Married For Pellets

Married For Pellets
Lamaran Ivan


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa waktu Adelia menempuh pendidikan di jenjang sekolah menengah atas tinggal beberapa hari, komunikasi dirinya dengan Ivan selama ini juga lancar tak ada kendala.


Sebentar lagi Adelia akan wisuda sebagai siswa di sekolah menengah atas begitupun juga Nita yang satu kelas dengannya.


"Habis kamu pergi Inggris, sedihnya aku" Vera teman Adelia


"Udahlah kamu tak usah lebay seperti itu" omel Adelia


"Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya" tanya Vera


"Aku rasa sudah"


"Lalu kapan kau akan berangkat ke sana " tanya Vera lagi


"Sebentar lagi setelah wisuda" Adelia


"Bagaimana dengan dirimu" tanya Adelia balik


"Aku ya kuliah di dekat sini aja, itu pun aku memasuki lewat jalur beasiswa" Vera


"Belajarlah yang rajin, dan jangan banyak mengeluh" omel Adelia


"Baiklah nona begitupun juga dirimu, jika nanti sudah sukses jangan lupakan temanmu ini" Vera


"Tak akan, ayo kita ke kantin" ajak Adelia sambil menggandeng tangan Vera.


***


Waktu yang ditentukan telah tiba, kini saatnya Adelia akan berangkat ke Inggris, beberapa minggu lalu dirinya telah mengikuti tes virtual ke University of Dundee kebetulan entah keberuntungan Adelia memasuki sepuluh besar hasil tes akhir itu.


Kini yang mengantar keberangkatannya ada Vera, ayah ibunya serta adik laki-laki Adelia yang duduk di bangku sekolah menengah.


"Kakak aku pasti akan kesepian, jika ditinggal kakak nanti"


"Cek kau ini belajar yang rajin, jadilah anak kebanggaan papa dan mama, kakak pergi untuk belajar, kau tak usah menangis seperti itu" omel Adelia pada adiknya itu


"Bagaimana kalau aku kangen kakak" keluh Adam penuh drama, bagaimana tidak kakak beradik itu jika bertemu pasti berantem dan jika jauh maka akan saling merindukan.


Ayah dan ibunya Adelia menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya itu.

__ADS_1


"Sudahlah son, doakan saja kakakmu agar semuanya berjalan lancar supaya belajarnya cepat selesai" ayah Adelia Tuan Alison itu menengahi pembicaraan kakak beradik itu.


"Kamu kayak jaman dahulu saja, telpon kakak lah kalau kamu kangen" sambil menoel pipi adiknya itu


Sedangkan Vera mengamati percakapan kakak beradik itu tersenyum tipis sambil menyimak, sebentar lagi pesawat akan berangkat penumpang diminta memasuki tempat duduknya masing-masing. Ayah dan ibu Adelia memeluk putrinya itu bergantian, mereka menahan air mata tok kapan hari jika ada perjalanan bisnis keluar negeri juga bisa mampir kan pikirnya.


Berganti memeluk Vera dan terakhir adik bungsunya itu, "Kau sekarang yang bersama mama dan papa, jadilah anak yang baik"


"Jika ada apa-apa kau bisa hubungi kakak" Adelia memberikan petuah terakhirnya


Adam menunjukkan muka sedihnya saat Adelia berjalan semakin jauh tak terlihat dari pandangannya.


Sebelum Adelia berangkat tadi dirinya telah melakukan panggilan vidio call sebentar dengan Ivan. Kebetulan tadi Ivan sedang bersama Raka.


Tentu saja Raka mendengar sedikit banyak percakapan mereka. Sedangkan Raka nanti akan meminta tolong pada Ivan menemani dirinya menjemput Nita di bandara.


Iya Nita telah mengikuti kakaknya kuliah di Jerman, mungkin alasan pertama karena ada kakaknya ada yang menjaganya dan yang ke dua karena ada Ivan lelaki idolanya.


"Kenapa Nita ikut kuliah bersamamu" tanya Ivan penasaran


"Iya impiannya kan jadi seorang Arsitek, mungkin dia ingin mengasah kemampuannya" Raka menjawab hanya berdasarkan yang di simpulkan sendiri. Mana tahu Raka jika Nita memiliki maksud tertentu


"Dia akan tinggal bersamaku nanti"


"Kau sudah gila, bagaimana bisa seperti itu" Ivan


"Ehmm iya karena, karena aku tak tega jika dirinya itu nanti tinggal sendiri, sementara dia belum mengerti seluk beluk kota ini" Raka menjelaskan,


"Terserah kau sajalah" Ivan sudah malas jika sudah seperti ini, bagaimana tidak waktunya keluar masuk ke apartemen Raka tak akan sebebas dulu saat dirinya masih tinggal sendiri.


Walaupun mereka berdekatan tempat tinggal tetap saja ada kecanggungan dan menghindari prasangka buruk kekasihnya Adelia.


"Halo kakak" Nita berlari menyambut kedatangan Raka dan memeluknya.


"Apa sudah dari tadi kamu menunggu" tanya Raka


"Tidak kak, hanya setengah jam saja kira-kira" Nita


Nita menoleh ke arah Ivan "Hallo kak Ivan" sapanya pada Ivan

__ADS_1


"Iya hallo " sapa Ivan canggung


Seperti mendapatkan jakpot keberuntungan saja Nita dirinya bertemu Ivan hari ini. Memang inilah tujuan utamanya yaitu mendekati Ivan serta menghancurkan hubungan Adelia dan juga Ivan. Hingga dirinya jauh-jauh mengikuti Raka kuliah di Jerman.


"Ayo sini barang kamu kakak bawain" Raka mengambil koper Nita dan menaruh dibagasi mobilnya sementara Ivan memasuki kemudi mobilnya menunggu dua orang masuk.


Ivan duduk di kursi kemudi, Raka di samping Ivan dan Nita di belakang.


"Kak Ivan tinggal dimana" tanya Nita


"Ehmm aku tinggal di depan tempat tinggal Raka" jawab Ivan sekenanya.


Dalam perjalanan kali ini Nita lebih banyak ingin tahu tentang Ivan, Ivan yang lagi malas berbicara padanya tapi tak mematahkan semangatnya dalam mendekati Ivan.


***


Hari berganti hari berjalan sesuai semestinya, tak ada yang yang mencurigakan dalam diri Ivan maupun Adelia.


Hingga tiba hari wisuda Raka dan juga Ivan. Wisuda mereka maju yang semestinya empat tahun kuliah mereka bisa menempuh lebih cepat menjadi tiga tahun.


Hari ini adalah hari wisuda Raka dan Ivan. Adelia tentu saja hadir di sana, mereka melakukan sesi foto-foto dengan berbagai pose, ada juga keluarga besar mereka disana yang turut hadir dalam sesi wisuda Raka dan juga Ivan.


Nita yang melihatnya tentu saja hatinya sangat panas, melihat kemesraan Ivan dan juga Adelia.


Pada malam harinya setelah Ivan wisuda. Ivan mengundang Nita dan juga Raka pada acara makan malam perayaan wisuda, pada malam inilah Ivan melamar Adelia. Orang tua Raka dan juga Ivan langsung kembali, karena ada urusan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan sehingga setelah prosesi wisuda mereka langsung pamit.


Ivan sebelumnya sudah reservasi disebuah restauran yang bergaya modern tetapi minimalis dengan suasana outdoor, diberbagai sisi di penuhi bunga-bunga dan juga lampu-lampu hiasan yang warna warni menjadikan suasana tampak indah jika dimalam hari.


Ditambah pada malam hari itu Ivan telah meminta pihak restauran untuk menghias bagian outdoor dengan seindah mungkin, pada jam malam itu tak ada tamu lain selain mereka.


Disinilah mereka berkumpul, tak ada yang menyangka jika Adelia Alison akan dilamar Ivan secepat ini.


"Sayang will you marry me" Ivan dengan berjongkok di depan Adelia disaksikan oleh Nita dan juga Raka teman akrab mereka saat ini, tidak untuk Nita, karena Nita tak pernah mau akrab dengan Adelia.


"Iya aku mau" Ivan yang membawa cincin itu seketika memasukkan kedalam jari manis Adelia dipenuhi rasa bahagia.


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2