
Saat ini tidak ada hal yang mencurigakan. Vera masih bersikap biasa saja pada Adelia. Namun berbeda dengan Adelia, semenjak dirinya mendapati gambar Vera dilaci kamar suaminya membuatnya malas harus ber akrab akraban dengan Vera.
"Del kamu kenapa? apa ada hal lain yang kamu pikirkan?" tanya Vera menatap intens wajah Adelia.
"Tidak, ehmmm aku ambilkan minum sebentar." kata Adelia beranjak dari duduknya menuju lemari pendingin.
"Yah habis, maaf iya Ver, aku akan keluar sebentar, kamu tunggu sini dulu."
"Tidak perlu Del, tak perlu repot repot begini."
"Lagian aku juga tidak akan lama kok."
"Sudahlah kamu jangan begitu, kita sudah lama tidak ketemu loh, aku akan keluar sebentar, dan kamu tunggu disini dulu, okeh."
"Oh iya aku nitip suami aku dulu iya." Adelia tanpa menunggu jawaban Vera dirinya sudah berjalan setengah berlari menuju pintu keluar.
Detak jantungnya sepertinya tidak baik baik saja, ia menangkap sinyal aneh pada suami dan juga sahabatnya.
Namun Adelia berusaha menguatkan hatinya, bahkan pernikahannya baru seumur jagung, yang benar saja dirinya meminta berpisah. Apa kata orang nanti, terlebih adalah kedua orang tuanya, pasti akan dicibir teman teman arisannya.
Tidak berapa lama Adelia kembali dengan membawa minuman dingin ditangannya, samar samar terdengar mereka sedang bercanda. "Ternyata benar dugaanku, jika mereka ada apa apa." tetapi Adelia masih terlalu dini untuk menyimpulkan kejadian terlalu dini.
Pintu ia buka pelan pelan, hingga dua orang yang asyik bercanda itu tidak menyadari keberadaannya. Rasa canggung begitu saja merayap hatinya.
"Ehmmm...,"
"Maaf jika aku mengganggu kalian yang asyik bercanda."
"Sayang, kemarilah." salah satu tangan Raka yang tidak terkena infus ia rentangkan agar Adelia mau mendekat kearahnya.
"Apaan sih kakak ini, sudah ahh aku mau mengobrol sama Vera."
"Vera ini minumannya, silahkan diminum, maaf tidak ada apa apa, aku niatnya mau ke rumah kamu sama kak Raka."
"Tapi malah kejadiannya jadi seperti ini." ungkapnya dengan wajah sendu.
"Jadi kalian akan kerumahku, mau apa?" tanya Vera terlihat keheranan.
"Tidak, aku hanya mau memberikan oleh oleh saja padamu, tetapi sekarang oleh olehnya berada dirumah bunda kan jadinya."
Mendengarkan hal itu, Vera begitu terkejut ia menoleh pada Raka seolah meminta penjelasan.
"Kemaren aku sama kak Raka habis bulan madu ke Maldives, dan mampir dipusat oleh oleh."
"Kau tahu kalau disana itu sangat indah, aku doakan semoga suatu hari nanti kami bisa kesana bersama pasangan kamu deh Ver." ucap Adelia bukan bermaksud memanas manasi, dirinya reflek menceritakan kebahagiaan yang dirasakan bersama Raka selama bulan madu di Maldives.
__ADS_1
"Wahhh pasti seru sekali, aku jadi ingin cepat membawa pasanganku kesana." kata Vera.
"Loh memangnya kamu sudah punya pacar Ver, atau kamu sudah punya calon suami?" tanya Adelia begitu kaget.
"Ahh mana ada, iya belum lah, kamu ini kayak tidak tahu aku saja."
"Aku kan masih ingin berkarir dulu."
"Hah masak sih, aku kira malah kamu sudah punya calon," jawab Adelia lagi.
"Doaian saja, semoga secepatnya." sambil melirik tipis Raka.
Firasat Adelia sudah tidak enak, baiklah mungkin ini masih belum saatnya.
***
.
.
Hari Raka sudah di perbolehkan pulang kerumah, yang menjadi tempat tujuan utamanya adalah pulang ke apartemen Raka sendiri, ia akan menjadi tidak enak jika terus terusan merepotkan kedua mertuanya.
"Kenapa sih kak tidak pulang kerumah bunda sama ayah saja?" tanya Adelia ngedumel.
"Aku tidak enak sayang jika harus merepotkan mereka." jawab Raka lembut.
"Aku bisa sendiri kok, kamu tidak usah bersedih seperti itu."
"Nanti kakak jadi merasa bersalah."
"Ayo sini bantu kakak membuka obatnya." pintanya.
Setelah makam malam dan meminum obat, kini Raka duduk bersandar didasboard tempat tidur. Terlihat Adelia sehabis dari kamar mandi berganti pakaian piyama mengikuti Raka, duduk disampingnya.
"Kak aku mau ngomong tapi tidak sekarang?" kata Adelia.
"Mau bicara apa? sepertinya hal yang penting?"
"Iya benar kak, eh tapi bohong." kemudian tertawa hingga matanya berair.
Sebuah keajaiban melihat Adelia yang jarang tersenyum kemudian melihat senyumnya lagi dengan wajah ceria seperti ini.
"Kakak kira juga mau bicara apaan, malah ngeprank kakak judulnya." Raka mencebik.
"Ehh kak, Vera itu sudah sukses dengan karirnya loh kak, bahkan ia mendapatkan jabatan yang bagus dikantornya."
__ADS_1
Mendengarkan apa yang dikatakan Adelia baru saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat, "Kenapa memangnya?"
"Iya aku ingin menjadi wanita karir sepertinya lah kak, bekerja lalu menghasilkan uang."
"Kamu tak usah bekerja juga sudah menghasilkan uang." jawab Raka.
"Tapi tidak ada yang bisa dibanggakan dariku kak." terdengar sendu nada bicaranya.
"Baiklah setelah pindah ke Jerman nanti kamu boleh bekerja." akhirnya Raka mengalah menuruti keinginan istrinya.
"Kak menurut kakak, Vera itu akan menikah diusia yang ke berapa iya?"
"Iya mana aku tahu? memangnya aku ini peramal." jawab Raka sekenanya. Padahal Adelia hanya ingin tahu saja bagaimana reaksi Raka saat dirinya membicarakan perihal Vera.
"Hah tidak asyik." setelah mengucapkan demikian Adelia membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut laku merebahkan dirinya membelakangi Raka.
"Sayang tak baik tidur membelakangi suami kamu."
Namun Adelia tetap tak bergeming ditempatnya, hingga Raka lah yang merapatkan tubuhnya dan memeluk istri mungilnya.
Rutinitas pertama kali ketika Raka mengalami kejadian tragedi terbentuknya pojokan meja. "Kak ini aku habis memasak untuk kakak, entahlah bagaimana rasanya, aku tidak bisa merasakannya, aku tadi belajar dadi vidio saja kak." ungkapnya meletakkan sup ayam dan juga bubur nasi.
"Baiklah sini kakak coba." Raka menerima mangkuk itu dan menyuapkan makanan kedalam mulutnya yang masih panas.
"Pelan pelan kak, ini masih panas."
"Ehhmmm ini rasanya enak untuk ukuran orang pertama kali baru belajar."
"Ahh aku tidak percaya, kakak jangan berlebihan memujinya hanya ingin membuatku senang." kata Adelia.
"Kakak tidak berbohong, aku tidak menyukai makanan pedas sayang, sehingga makanan seperti ini sangat cocok di lidahku."
"Benarkah? kakak sedang tidak ingin menyenangkan hatiku kan?" Adelia memicingkan matanya.
"Tidak sayang, ini review jujur."
"Iya sudah ini obatnya, kakak pasti kekenyangan, segitu banyaknya dihabiskan semuanya lagi." keluh Adelia mengambil alih mangkok kosong. Dan menyodorkan obat yang sudah dibuka.
"Kak sepertinya bahan bahan makanan di lemari pendingin sudah habis, itu yang aku masak tadi kebetulan bahan yang aku beli kemaren sewaktu pulang mampir di supermarket."
"Hemm kamu delivery saja sayang."
"Baiklah kalau begitu, mana ponsel kakak." menengadahkan tangannya meminta ponsel suaminya. Jangan ditanya, ponsel Adelia sendiri sedang di isi daya.
Mengotak atik ponsel suaminya, lalu menemukan kontak dengan nama Istriku sayang, Adelia iseng memanggil menggunakan ponselnya yang masih tersambung isi daya, hal ini ia lakukan lantaran Raka langsung terlelap setelah makan dan meminum obat, bisa jadi karena efek dari obatnya.
__ADS_1
Degup jantungnya semakin kencang kala nama itu bukan nomornya, lalu nomornya siapa itu.