Married For Pellets

Married For Pellets
Bertemu Bayangan


__ADS_3

"Ini pertama kalinya saya membawanya ke tempat tinggal baru." jawab Raka dengan satu kali tarikan nafas. Pikirannya kosong memandang istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Istri saya terlihat tidak senang, tetapi apakah ada cara lain untuk membuat istri saya senang dokter?"


"Saya sarankan untuk tidak membuat istri anda syok dan cemas tuan, karena usia kandungan nyonya baru berjalan tujuh bulan,"


"Jika ibunya bahagia, maka bayinya juga akan merasakan bahagia, tetapi jika sebaliknya, maka nyonya bisa mengalami kelahiran prematur tuan." jelas dokter Kimbab panjang lebar.


"Ini vitamin tambahan yang saya resepkan tuan, anda bisa menebusnya di apotik terdekat."


"Periksa dia setiap hari, aku akan menggajimu seperti yang kau inginkan." kata Raka terdengar arogan. Ketika dokter Kimbab yang hampir saja berdiri dari duduknya.


"Tapi tuan saya memiliki pasien dirumah sakit,"


"Kau turuti perintahku, atau kau akan dipindahkan dari rumah sakit tempatmu dinas saat ini?" kata Raka terdengar mengerikan dengan ancamannya.


Akhirnya dokter Muda yang bernama Kimbab itu menyetujui permintaan Raka. Mulai besuk dirinya yang akan memeriksa keadaan Adelia setiap pagi.


Setelah dokter Kimbab kembali, Raka meminta pelayan Jo untuk membawakan makanan bergizi dan juga buah buahan.


Namun Adelia tak kunjung membuka matanya, mungkin juga karena efek dari kelelahan. Perkiraan setelah diberikan injeksi sekitar dua atau tiga jam Adelia akan terbangun dari tidurnya.


Malam hari, Adelia mengerjapkan matanya, melihat ke sekeliling ruangan, "Dimana aku." rintihnya pelan.


Ingatannya kembali ketika dirinya tadi pingsan karena perutnya terasa kram. Setelah itu dirinya tidak ingat lagi dirinya kemana. Tetapi didalam ruangan ini bisa ia tebak jika Adelia masih berada didalam rumah besar Raka.


"Auuuhhhh kepalaku." gumamnya pelan, memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Ternyata tangannya terhalang oleh selang infus.


Kliikkk


Suara pintu dibuka dari luar. Menampakkan tubuh gagah Raka berjalan menuju je arahnya. "Apa yang kau butuhkan?"


"Hah tidak ada,"


Tanpa bertanya lagi Raka mengangkat tubuh Adelia dan membawanya ke dalam kamar mandi. Dengan reflek Adelia membawa botol infus ditangan satunya.


"Kenapa kakak masih disini?" tanya Adelia yang merasa sangat canggung.


"Tentu saja menunggumu, untuk apa lagi?"


"Kakak tunggu diluar saja, nanti kalau membutuhkan sesuatu aku akan memanggil kakak."

__ADS_1


"Apa kau yakin?" tanya Raka yang bersedekap dada bersandar pada cermin.


Adelia mengangguk, tatapan matanya ia palingkan ke sembarang arah. Lalu Raka berjalan keluar ruangan kamar mandi dan menunggu di kursi sofa kamarnya.


"Aduhh susah sekali, kenapa juga aku mengalami kondisi seperti ini." gumam Adelia, melihat dirinya sendiri di depan cermin, sekilas dirinya melihat bayangan nenek tua yang selama ini mengikuti dirinya.


"Pertahankan rumah tanggamu nak, ini hanya cobaan terberat dalam hidupmu, jika kamu mampu maka hidupmu akan bahagia."


"Jangan berteman akrab lagi dengan teman kamu yang licik itu, dia sangat iri padamu, dia berniat merebut apa yang sudah menjadi milikmu, dan anak itu bukan anaknya suami kamu." bisik nenek tua dibelakang Adelia.


Membuat Adelia bernafas terengah engah ketakutan, "Siapa kamu?" tanya Adelia menoleh ke belakang, mencari ke arah sumber suara.


Bayangan nenek tua itu berpindah dipojokan. "Aku adalah nenek moyangmu yang akan melindungimu nak, siapa pun yang berniat akan mencelakai kamu akan aku singkirkan." lalu nenek tua itu kembali menghilang.


"Tidak, tidak aku tidak mau kamu ikuti." kata Adelia, kedua tangannya menutup telinganya. Hingga kepanikan dirinya tidak sengaja menyenggol wadah di hadapannya dan membuatnya jatuh. Yang menimbulkan suara bising.


Perasaan Raka diluar tidak enak, serasa ada yang kurang, dirinya bergegas menemani Adelia, takut jika terjadi sesuatu didalam sana.


"Adel Adel?" suara Raka ketika dirinya kembali memasuki ruangan kamar mandi yang begitu luas.


"Tidak tidakkkk pergiii." teriak Adelia. Nafasnya tersengal sengal. Dirinya hampir saja terjatuh dari lantai. Namun tangan Raka lebih dulu menangkap tubuh istrinya.


"Kamu kenapa?" tanya Raka, mendekap tubuh Adel.


Wajah Adelia berubah pucat ketakutan, dengan reflek memeluk Raka, menelusupkan wajah cantiknya ke dada bidang suaminya.


"Ada aku, tak ada yang bisa menyakitimu, siapa pun itu." bisik Raka lembut.


"Apa sudah selesai?" tanya Raka.


Adelia melepaskan pelukannya, setelah dirinya berhasil menguasai dirinya, matanya menatap manik coklat suaminya. Iya Raka memang keturunan darah Rusia, Chinese. Sehingga wajah tampannya tak dapat dipungkiri lebih dominan wajah orang orang Rusia. Tetapi kulitnya putih pucat.


Mulut Adelia terkatup rapat belum mau bersuara terkait baru saja yang dialaminya. "Apa Vera tidak mencarimu?"


"Pergilah temui Vera, aku tidak apa dirumah sendirian." kata Adelia mengalihkan pembicaraan.


"Apa yang kau bicarakan?"


"Aku tidak apa apa sendirian disini, masih ada kepala pelayan Jo, dan juga banyak pelayan disini."


"Vera pasti akan mencarimu." ucap Adelia, matanya menatap ke sembarang arah. Walaupun hatinya begitu sakit.

__ADS_1


"Aku masih ingin disini, bersama anakku, apa kamu tidak merindukanku?"


"Aku masih merindukan dia." kata Raka, tangannya terulur, menyentuh perut buncit Adelia.


"Aduuhhhh." erang Adelia menyentuh perutnya.


"Kenapa? mana yang yang sakit?"


"Tidak tidak, tidak kenapa kenapa, mungkin dia hanya terkejut saja disentuh orang baru." ucap Adelia pada Raka.


"Apa kamu bilang? orang baru? aku ayahnya kalau kamu lupa." kata Raka matanya memicing.


"Percaya diri sekali, bagaimana jika anak ini bukan anak kamu." ucap Adelia malah memancing Raka.


"Apa kamu yakin kalau anak ini bukan anakku, aku masih sangat ingat, jika malam pertama kita, akulah yang membuka segelnya." bisik Raka ditelinga Adelia.


Membuat wajah Adelia merona, membuang muka ke sembarang arah. Lalu Raka mengangkat tubuh Adelia yang sudah bertambah berat badannya.


"Aku bisa jalan sendiri, kenapa selalu kamu angkat tubuhku," protes Adelia, namun tak ada niatan dirinya turun dari gendongan bridal Raka.


"Sstttt diamlah, jangan banyak protes."


"Aku rasa aku tidak perlu memakai ini, aku sudah baik baik saja, oh iya Nara pasti mencariku, tiba tiba saja aku menghilang dari apartemennya."


"Tolong kembalikan aku ditempat Nara malam ini juga." pinta Adelia.


"Ini sudah malam, tidak baik untuk ibu hamil keluyuran di malam hari."


"Aku rasa tidak apa apa, karena menggunakan mobil kan."


"Kau lihatlah diluar sana," kata Raka, membuka gorden mewahnya, dan memperlihatkan sesuatu pada Adelia.


"Apaan?" tanya Adelia, pandangannya mengikuti arah pandang Raka.


"Badai salju sebentar lagi akan turun, kamu akan kedinginan jika berada diluar rumah lama lama."


"Diamlah disini, dan isi perutmu sekarang."


Tanpa diminta, Raka mengambil makanan yang tersaji di atas meja di sebelah Adelia. Dan menyuapkan ke mulut Adelia.


"Aku bisa makan sendiri, tapi aku rasa aku menginginkan buah Peach malam ini."

__ADS_1


"Dingin dingin begini kamu ingin makan buah Peach?" tanya Raka memastikan.


__ADS_2