Married For Pellets

Married For Pellets
Nenek tua


__ADS_3

"Aku ingin membelikan oleh-oleh untuk mama guci antik ini." Adelia memilah-milah guci pilihannya yang unik dan terlihat klasik itu.


"Jangan beli barang yang akan menyulitkanmu." Raka mengingatkan.


"Tapi aku ingin membelikan untuk mama."


"Tidak, aku tidak setuju, nanti kau akan kerepotan sendiri saat dijalan menuju pulang." Raka tak memberikan ijin padanya.


"Kau ganti saja yang lainnya, nanti kau boleh minta apa saja padaku."


Mendengarkan kalimat itu membuat Adelia bersemangat, dan akhirnya pilihannya jatuh pada tas yang klasik dan elegan. "Sebenarnya tidak sulit juga membujuknya." batin Raka memperhatikan istrinya yang saat ini sedang memilah-milah tas untuk ibunya sendiri dan juga ibu mertuanya.


"Kalau untuk papa aku belikan dompet ini, bagaimana?" Adelia menunjukkan sebuah dompet yang terlihat sederhana, tetapi berbahan dasar kulit yang berkualitas, sehingga mampu membuatnya memiliki nilai jual tinggi.


"Baiklah terserah kau saja,"


Icha meneruskan memilah-milah barang yang menurutnya bagus, dan Raka hanya membuntuti istrinya dari belakang, serta dirinya jugalah yang bagian membayar.


"Sudah?" tanya Raka setelah mengambil dan selesai membayar, memasukkan kembali kartu ajaibnya kedalam saku celananya.


"Ehmm iya sudah, aku rasa semua orang rumah sudah ku belikan."


"Ck, semua orang saja kau belikan, tapi kau lupa membelikan untuk suamimu." gumam Raka pelan, tetapi mampu ditangkap pendengaran Adelia.


"Kenapa kau tak bilang padaku dari tadi, jika ingin aku belikan juga." Adelia yang berjalan mendahului Raka berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Raka.


"Sudahlah tak usah, aku sudah tak berselera lagi." Raka mengikuti berhenti di tengah jalan juga.


"Habis ini mau kemana lagi?" tanya Raka pada istrinya.


"Aku belum membeli kue-kue kering khas sini, kau tahu, dimana letak toko kue kering khas daerah sini." Adelia berjalan riang sambil bersenandung. Namun ketika ditengah jalan saat melihat kerumunan orang, dirinya melihat nenek-nenek tua berambut putih sedang mengawasinya.


Seketika langkah kakinya berhenti dan berputar memeluk suaminya, kedua pengawal Raka yang ia ajak bersamanya untuk membawa barang-barang belanjaan istrinya ikut berhenti juga.


"Kau kenapa?" tanya Raka yang heran melihat tingkah istrinya.


"Kakak aku takut." memeluk Raka erat, bersembunyi di dada bidang Raka.


"Apa yang kau takutkan?" Raka.


"Aku terus diawasi oleh nenek-nenek tua berambut putih." lirihnya, badannya gemetaran dan seluruh tubuhnya menggigil.


"Baiklah kalau begitu kita kembali ke resort saja iya?" tanya Raka.


"Aku tidak mau?"


"Lalu...?"


"Aku masih ingin jalan-jalan, tapi suruh nenek itu pergi."


"Iya tapi nenek yang mana? coba kau tunjukkan."


Adelia memberanikan diri, menoleh pada kerumunan yang tadi tempat nenek tua berada.


"Disana kak, dia masih disana melihatku." seketika Adelia mengeluarkan keringat dingin dipelipisnya.


"Disana mana?" Raka mengikuti arah pandang Adelia, namun tak juga menemukan nenek tua berambut putih itu.

__ADS_1


"Ada kak, dia masih disana?" tunjuknya kearah yang sama.


"Tapi aku tak melihatnya sama sekali." Raka.


"Baiklah, ayo jalan, pegang tanganku, jangan lihat ke arah sana lagi jika kau takut." Raka menarik pinggang istrinya, untuk melanjutkan jalan-jalannya.


"Jadi gimana?" tanya Raka pada Adelia setelah saat ini mereka berada di restauran di area pusat oleh-oleh itu.


"Apanya yang gimana?" tanya Adelia balik, sambil membolak-balikkan buku menu di tangannya.


"Jadi melanjutkan jalan-jalannya apa kembali saja ke resort."


"Sudah ku bilang, aku tak mau kembali." omelnya.


"Baiklah, mau jalan kemana lagi?" tanya Raka datar, menatap istrinya menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Adelia.


"Aku masih ingin berkeliling."


"Sudah tidak takut lagi?"


Adelia menggelengkan kepalannya. "Baiklah kalau begitu sesuai permintaanmu."


Tak berapa lama pelayan datang mencatat pesanan mereka. "Aku taku dengan pandangan nenek-nenek tadi." ungkap Adelia akhirnya.


"Sebenarnya nenek-nenek berambut putih yang kau bicarakan itu dimana letaknya?" Raka sambil membuka ponselnya.


"Tadi aku melihatnya duduk di samping orang-orang yang sedang berkerumunan."


"Kau tahu, dia tadi terus memandangku aneh."


Raka yang sambil membuka email di ponselnya tidak begitu memperhatikan cerita Adelia, namun dirinya mampu menangkap ceritanya.


"Apanya yang terus, aku merasa dia bukan manusia."


"Kalau bukan manusia apa lagi?"


"Dia seperti setan yang menyamar menjadi manusia."


"Kenapa kau berpikir demikian?" tanya Raka sambil membalas email masuk di ponselnya.


"Karena aku melihatnya dari cara memandangku."


"Bisa saja karena dia memang manusia."


"Kamu saja yang terlalu berlebihan." Raka.


"Terserah kakak saja, itu hanya dugaanku."


Adelia jadi malas membahas hal ini lagi, dirinya memang ciri orang yang sangat penakut. Mengetahui hal demikian malah membuat bulu kuduknya terasa merinding.


"Ini nona, taun silahkan dinikmati." seorang pelayan menyajikan beberapa menu diatas meja pengantin baru itu.


"Ehmm iya terimakasih." jawab Adelia ramah.


Selesai makan siang, Raka dan Adelia melanjutkan keliling pusat oleh-oleh itu hingga petang datang.


"Ini sudah sore, apa kamu masih ingin belanja?" tanya Raka menoleh pada Adelia.

__ADS_1


"Ehmmm iya sebentar lagi." Adelia masih saja memilah-milah barang yang ingin dibeli.


"Sebentar lagi ada datang waktu slurup nak, kau harus kembali sebelum slurup datang." bisikan dari seorang nenek tua, seolah mengingatkan Adelia.


Adelia menoleh ke belakang, tak ada siapa-siapa,"Kak.."


"Iya kenapa?" tanya Raka ketika dirinya dipanggil.


"Apa di belakangku tadi ada yang lewat, nenek-nenek tua kak?"


"Tidak ada nenek disini."


"Tapi tadi aku seperti mendengarkan suara nenek tua."


"Mungkin kamu hanya sedang berhalusinasi saja."


Adelia terdiam, dia masih bingung dengan dirinya sendiri, apa lagi Raka suaminya menganggap dirinya sedang berhalusinasi saja.


"Kak aku sudah selesai, ayo kita kembali."


Karena waktu sudah hampir petang, maka Adelia mengajak suaminya bermalam lagi di hotel terdekat pusat perbelanjaan oleh-oleh.


Adelia menaruh tasnya asal di atas ranjang, dan pikirannya masih terngiang-ngiang suara seorang nenek tadi.


"Apa kamu tak ingin mandi?"


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Raka setelah dirinya selesai mandi dan mengusap kepalannya yang basah dengan handuk.


"Ehh iya kak, aku akan mandi." Adelia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi.


Sebetulnya tadi Adelia melihat banyak hal, namun tak ia ceritakan pada Raka. Ia takut jika dirinya dianggap berhalusinasi oleh Raka suaminya.


"Kakak besuk kita akan balik kapan?" tanya Adelia saat dirinya bercermin selesai dari mandinya.


"Ehmm besuk sore jam dua?"


"Kenapa?" tanya Raka yang duduk santai di ranjang dan kepalanya ia sandarkan pada sandaran.


"Tidak ada, aku hanya bertanya saja kak."


"Kak..."


"Hemm apa lagi?"


"Apa setelah ini kita tinggal di apartemen lagi?"


"Ehmm mungkin."


"Kenapa kau tanyakan hal ini?"


"Apa kau ingin tinggal dirumah saja?"


"Tidak kak, aku akan mengikuti dimana pun kakak berada."


"Kenapa kelihatan manis sekali bicaramu."


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2