Married For Pellets

Married For Pellets
Kunjungan Nara


__ADS_3

"Oh jadi istri Anda sedang hamil 7 bulan ya Tuan?" tanya Nara ramah.


"Ya anda benar, nona tolong bisa bantu saya untuk memilihkannya."


Nara sibuk memilih berbagai jenis merk susu dan juga kualitas, serta kandungan yang ada di dalamnya. Sambil membolak-balikkan kardus yang berbentuk persegi panjang. Mulai dari harga yang termurah, sedang dan juga harga yang paling mahal.


"Sepertinya ini cocok pada istri Anda tuan, karena temanku juga sedang meminum ini." kata Nara menyodorkan sebuah kardus susu berwarna persegi panjang yang harganya paling mahal, dengan kandungan gizi yang paling lengkap.


Arka lalu menerimanya dari tangan Nara, dirinya melihat dari packaging-nya saja sudah meyakinkan pembeli. Tanpa diduga, Raka mengambil begitu banyak dus dan varian berbagai rasa.


Wih masih muda, tampan, tetapi sayang sebentar lagi sudah akan memiliki anak. Pasti istrinya juga cantik. Batin Nara setelah melihat kepergian Raka.


Pikiran Nara jadi melayang memikirkan bagaimana kondisi Nara saat ini. Apakah temannya itu baik-baik saja atau disekap oleh suaminya, dan disiksa tidak diberi makan. Nara jika teringat itu menjadi khawatir sendiri.


Nara sudah bertekad dirinya kali ini meminta izin pada bosnya untuk pulang lebih cepat, supaya Nara bisa mencari keberadaan sahabatnya Adelia, ia berinisiatif untuk melihat dari gps-nya yang ternyata masih aktif saat ini. Dan berada yang tidak jauh dari letak tempat tinggalnya. Untung saja Nara lebih dulu menyadap ponsel Adelia, bukan apa-apa. Dirinya khawatir jika terjadi sesuatu dengan Adelia, maka Nara adalah orang pertama yang akan berjuang untuk sahabatnya ini.


Keluar dari supermarket, Nara lekas bergegas mengendarai sepeda kayuhnya. Karena setiap kali dirinya perjalanan menuju tempat kerjanya yang tidak jauh. Nara hanya mengendarai sepeda kayuh. Di kota Tokyo memang jarang sekali orang mengendarai mobil, karena pemerintah di sana mewajibkan semua orang mengendarai sepeda kayuh.


Sehingga udara dingin di sana masih alami dan udaranya segar. Masih bersih tanpa tercemar asap kendaraan, baik motor maupun mobil.


Kanan kiri ditanami pepohonan yang sangat rindang, setiap sudut kota terdapat bunga sakura sehingga kota Tokyo terlihat sangat indah baik siang hari maupun di malam hari.


Tidak butuh waktu lama untuk Nara sampai pada tempat yang ditunjukkan kepada GPS di ponsel pintarnya. Nara berhenti mengendarai sepeda kayunya, ia begitu takjub melihat rumah yang menjulang tinggi dengan pilar-pilarnya, yang terlihat sampai keluar pagar. Padahal pagar ini sangat tinggi menurutnya, sepertinya suami Adelia ini memang bukan orang sembarangan pikir Nara.


"Pantas saja suamimu banyak yang menggoda, dia memang sangat kaya raya. Tapi aku penasaran bagaimana rupa wajah suamimu." gumam Nara menggelengkan kepalanya sendiri, lalu memarkirkan sepeda kayunya di pinggir gerbang pintu masuk.

__ADS_1


Tangan Nara terulur untuk memencet tombol. Ternyata depan gerbang juga terdapat layar monitor, yang tersambung langsung sampai ke dalam rumah untuk mengetahui pemiliknya, siapa yang sedang bertamu di rumahnya, kebetulan sekali jika saat ini Adelia keluar kamar.


Karena merasa jenuh dirinya berada di dalam kamar terlalu lama, bagaikan ketiban durian runtuh saat matanya menangkap kepala pelayan Jo, dan beralih melihat layar monitor yang saat ini sedang dibuka oleh kepala pelayan Jo.


Nampaklah di sana wajah Nara yang melihat ke arah kamera. Sontak saja Adelia begitu antusias dengan kedatangan sahabatnya ini.


"Itu temanku, kau harus menyuruhnya masuk." teriak Adelia tiba-tiba saja mengagetkan kepala pelayan Jo, dan membuat kepala pelayan Jo menengok seketika, ternyata Nyonya nya sudah berada di belakangnya.


"Anda sudah turun nyonya?" tanya kepala pelayan Jo mengalihkan pembicaraan dengan cepat salah satu jarinya menutup layar monitor itu.


"Kau tak usah mengelabuiku, aku sudah tahu siapa tadi ada di dalam layar monitor itu." ucap Adelia ketus.


"Jika tidak kau buka sekarang, maka aku akan mengadu pada suamiku kau tahu itu."


"Maaf Nyonya, tapi saya harus meminta izin dulu pada tuan." ucap kepala pelayan Jo bersihkukuh.


"Anda berbicara sesuatu nyonya?"


"Ya kau buka pintunya sekarang, ku hitung 1 sampai 3 jika kau masih bersih kuku tidak mau membukanya, aku sendiri yang akan membukanya."


"Apa yang kalian ributkan?" suara bariton itu tiba-tiba saja terdengar menginterupsi dua orang yang saling berdebat.


"Ini dia ada sahabatku datang, dan kepala pelayan Jo juga tidak mau membukanya, aku sedikit kesal padanya. Kau turunkan saja dia jabatannya menjadi tukang kebun di luar sana." ketus Adelia yang cari pembelaan pada Raka.


"Buka sekarang pintunya." perintah Raka matanya beralih ke arah Jo dengan tatapan tajam tanpa mau dibantah.

__ADS_1


Kepala pelayan Jo menganggukkan kepalanya, lalu berjalan keluar untuk menyuruh security membuka gerbang besar itu. Dan Adelia bersorak girang lompat-lompat, hingga membuat Raka terasa ngilu hanya melihat istrinya bertingkah demikian. Seperti inikah cara bahagiamu


batin Raka. Padahal hanya tangan sahabatnya.


"Hentikan tingkahmu itu, atau aku akan menyuruh temanmu itu pulang."


"Tidak tidak jangan, kau tahu? aku merasa jika kepala pelayan Jo itu hanya mau menurut padamu saja, dan dia tidak mau kuatur."


"Aku yang menggajinya, tentu saja dia hanya nurut padaku."


"Ya ya aku tahu, tapi tidak begitu juga. Itu membuatku sangat kesal. Kau harus tahu itu." protes Adelia memelototkan matanya ke arah Raka tanpa takut sedikitpun.


Kau sudah pernah dikhianati sahabatmu seperti itu, tetapi masih saja memiliki teman perempuan. batin Raka melihat wajah istrinya begitu intens.


Raka berpamitan kepada Adelia untuk kembali ke atas, ia memberikan ruang untuk istrinya dan juga sahabatnya. Agar sahabatnya juga tidak sungkan mau bercerita tentang hal apapun kepada istrinya nanti. Namun tetap dalam pengawasannya. Untuk kali ini ia harus menjaga istrinya begitu ketat.


"Silakan masuk nona." perintah Jo kepada Nara. Yang baru saja dibukakan pintunya.


Nara hanya mengangguk saja sebagai jawabannya


Matanya sibuk menoleh ke sana kemari, melihat setiap ukiran yang ada di dalam rumah itu. Rumah ini bagaikan kastil di dalam gambar yang pernah ia lihat, mulai dari desainnya, lampu yang menggantung di langit-langit, ada juga gorden yang menjulang sangat tinggi, terlihat sangat indah di matanya.


"Benar-benar kualitas premium semua." batin Nara.


" Hei kau menemukanku." teriak Adelia.

__ADS_1


Nara berlari menuju ke arah Adelia yang duduk di kursi premium, lalu mereka saling berpelukan dengan Adelia. Melihat di setiap sudut tubuh Nara, memeriksa mulai dari wajahnya, tangannya semuanya yang ada di dalam diri Adelia.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau memeriksa ku begini seperti sedang tes sipil saja?" tanya Adelia pada Nara yang sibuk memeriksa seluruh tubuhnya.


__ADS_2