Married For Pellets

Married For Pellets
Rumah Sakit Ibu dan Anak


__ADS_3

Setelah tidur kurang lebih empat jam, Adelia terbangun. Hingga melewatkan makan malamnya.


"Apa pusingmu sudah hilang, ini aku sudah menyiapkan makanan untukmu."


"Spesial untuk temanku yang datang dari jauh." kata Nara yang baru saja selesai memasak dan terlihat melepas Apron yang menempel ditubuhnya.


"Ah kamu memang rajin memasak dari dulu." puji Adelia yang terlihat lebih segar setelah membasuh muka dengan air dan sabun.


Lalu menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya disana. "Kenapa kamu menutup mulutmu?" tanya Nara yang mengamati pergerakan Adelia yang terlihat aneh.


"Aku tidak tahan mencium bau masakan kamu, kamu masaknya menggunakan bumbu apa?"


"Bumbu apa? iya bumbu rempah rempah dapurlah masak iya menggunakan bumbu kosmetik." ucap Nara bercanda.


"Apa kamu tidak menyukainya, tapi ini tidak seperti kamu, biasanya kamu juga menyukai Mashed Potato buatanku." kata Nara.


"Aku tidak tahu, tidak biasanya juga aku seperti ini," kata Adelia.


Bahkan saking mualnya sampai melarikan diri ke wastafel, mengeluarkan isi yang ada didalam perutnya, "Kalau begitu ayo aku antar kamu ke dokter, jangan sampai aku disalahkan orang karena telah membiarkanmu menderita seperti ini."


"Tidak perlu, mungkin aku hanya masuk angin saja," kata Adelia menolak.


"Masuk angin apaan, dari tadi sampai sekarang masuk angin melulu, kenapa aku jadi curiga," kata Nara, ucapannya terhenti, terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Curiga kenapa?"tanya Adelia setelah mengelap mulutnya yang basah dengan tisu.


"Apa kamu sudah haid bulan ini?"


"kenapa memangnya?"


"Kamu kan sudah menikah, atau jangan jangan kamu belum pernah disentuh suami kamu?" tanya Nara menyelidik.


Mendengar pertanyaan Nara membuatnya reflek mencari ponselnya dimana, lalu membuka sebuah kalender aplikasi, "Bagaimana?" tanya Nara lagi, dirinya tidak mau membiarkan rasa penasarannya meluap begitu saja.

__ADS_1


"Aku sudah telat satu minggu," kata Adelia lemah. Wajahnya berubah pucat setelah melihat kalende di ponsel pintarnya.


"Tapi tidak mungkin kan hanya telat satu kali saja langsung jadi, karena aku juga memakai pil kontrasespi," katanya lagi.


"Kamu tunggu dulu kalau begitu," Nara berlalu keluar unit Apartemen, untuk mencari sesuatu.


Tidak lama lagi dirinya kembali dengan kantong plastik ditangannya, yang ternyata isinya bermacam macam Testpack dari berbagai merek, mulai yang termurah sampai yang mahal semua Nara beli.


"Aku membelikan ini untukmu, coba kamu gunakan sekarang," kata Nara menyodorkan kantong platik ditangannya, pada Adelia.


Adelia masih bingung, ia menurut saja apa kata Nara, masuk kedalam kamar mandi, lalu menggunakan alat tersebut dan menunggunya sesuai petunjuk yang ia baca di kemasannya, sambil menunggu detak jantung ADelia berdebar tidak karuan, takut hal yang tidak ia inginkan terjadi, sejujurnya dengan kondisinya saat ini Adelia masih belum siap jika memiliki anak sekarang, apa lagi hatinya sedang rapuh.


Ketika dirinya bercermin, sekelebat nenek tua berada di cermin, menampakkan dirinya sekilas. Membuat Adelia mundur beberapa langkah ke belakang. Lalu dirinya menajamkan kembali penglihatannya kalau nenek tadi sudah tidak ada di sana. Tetapi malah berganti bisikan halus ditelinganya.


"Sebentar lagi hidupmu tidak akan merasa sepi, karena akan ada cahaya hidupmu," bisikan yang Adelia dengar. Namun setelah dirinya menoleh ke belakang tidak ada siapa siapa disana. Membuat bulukuduknya merinding sendiri.


Beberapa kali Adelia mengatupkan kedua tangannya, matanya ia pejamkan, rasa cemas dan bercampur aduk telah menguasai dirinya.


Tangannya gemetaran mengangkat Testpack yang ada ditangannya, "Ini tidak mungkin, selama ini aku menggunakan alat kontrasepsi," gumamnya pelan, ia tidak lagi dapat berkata apa apa lagi, karena memang benar adanya, jika alat tes kehamilan itu semuanya menunjukkan hasil yang sama.


Nara yang menunggu diluar sana hampir setengah jam, Adelia tak kunjung keluar dari kamar mandi membuat ia panik tidak karuan. Membuat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kamar mandi yang dimasuki Adelia.


"Adel keluarlah, kenapa kamu lama sekali didalam sana," teriak Nara dari luar.


Ketukan pintu itu lebih mirip gedoran, karena beberapa kali Nara mengetuknya, namun tak ada reaksi apa pun dari orang yang ada didalamnya.


Entah ketukan ke berapa kalinya, barulah Adelia membuka daun pintu minimalis itu. "Bagaimana, apa hasilnya?" Nara sudah dilanda rasa penasarannya.


Adelia mematung, terdiam ditempatnya, dirinya masih shock dengan hasilnya, "Aa...ku, Aaaku hamil," memberikan alat tes kehamilan pada Nara.


Diluar dugaannya, ternyata Nara begitu antusias menyambut kabar kehamilan ini,"Oh Tuhan, aku akan memiliki keponakan baru. Ayo ganti pakaianmu sekarang," kata Nara mendorong Adelia.


"Eh, mau kemana?"

__ADS_1


"Periksalah kemana lagi memangnya?"


"Aku tidak mau, aku belum sanggup, aku belum siap memiliki anak sekarang?" kata Adelia yang seketika membuat kepala Nara terasa pening.


"Adelia kamu jangan keras kepala, kamu mau enaknya aja, tapi tidak mau hasilnya, baiklah, kalau kamu tidak mau merawatnya kasihkan padaku saja,"


Terlihat mata Adelia berkaca kaca, ia tidak menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini."Bukan kehidupan seperti ini yang aku inginkan," lirihnya dengan suara melemah.


Nara memeluk Adelia, lalu membimbingnya untuk duduk diranjang, dan bersandar di dasboard. "Entah kenapa aku merasa jika pernikahanku salah sejak awal, aku merasa seperti ada yang tidak beres dengan pernikahanku,"


"Bukan dia orang yang aku cintai sejak awal, tapi kenapa malah kami menikah, yang malah berakhir dengan saling melukai," kata Adelia mengeluarkan segala isi hatinya dengan mata berkaca kaca.


"Jangan kamu pikirkan itu lagi, yang lalu biarlah berlalu, jika kamu menerima takdirmu dengan lapang dada, maka kamu akan bahagia dengan caramu sendiri,"


"Dia tidak salah, jangan membencinya," kata Nara, tangannya terulur, meraba perut rata Adelia.


Jika disaat seperti ini, dirinya merindukan kedua orang tuanya dan juga adiknya. Tidak dapat dipungkiri jika kadang ia merasa kesepian.


Setelah Adelia tenang, dan mendinginkan pikirannya, dirinya beranjak berganti pakaian, lalu keluar kamar dengan mata sembab.Yang paling semangat menyambut kehamilan ini adalah Nara.


"Kenapa kamu senyum senyum sendiri?" tanya Adelia yang mengamati wajah Nara.


"Tentu saja, di Apartemen sebentar lagi akan ramai, karena kedatangan anggota baru," kata Nara, setelah mereka mendudukkan tubuhnya, dan Nara yang mengemudi.


Nara membawa Adelia ke rumah sakit ibu dan anak yang ada dipusat kota. Lalu mengambilkan Adelia nomor antrian.


"Kamu tunggu dulu disini," kata Nara.


Adellia duduk diantara pasien paling belakang, tidak ada yang ia pikirkan, namun terdengar suara orang yang dikenalnya, posisinya Adelia menundukkan wajahnya, lantaran sedang menscroll layar ponselnya.


"Sayang aku ingin buah Plum,"


"Iya nanti, sepulang dari sini," kata suaminya.

__ADS_1


Mendengar suara itu membuat detak jantung Adelia tidak bisa berjalan normal. Tangannya berkeringat dingin, kepalanya mendadak pusing lantaran tidak bisa berfikir dengan jernih.


__ADS_2