
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, namun tak ada tanda tanda kepulangan Adelia. Raka berjalan mondar mandir bagaikan setrikaan kusut.
Ia panik, dimana perginya Adelia, apakah baik baik saja atau bukan, Raka bergegas mengambil kunci mobil lalu pergi ke kantor Adelia, siapa tahu istrinya lembur.
"Permisi Pak, saya mau menanyakan, apakah masih ada yang lembur dikantor?" tanya Raka pada sang Satpam yang berjaga malam disana.
"Semua karyawan sudah pulang Tuan, hari ini tidak ada karyawan yang lembur dikantor." kata Satpam itu sopan.
"Baiklah Pak terimakasih."
Satpam mengangguk sopan, dirinya kembali memasuki mobilnya, mengendarai sepanjang perjalanan untuk mencari keberadaan Adelia.
Terdengar sebuah notifikasi dari nomor yang tak dikenal, "Jangan mencariku,"
"Aku memilih mundur demi kebahagiaan kalian berdua, apa lagi kalian akan memiliki anak sebentar lagi." isi dalam sebuah pesan yang dikirim oleh Adelia di ponsel Raka.
Oh betapa bodohnya dirinya, kenapa tidak melihat istrinya melalui gps. Tetapi sudah terlambat, istrinya sudah mematikan ponselnya. Sejak tadi siang Adelia mematikan ponselnya. Bahkan Raka bolak balik mencoba menelpon, namun tidak bisa.
"Kemana sih perginya?" Raka begitu frustasi.
Ia memutuskan pergi ke Apartemen Vera, untuk meminta bantuannya, siapa tahu istri sirihnya itu bisa membantu mencari keberadaan Adelia.
"Loh Mas kamu?" kata Vera saat pintu terbuka lebar, menampakkan wajah kusut Raka.
"Dia pergi ninggalin aku sendirian."
"Sabarlah Mas, mungkin dia butuh waktu untuk melihat fakta yang terjadi."
"Tidak, tidak biasanya dia kabur dari rumah seperti ini." Raka begitu sangat frustasi. Hampir putus asa.
****
Siang itu sekembalinya Adelia dari kantor, ia telah menyelesaikan pekerjaannya saat itu juga, lalu membuat surat resmi pengunduran dirinya dan menyerahkan pada pihak HRD.
"Aku yang akan mundur dari pernikahan ini kak." gumam Adelia menaham bulir air matanya.
Setelah mendapati fakta baru, jika suaminya itu menikah siri dengan sahabatnya, ia tidak lagi percaya dengan lelaki maupun seorang teman.
Adelia memutuskan pergi ke Jepang, tujuannya adalah Kyoto. Kota impiannya sejak dulu. Kota yang sangat indah menurutnya.
Siang itu juga Adelia kembali kerumahnya, mengambil surat surat penting saja. Tanpa membawa baju tanpa koper. sehingga memudahkan dirinya untuk pergi kemana saja.
Ia telah meninggalkan kartu yang sempat diberikan Raka padanya "Semoga hidupmu bahagia bersama dengannya Kak." setetes air mata lolos begitu saja dari pipi halusnya.
Adelia menarik nafas panjang agar ia bisa menahannya dari isakan tangisnya. "Pernikahan yang menyakitkan." gumamnya.
"Selamat tinggal kota kenangan." gumam Adelia, sebentar lagi pesawat yang ia pesan akan lepas landas. Setelah dirinya melakukan boarding pass.
Perjalanan dari Jerman ke Jepang memakan waktu delapan belas jam lebih lima menit. Begitu sampai Adelia langsung menuju ko koya Kyoto dengan sebuah taksi online yang ditumpanginya.
__ADS_1
Adelia melepas kaca mata hitamnya, untuk melihat keindahan kota Sakura itu. "Selamat datang kota Impian." ucapnya, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Segala beban berat yang ada dipundaknya telah ia lepaskan.
Adelia belum memiliki tujuan, namun dirinya sudah pernah berkunjung kemari, karena dirinya memiliki teman kuliah yang berasal dari Kyoto.
"Ahh aku akan menghubungi Nara." katanya lagi, lalu merogoh ponsel pintarnya, dan melakukan panggilan. Begitu sampai di taman kota.
"Anak ini susah sekali dihubungi." Adelia berbicara pada dirinya sendiri.
".Kon'nichiwa Nara ogenkidesuka?" begitu sambungan telepon telah tersambung.
"Hei aku baik," kata seseorang dari seberang, begitu mengenali suara siapa itu dibalik panggilannya.
"Hemmm bisakah kamu menjemputku, aku datang dikotamu." kata Adelia memelas.
"Kau jangan bercanda, itu tidak lucu."
Lalu beberapa saat panggilan beralih menjadi Vidio Call. Dan terlihatlah semua dimana lokasi Adelia berada. "Hei are you crazy?" kata Nara.
"Yes I'am." balas Adelia lagi.
"Baiklah jangan kemana mana, tetap ditempatmu aku akan segera sampai." lalu Nara mematikan sambungan telepon sepihak.
Tidak berapa lama Nara sampai, ia begitu terkejut mendapati teman masa kuliahnya sampai dikotanya, dari dulu Adelia memang menyukai kotanya. Namun untuk pindah tidak pernah terencana dalam hidupnya. Sehingga Nara tidak mempercayai tentang ini.
"Hei are you crazy?" teriak Nara begitu mengagetkan Adelia.
Adelia yang termenung sendiri, tak kalah kagetnya, mendapati temannya yang duduk sendiri. "Ahhh kamu mengagetkanku tahu." Adelia memegangi dadanya sendiri.
"Ayo tinggal di apartemenku saja." kata Nara menarik tangan Adelia.
"Tidak, kau carikan saja kau apartemen baru."
"Aku tidak mengijinkan, kecuali kamu sudah bekerja sendiri."
"Ahh bagaimana dengan suami kamu, kalau kamu tinggalkan seperti ini?" tanya Nara.
Mereka kini sudah berada didalam mobil Nata, menuju Apartemen Nara. "Nanti saja aku ceritakan, jika tidak malas."
"Baiklah baiklah, aku tak akan memaksamu untuk bercerita."
"Aku tebak jika kalian sedang ada masalah."
"Ehh tapi jangan bilang kalau kamu kabur dari rumah, lalu suami kamu mencarimu," teriak Nara yang sudah menjalankan mobilnya dengan perlahan. Membelah kota Kyoto, yang begitu sejuk.
"Iya begitulah," jawab Adelia ambigu.
"Oh my jadi benar tebakanku tadi." Nara begitu terkejut.
"Aku malas membahasnya," Kata Adelia, tangannya bertumpu pada pintu mobil sebelahnya. Lalu kepalanya sandarkan.
__ADS_1
"Ehmm baiklah nona, aku akan menghiburmu." kata Nara.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Apa bos kamu tidak marah kamu tinggal seperti ini?" tanya Adelia lagi.
"Tidak akan, aku ijin setengah hari, jadi terserah aku mau melakukan apa saja."
"Sebebas itu pekerjaanmu?"
"Tidak juga, jika sedang ada proyek baru maka kami akan sangat sibuk."
Adelia mengangguk mengerti,"Maafkan aku dulu kalau diwaktu pernikahanmu aku tidak sempat datang."
"Yah tak apa, tapi hadiahnya sampai kok." kata Adelia.
"Ck, kamu ini, selalu saja." Nara berdecak.
"Mau apa kita?"
Terlihat mobil yang mereka tumpangi mampir disebuah restauran khas Jepang.
"Aku mau mengajakmu makanlah."
"Masak iya tamuku aku biarkan kelaparan, aku kan tak pernah memasak." kata Nara.
"Bisa tidak belanja saja, aku nanti yang akan memasak." usul Adelia.
"Tidak, jangan, untuk hari ini kita makan diluar saja, nanti kita mampir di supermarket belanja."
"Baiklah terserah kamu saja kalau begitu." pasrah Adelia.
Mereka mencari tempat duduk yang nyaman menurut mereka. Restauran itu menyediakan berbagai macam menu.
"Mau makan apa?" tanya Nara.
"Sashimi kelihatannya enak."
"Ehmm baiklah."
Akhirnya mereka memilih menu yang sama, selesai makan mereka mampir di Supermarket untuk belanja buah dan sayuran, mengisi lemari pendingin Nara yang biasanya kosong.
"Kamu bisa bantu aku carikan pekerjaan?" celetuk Adelia setelah selesai belanja, dan kini mereka dalam perjalanan pulang.
"Kamu baru saja datang, nanti kita pikirkan lagi, Oke."
"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya dari kamu." kata Adelia menuruti apa kata Nara.
Sesampainya di unit Apartemen Nara, kepala Adelia terasa begitu berat, mungkinkah ia sedang mengalami Jetlag, itu tidak mungkin. Ia tidak pernah merasakan ini sebelum sebelumnya.
__ADS_1
"Kepalaku begitu pusing, aku tak bisa membantumu menata ini semua." kata Adelia.
"Hei kamu pasti capek, tidurlah sana." teriak Nara menunjuk sebuah kamar kosong.