Married For Pellets

Married For Pellets
Karena Mimpi Itu


__ADS_3

"Jangan ... aku tak mau, kamu pergi sana." teriak Adelia, tangannya mengisyaratkan untuk menyuruhnya pergi pada seseorang, yang berbicara padanya.


"Adel ..., del bangun." Raka menepuk-nepuk wajah istrinya, sepertinya Adelia sedang bermimpi buruk.


"Hah ... hah, " Adelia bangun dengan nafas terengah-engah, seperti habis lari maraton dengan jarak jauh. Lalu menoleh ke samping ke arah suaminya, dimana suaminya sedang menyodorkan air putih padanya.


"Kau kenapa?"


"Apa sedang mengalami mimpi buruk?"


Adelia tidak menjawab, hanya mengangguk saja sebagai jawabannya.


"Katakan, kau sedang bermimpi soal apa?"


Adelia malah menggelengkan kepalanya, lalu detik berikutnya memeluk suaminya erat.


Raka yang semula diam mengamati istrinya, kini membalas pelukan istrinya.


"Baiklah, jika kamu belum siap untuk bercerita, ayo tidurlah."


Adelia merebahkan dirinya kembali berusaha memejamkan matanya, tetapi tetap saja tak bisa terpejam. Sepertinya karena mimpi tadi sedang menganggu pikirannya.


Adelia bermimpi jika ada seorang nenek tua yang menghampirinya dan berbicara padanya, jika nenek tua itu akan ikut bersamanya, tidak menganggu Adelia, hanya ingin ikut dam melindunginya.


Tapi tanpa diduga jika nenek tua itu ditolak mentah-mentah oleh Adelia, jika dirinya tidak mau di ikuti.


Kali ini dirinya seperti sedang diawasi seseorang, lalu membuka matanya kembali yang tadi berusaha ia pejamkan. Menoleh ke sudut ruangan, ternyata disitu berdiri nenek tua yang sedang mengangguk padanya dan tersenyum tipis.


"Ahhhh ...!!!" teriak Adelia lagi, kembali menutup matanya dengan selimut.


"Adel kau kenapa?" Raka kembali membuka matanya ketika sedang mendengarkan istrinya berteriak melengking didalam ruangan itu.


"Tidak, aku takut, jangan tinggalkan aku."


"Sini mendekatlah," Raka menepuk lengannya mengisyaratkan agar Adelia tidur di lengannya dan bisa memeluk dirinya.


Adelia beringsut, mendekat kearah tempat yang tadi di isyaratkan oleh suaminya.


"Aku disini, apalagi yang kau takutkan, tidurlah."


"Tidak."


***


Pagi menjelang, sinar matahari sudah menampakkan kehangatannya, pagi itu Raka bangun terlebih dahulu. Mengepak pakaian istrinya dan pakaiannya.


Rencananya hari ini mereka akan berbelanja dan membeli banyak oleh-oleh. Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Maldives.


"Adel bangunlah, ini sudah siang."


"Ehmmm, "


"Bangunlah, ayo ... apa kamu mau kita melakukannya sekali lagi?" tanya Raka menggoda istrinya.


Seketika itu pula Adelia terbangun, berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya. Lalu matanya menyipit, berusaha menyesuaikan cahaya yang sudah masuk ke kamarnya, melalui kaca.

__ADS_1


Dirinya menoleh ke kanan, namun betapa kagetnya dirinya, ketika melihat nenek yang berada di mimpinya semalam.


Mau pura-pura tidak tahu juga, nenek itu terus memandangnya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Adelia berusaha mengabaikan keberadaan nenek berambut putih itu, dengan langkah terseok dirinya berjalan memasuki kamar mandi dan membersihkan diri.


Tetapi tubuhnya terasa merinding, "Sayang, ... sayang!" panggil Adelia pada suaminya.


"Iya kenapa kau berteriak-teriak?" tanya Raka sambil berjalan ke arah dimana istrinya berada. Bahkan dirinya menghentikan kegiatan melipat baju-baju memasukan ke dalam koper milik istrinya.


"Ada apa kau memanggilku kemari?"


"Tidak, temenin aku mandi, kau duduk di sana." tunjuknya pada ujung bak mandi.


"Kau ini kenapa, baiklah jika itu maumu." Raka menurut juga walau sebelumnya sempat protes pada istrinya.


Duduk di pinggiran bath up, sambil mengamati kegiatan istrinya, mana tahan jika melihat istrinya dalam keadaan basah ketika berendam.


Adelia yang sedang memejamkan matanya tidak tahu kegiatan suaminya yang sedang melepas seluruh pakaiannya.


"Baiklah, sepertinya aku harus mandi lagi jika begini." sambil menyusul Adelia ke dalam bak mandi.


Adelia yang sedang memejamkan matanya, merasa ada seseorang memasuki bak mandinya.


"Ahhhh ... pergi, pergi .."


"Hey sayang, lihatlah ini aku."


Mencekal lengan istrinya, dan mengarahkan pandangan mata Adelia padanya.


"Kau kenapa?"


"Tidak, aku lupa jika kau sedang ada bersamaku."


Adelia terdiam, melihat kebelakang dimana tadi nenek tua itu berdiri dipojok kamar mandi, tapi kenapa ketika dirinya dihampiri oleh suaminya, nenek itu malah pergi. Seolah sengaja memberikan ruang pada mereka untuk melakukan hal lain yang dilakukan sepasang suami istri.


"Lihatlah aku,"


Adelia menoleh pada suaminya, detik berikutnya Raka sudah melahap bibir manis istrinya, tangan kanannya memegang tengkuk istrinya untuk memperdalam ciumannya.


Sedangkan tangan kirinya merayap mencari benda favoritnya.


Mandi kali ini plus-plus, karena ketakutan Adelia membawa keberuntungan bagi Raka. Keluar dari sana Adelia memberengut kesal karena tak hanya sekali melakukannya. tetapi bahkan sampai berulang dua kali.


"Tak usah cemberut seperti itu, gantilah pakaianmu." Raka yang melihat ekspresi istrinya yang tak bersahabat itu.


Jika bukan karena dirinya yang penakut mungkin sudah tidak butuh lagi suaminya berada disana.


"Kau ini selalu saja tak tahu waktu." Adelia.


"Mana bisa tahan jika melihat istriku yang sexy bagai model ini."


"Tak usah merayuku, aku sedang kesal."


"Kesalmu malah membuatku semakin ingin menempel padamu."

__ADS_1


"Kau tahu bagaimana bentuk mulutnya burung love bird?"


"Kalau tahu kenapa?" Adelia menjawab kesal.


"Kau akan semakin imut jika sedang cemberut, seperti mulut burung love bird, sehingga memiliki banyak cinta, seperti cintaku padamu."


Raka sambil menggunakan kaos santainya dan celana pendek didepan istrinya, Adelia hanya cuek saja tak begitu memperhatikan kegiatan suaminya.


"Terserah kau saja." Adelia yang sudah mengenakan pakaiannya, bercermin sekali lagi di cermin besar yang berada didalam kamar itu.


Seketika amarahnya menguap seketika, saat dirinya melihat bayangan nenek itu kembali lagi.


"Kenapa diam, ayo." Raka membuyarkan lamunan istrinya. Ada seseorang yang menjemputnya dan membantu membawakan barang mereka.


"Kenapa kamu banyak diam?"


"Bicaralah, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?" tanya Raka yang merasa istrinya aneh.


"Tidak, aku tidak apa-apa."


Mereka berjalan keluar dari resort itu menuju mobil jemputan yang akan mengantarkan mereka pergi ke tempat pusat oleh-oleh sebelum mereka kembali.


"Ehmm itu, apa kau melihat sesuatu?"


"Sesuatu? sesuatu apa yang kau maksud?"


"Pas tadi pagi ketika di dalam kamar, apa kau melihat seorang nenek tua berambut putih?" tanya Adelia penasaran.


"Aku rasa aku tak melihat apa pun, mungkin kau hanya berhalusinasi."


Adelia terdiam, berarti yang tahu hanya dirinya, percuma saja jika dia bercerita pada suaminya, dia tak akan mengetahuinya.


Hingga perjalanan yang mereka tempuh menuju pusat oleh-oleh memakan waktu satu jam, barulah sampai. Adelia membelikan oleh-oleh untuk orang tuanya sendiri dan mertuanya, serta Nita dan sahabatnya.


"Kenapa kamu membeli oleh-oleh begitu banyak sekali?"


"Ehmm tentu saja, apa kau tak ingin berbagi pada yang lain setelah bepergian ke suatu tempat?"


"Aku jarang melakukannya."


"Jadi kau tak pernah membelikan oleh-oleh pada mama dan papa?"


"Tidak, aku rasa mereka mengerti akan kesibukanku."


"Ck, kau ini, anak macam apa. Itu tak baik."


"Jika kamu habis dari suatu tempat, maka belilah oleh-oleh untuk orang rumah, walau tak seberapa harganya, tetapi hal itu cukup menyenangkan bagi yang mendapatkannya."


"Kau tahu, setiap kali aku pulang dari Jerman aku selalu membeli oleh-oleh untuk orang tuaku, adiku dan juga asisten rumah tangga dirumah."


"Mereka sangat senang menerimanya, dan membuat kita dihargai, tetapi bukan itu poinnya, berbagi kebahagian itu tak ada salahnya."


Raka hanya diam memperhatikan istrinya yang sedang memberikan petuah padanya itu.


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2