
Sahabat yang dulu selalu ada dikala dirinya susah maupun senang, kini telah berkhianat padanya, Adelia tidak bisa membenci seseorang dalam waktu yang singkat. Biar bagaimana pun mereka telah melewati banyak hal bersama.
Memang hubungannya dengan Raka sendiri sudah salah dari awal, ia merasa jika hubungannya dulu tidak seperti orang pada umumnya, pernikahannya terkesan buru buru.
Padahal waktu itu yang dia cintai Ivan bukan Raka, hal yang sangat membuatnya merasa janggal hingga saat ini, dirinya merasa ini semua tidak wajar.
Berpisah adalah keputusan yang tepat menurutnya, setelah beberapa bulan dirinya menjadi istri Raka, ia merasa cintanya luntur tak berbekas.
Adelia terdiam ditempatnya, menyimak dua orang yang bercakap cakap romantis. Hingga tidak terasa bulir air matanya menetes di kulit halusnya.
Salah satu tangannya meraba perutnya, "Sabar ya nak, kamu pasti kuat." batinnya dalam hati.
Sesaat kini gilirannya Vera yang mendapatkan jatah giliran, Adelia menghirup udara sebanyak mungkin dibalik masker yang ia kenakan, lalu mengeluarkannya perlahan dengan memejamkan matanya.
Matanya sudah berkhianat, hatinya bilang kuat, tapi air matanya tak mau berhenti mengalir dari tempatnya.
Percakapan dua orang di depannya tadi sedikit banyak telah menggoreskan luka dihatinya. Adelia sudah bertekad dengan niatnya, jika pandangannya kini lurus ke depan, tidak mau lagi memandang ke belakang, atau hatinya akan terluka.
"Sudah ayo, sekarang giliranmu." bisik Nara pelan.
Adelia mengangguk, mengikuti langkah kaki Nara, membawanya masuk ke dalam ruangan Dokter. Lalu seorang dokter wanita yang usianya terlihat tiga puluh tahunan mulai menanyakan banyak hal.
Sebuah alat USG telah menempel diperutnya, sebelumnya dioleskan Gel oleh perawat perawat khusus yang membantu dokter dengan name take Yuki.
"Ini nyonya janinnya terlihat,"ucap dokter Yuki.
Dokter Yuki telah menjelaskan banyak hal, mengenai makanan yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan.
"Baik dokter terimakasih." kata Adelia.
Dalam hal ini yang lebih antusias Nara, "Oh mayy aku sebentar lagi akan menjadi Aunty. Aku sudah tidak sabar ingin anakmu ini segera lahir. Lalu aku menimangnya."
"Pokoknya mulai sekarang, kamu dirumah saja, tidak boleh pindah dari tempatku, aku yang bekerja dan nanti kalau kamu ingin sesuatu bisa menghubungi aku."
"Aku pasti akan mengabulkannya." kata Nara dengan tangan mengatup di dadanya.
Setelah mereka keluar ruangan dari Dokter Yuki, Nara begitu antusias, menceritakan banyak hal. "Apaan, kenapa malah kamu yang sangat antusias." kata Adelia menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Keinginan Adelia untuk melenyapkan bayinya sirna begitu saja setelah melihat rupanya begitu jelas di layar monitor tadi. Ada rasa bahagia serta haru bercampur aduk menjadi satu, yang tak bisa ia jelaskan satu persatu.
"Kamu duduk disini, biar aku saja yang mengantri." kata Nara, namun Adelia terdiam ditempatnya, fokus matanya terlihat pada dua orang saling bermesraan.
"Sayang aku inginnya sekarang, ini anak kita sudah ngeces pengen buah Plum dan Peach." kata Vera manja.
Raka tangannya terulur ke bahu Vera. mendekapnya ke dalam dada bidangnya. Tidak bisa di pungkiri walaupun hati Adelia berkata tidak, tetap saja sakit hati itu masih ada. Bukan sakit hati karena dirinya mencintai Raka, melainkan sakit hati karena dirinya sudah di khianati oleh dua orang terdekatnya. Setidaknya jika mereka sudah bersama di belakangnya. Jangan memberikan harapan palsu padanya, teruntuk Raka.
"Adel kamu kuat kamu bisa, kamu hanya butuh waktu." kata Adelia dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Lalu beranjak duduk di kursi tunggu, paling belakang. Suara dua orang itu sudah tidak lagi terdengar. Mereka fokus dengan barang yang dibawanya. Mungkin saja vitamin sama seperti dirinya.
"Sudah ayo." kata Nara menarik tangan Adelia.
"Cepat sekali?" tanya Adel.
"Iya lah, mereka masih diracikkan sama apotekernya, kalau kita kan tinggal ambil saja." jelas Nara yang membuat Adelia mengangguk mengerti.
"Apa kamu tidak menginginkan sesuatu?" tanya Nara.
Kini mereka sudah berjalan beriringan, sambil berbincang bincang kecil. Adelia menggelengkan kepalanya, dia ingin tiduran di atas ranjang.
Setelah kini mereka berada di dalam mobil berdua. Adelia memberanikan diri, untuk membuka suaranya. "Menurutmu apakah sahabat sejati itu ada?" tanya Adelia.
"Hah jadi dari tadi kamu hanya memikirkan soal ini?" tanya Nara menggelengkan kepalanya heran.
"Jawab saja, jangan menertawakan pertanyaanku." kata Adel terlihat merajuk.
"Baiklah baiklah nona manisku, sebentar ini berdasarkan pemikiran siapa dulu nih?"
"Kalau dari sudut pandangku itu iya memang ada, tapi yang seribu banding lima mungkin,"
"Sahabat sejati itu yang bagaimana menurutmu?" tanya Adek datar.
"Aku jadi bertanya tanya, apa jangan jangan kamu punya masalah dengan yang kamu tanyakan ini?" kata Nara mulai curiga.
"Ya begitulah, sepertinya."
__ADS_1
"Katakan saja, siapa orangnya dan dimana dia sekarang?" tanya Nara lagi menggebu gebu.
"Kamu tidak perlu tahu, dia juga bukan orang sini kan." kata Adel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.
"Jadi benar apa yang aku katakan tadi." tanya Nara menoleh sekilas pada Adel.
"Jangan menutup nutupi apa pun padaku, aku tidak bisa kau bohongi." ucap Nara gemas.
"Aku tidak mau membahasnya lagi." kata Adel. Memejamkan matanya. Menghindari pertanyaan pertanyaan dari Vera.
Vera terdiam, menghubungkan dengan kejadian sebelum dan sesudah pulang dari periksa.
Adelia begitu sampai di unit apartemen, dirinya langsung tertidur dikamarnya, Nara terdiam mengamati tingkah Adelia yang merasa aneh.
"Apa jangan jangan." ucap Nara terhenti.
Lalu menelpon dokter Yuki,"Hallo ada apa lagi? pasienku masih banyak." kata seseorang dari seberang sana.
Dokter Yuki merupakan sepupu Nara, Ibunya dokter Yuki bersaudara dengan ibunya Nara. Mereka sama sama lahir dari keluarga terpandang. Tapi terlihat sederhana dan sangat ramah.
"Ck, sebentar saja, belum juga aku bicara." kata Nara.
"Ck, cepatlah, jangan basa basi, aku ditunggu pasienku." ucap dokter Yuki.
"Katakan siapa pasien yang bersama suaminya tadi?"
"Yang mana? pasienku banyak." jawab dokter Yuki.
"Yang memakai gamis warna Peach tadi, suaminya sangat tampan, memakai kemeja pendek warna maroon." kata Nara menyebutkan ciri cirinya.
"Ck, pasien asal Indonesia tadi?" tanya dokter Yuki.
"Jangan bilang jika kamu menyukai suami orang." cecar dokter Yuki terlihat tidak senang.
"Jangan berprasangka buruk dulu, aku sedang ingin tahu siapa nama mereka dan mereka sedang periksa apa?" tanya Nara bertubi tubi.
"Pasienku adalah privasiku, yang sangat dijaga kerahasiaannya." ucap dokter Yuki enggan memberitahunya.
__ADS_1
"Ck, ayolah jangan seperti itu padaku, aku hanya ingin tahu saja. Dia temannya temanku tadi yang periksa padamu, dan aku menduga jika lelaki tadi adalah suaminya." kata Nara lagi.
Dokter Yuki terdiam,"Berarti yang mana yang istrinya, teman kamu tadi yang menjadi selingkuhannya atau bagaimana?" tanya dokter Yuki malah berbalik kepo.