
Dokter Yuki terdiam,"Berarti yang mana yang istrinya, teman kamu tadi yang menjadi selingkuhannya atau bagaimana?" tanya dokter Yuki malah berbalik kepo.
"Iya mana aku tahu, kalau aku sudah tahu aku tak akan bertanya padamu."
"Ck, itulah akibatnya jika teman menikah dan kamu tak menghadirinya." jawab dokter Yuki dari seberang sana.
Akhirnya dokter Yuki menyerah, mendapatkan desakan dari sepupunya. "Tapi ingat ini adalah privasi dokter pada pasiennya, kau tak boleh membocorkannya pada siapa pun." dokter Yuki kembali memperingatkan.
"Baiklah sepupuku yang baik hati, jangan khawatir, ini hanya untuk aku sendiri saja." balas Nara.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Nara segera membuka vidio yang di kirim oleh dokter Yuki. Mengamati dengan seksama.
"Lelaki yang ada di dalam vidio ini aku akui memang sangat tampan, tapi aku menduga jika lelaki inilah yang menyebabkan temanku Adelia melarikan diri kemari." gumam Nara pelan.
Setiap gerak geriknya Nara amati, tidak ada yang aneh, sepertinya dirinya harus bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Icha.
Iya Nara sudah mengantongi plat nomor mobilnya, sekarang waktunya dirinya mengeksekusi ponsel Adelia.
Malam hari, begitu Nara tiba dari kantor, ia meletakkan tas kerjanya sembarang di sofa ruang tengah, melihat sekeliling apartemennya sedamg sepi, bahkan lampunya saja belum menyala, sudah di pastikan jika Adelia masih memejamkan matanya.
Langkah kakinya membawanya masuk ke dalam kamar, dan benar saja Adelia masih terlelap, bagaikan mendapatkan sebuah keberuntungan untuk Nara. Karena ketika tangannya membuka ponsel Adelia di atas meja Nakas, ia membuka dengan menggunakan tanggal lahirnya, dan ternyata cocok.
"Tenanglah Nara, tenang, dia masih terlelap di alam mimpinya." gumam Nara berusaha tenang. Membuka ponsel orang tanpa ijin.
Benar saja jika nomor yang di blokir ada dua, yang satu bernama Raka dan satunya lagi Ivan. "Ivan.. setahuku yang bernama Ivan itu mantan pacarnya." gumam Nara pelan.
Lalu dengan segera Nara mengetik nomor ponsel yang bertuliskan Kak Raka ke ponselnya. Karena sudah dilanda rasa penasaran. Nara membuka galeri ponselnya.
Ternyata benar, ia mendapati wajah perempuan dan lelaki yang ada di dalam Vidio itu. "Oh Tuhan inilah alasannya kenapa aku belum mau menikah." gumam Nara lagi.
Lalu meletakkan kembali ponsel Adelia diatas nakas, mengatur nafasnya sendiri yang naik turun. Ia baru melihatnya saja rasanya sudah panas, seperti terbakar api cemburu. Apa lagi yang berada di posisi Adelia.
"Ck, sahabat macam apa yang mengambil suami temannya sendiri." gumam Nara menggelengkan kepalanya.
Beberapa menit dirinya berada di dalam kamar dengan ruangan yang masih gelap membuat Nara menyalakan lampunya. "Kau sudah pulang?" tanya Adel.
"Iya, kamu juga terlelap sejak kapan, sudah gelap begini masih membuatmu nyenyak dialam mimpi." jawab Nara.
"Iya aku rasanya malas ngapa ngapain, tidak tahu kenapa, kehamilanku ini membuatku malas berbuat sesuatu."
__ADS_1
"Tak apa, asalkan keponakanku baik baik saja."
"Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan makanan untukmu." kata Nara.
Lalu bergegas ke wastafel, mencuci muka dan pergi ke arah dapur. Membuat makanan sehat untuk ibu hamil, lebih tepatnya untuk Adelia dan calon anaknya.
Satu jam tepat, makanan yang dibuat Nara sudah selesai, tersaji berbagai hidangan disana. "Biar aku tebak kalau kamu belum makan apa apa sejak tadi siang?" kata Nara.
Adelia menggelengkan kepalanya, "Maafkan aku,"
"Maaf untuk apa?" tanya Nara, melepas Appron yang melekat ditubuhnya. Lalu merapikan pantry yang berantakan.
"Aku selalu merepotkanmu."
"Hei kau ini bicara apa? tidak ada yang direpotkan."
"Aku akan mandi sebentar, tunggu aku setelah itu kita makan bersama." Adelia.
Tanpa menunggu jawaban dari Adelia, Nara melesat melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya bersama Nara. Tidak berapa lama keluar dari sana dengan wajah lebih segar dan baju tidur pendek sebatas lutut.
"Cepat sekali kamu mandinya?" tanya Adelia.
"Tentu saja cepat, kalau lama lama keponakanku bisa kelaparan nanti."
"Aku biasa melakukan apa pun dengan cepat, aku rasa kamu juga sudah tahu kan." kata Nara, lalu mendudukkan tubuhnya di seberang Adelia.
"Ehmmm iya, dan kau memang pandai segalanya, tidak seperti aku, yang bahkan hanya memasak saja tidak becus."
"Jangan bicara seperti itu, semua orang itu belajar. Jika kamu mempelajarinya dengan sungguh sungguh nanti juga akan bisa."
"Sudah ayo makan, nanti keburu keponakanku ileran."
"Ck, apaan kamu ini, belum juga tahu rupanya sudah ngejudge begitu."
"Aku hanya mengantisipasinya saja."
Tanpa diminta, Nara meletakkan berbagai makanan di atas piring Adelia sampai penuh. "Hei aku bukan anak kecil yang perlu kau ambilkan makanan."
"Aku bisa sendiri tahu." kata Adelia.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi aku ingin keponakanku nanti tumbuh sehat, dan sangat lucu, jadi aku harus memastikan kalau ibunya makan dengan lahap." jawab Nara santai.
"Selalu saja semaunya,"
"Jangan cemberut, ayo makanlah, aku sengaja masak makanan spesial untuknya,"
"Kok aku tidak melihat Sashimi." tanya Adelia.
"Mulai hari ini sampai kamu melahirkan nanti, tidak ada makanan yang bernama Sashimi."
"Kau tahu, kalau ibu hamil itu tidak boleh mengkonsumsi makanan mentah." kata Adelia, lalu mengambil makanan dengan sumpit dan melahapnya sendiri.
"Jadi mulai sekarang, yang tersaji diatas meja adalah masakan matang semuanya, tidak ada makanan mentah." tegas Nara sekali lagi.
"Tapi sedikit saja, aku ingin memakannya." kata Adelia memelaskan wajahnya.
"Tidak, apa kamu mau anakmu nanti lahir abnormal?" tanya Adelia memicingkan matanya, seperti seorang suami yang memarahi istrinya yang tidak mau menurut.
Adelia menggelengkan kepalanya, lalu kembali memakan makanan yang tadi diambilkan Nara dengan setengah terpaksa.
"Jika kamu ingin memakan yang lainnya maka akan aku turuti."
"Makan buah buahan misalnya, asal jangan makanan mentah saja."
"Baiklah aku ingin buah Peach dan Blackberry." kata Adelia.
"Habiskan dulu makanmu, kita akan pergi keluar setelah ini."
"Ck aku seperti sedang mengeluh pada seorang suami saja." kata Adelia lagi.
"Anggap saja begitu." jawab Nara santai.
Mereka melanjutkan makan malamnya, dan tak ada lagi pembicaraan setelahnya. Tetapi setelah makan membuat Adelia menguap beberapa kali. "Biar aku saja yang mencuci piringnya." Nara mengambil alih spon pencuci piring yang ada ditangan Adelia.
"Aku hanya hamil, tidak sedang sakit, kenapa kamu selalu saja tidak mengijinkan aku melakukan sesuatu." rajuknya.
"Belum waktunya, jika nanti keponakanku sudah lahir, aku akan menyuruhmu melakukan banyak hal." jawab Nara santai.
"Jadi ceritanya mau balas dendam begitu?"
__ADS_1
Nara menggedikan bahunya tak tahu, Adelia duduk fi sofa ruang tengah, lalu teringat akan keberadaan ponselnya. Walaupun dirinya sudah mengganti nomornya, tetapi semua penyimpanan terhubung ke Go*gl* penyimpanan. Sehingga semua kontak tidak ada yang hilang, termasuk yang ia blokir sekalipun.
Adelia memberanikan diri, membuka blokirannya. Dan ternyata banyak sekali pesan masuk. Dirinya menoleh ke belakang, mencari keberadaan Nara, memastikan dirinya aman ketika sedang membaca pesan pesan dari Raka.