berhenti.
Jari Raka yang berputar-putar di area inti membuat tubuh Adelia mengejang, hingga mencapai puncak pelepasannya. Raka tersenyum penuh arti hingga menancapkan pusaka kegagahannya dan siap memompa.
Kegiatan pagi ini yang cukup panas, untuk kedua insan yang dimabuk asmara. Mereka telah sampai puncak pelepasan dan menyuarakan nama keduanya masing-masing di akhir bercinta panas mereka.
Setelah selesai melakukan ritual pagi kegiatan suami istri itu, Adelia terlihat keluarga kamar mandi dengan memayunkan bibirnya, pasalnya saat membersihkan tubuh. Raka mengulanginya lagi hingga tubuhnya terasa remuk redam dibuatnya.
Berbeda dengan Raka keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, rambutnya yang masih basah menambahkan aura ketampanannya bertambah-tambah berkali lipat dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Raka jika keluar rumah mode serius dan wibawanya akan kembali ke setelan awal tapi jika bersama dengan Adelia akan berubah menjadi kelinci kecil yang sangat manis dan sangat tunduk kepada Adelia.
Raka kembali lagi ke tempat walk in closet untuk memilah-milah baju yang akan ia kenakan. Berbagai kemeja yang tersusun rapi dari berbagai merk ternama iya padu padankan menggunakan celana warna abu-abu dan kemeja berwarna navy berlengan pendek. Hari ini ia sedikit menggunakan pakaian semi formal karena acara hanya dengan bersama beberapa bawahnya saja tidak dengan relasi bisnisnya.
"Tadi menggunakan dasi, sekarang tidak. Apa kau sedang membohongiku?" tanya Adelia lihat terlihat mengintimidasi matanya menatap tajam Raka.
"Ck, sejak kapan otaknya berubah jadi miring setelah bercinta." batin Adelia bermonolog.
"Jangan berperang dengan batinmu sendiri kau akan cepat tua nanti." kata Raka sambil merapikan kerah kemejanya ia seolah tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya.
"Kau mengataiku."
"Sayang aku hanya mengingatkanmu saja, please jangan marah nanti keriput di wajahmu akan bertambah."
"Ck, sudahlah sana pergi, aku akan turun lebih dulu untuk menemani El."
__ADS_1
"Siapa suruh kau keluar lebih dulu, tunggulah sebentar lagi aku selesai." kata Raka, dia tidak mau dikalahkan oleh putranya sendiri seolah berebut saling mencari perhatian Adelia.
Mereka turun ke bawah begitu Raka selesai bersiap terlihat di bawah sana Putra kecilnya disuapin oleh suster Lorent, "Hai boy, makan yang banyak biar cepat tinggi, kelak kau bisa gantikan Daddy untuk menangani perusahaan kita."
"Kaulah kebanggaan Daddy."kata Raka lalu mencium pipi gimbul El.
Adelia yang berdiri sambil menata piring untuk mereka sarapan pagi. Hatinya terasa menghangat melihat pemandangan yang selama ini ia impikan.
Kedua suami istri itu sarapan pagi dengan tenang sesekali diselingi pembicaraan bagaimana kedepannya nanti. Lalu Raka berpamitan pada Adelia dan Adelia mengantarkan sampai di teras depan hingga mobil Raka menghilang barulah Adelia masuk ke dalam rumah, melihat El yang sudah selesai dengan sarapan paginya Adelia bergegas menemani suster Lorent dan juga El, tidak berapa lama juga ponselnya berdering dan ternyata Nara menghubunginya. Nara mengatakan jika dirinya ingin bertemu dengan El.
"Aku sudah memiliki Putra tampan, apa kau yakin dengan keputusanmu yang tidak akan menikahi itu?" kata Adelia sedikit memanas-manasi Nara.
"Ck, mentang-mentang sudah memiliki keluarga yang sangat lengkap dan bahagia kau terus saja memprovokasikan seperti itu."
"Aku akan tetap pada keputusanku dari awal bahwa aku tidak mau mengambil resiko dan menambah masalah dalam hidupku."
Adelia mendengarkan dengan seksama curhatan dari Nara sepertinya wanita ini memiliki trauma yang sangat berat jika disimpulkan dengan sedikit ceritanya. Tapi Adelia tidak mau kepo dengan urusan sahabatnya jika bukan Nara sendiri nanti yang akan bercerita barulah ia akan jadi pendengar yang baik.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? apa semua lancar setelah aku tinggalkan?"
"Ya begitulah Paman akan kerepotan dan kami menambah karyawan baru lagi, Paman juga melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan ternama hingga membuat kami bertambah sibuk kau tahu itu."
"Yayaya sangat cocok dengan dirimu sebagai wanita karir yang tak mudah tergoyahkan oleh badai apapun."
__ADS_1
"Kau pikir angin." decak Nara sambil menciumi pipi gembul El.