
Terpaksa Jeremy harus pulang seorang diri karena tidak berhasil membujuk Adelia kembali ke Mansion.
Icha begitu girang mendapatkan teman baru seperti Adelia. Tadi sebelum Jeremy pulang tentu banyak drama dan adu mulut yang mereka lakukan. Mana ada orang yang menang jika adu mulut dengannya.
Sepertinya Adelia harus berterima kasih kepada Icha sahabat barunya saat ini. "Ayo sekarang ceritakan masalahmu padaku." Tanya Icha pada Adelia. Begitu mereka sudah berada di dalam kamar berdua, setelah sebelumnya tadi berpamitan kepada nenek dan kakek Icha untuk naik ke lantai atas.
"Ya tapi ceritanya sangat panjang, apa kau bersedia mendengar ceritaku dari awalan sampai akhir." kata Adelia menantang Icha dengan sedikit tawa di mulutnya.
"Tadi aku sudah meminum kopi. Sudah pasti mataku tidak akan terpejam sedikitpun, karena sudah siap sedia menjadi pendengar yang baik malam ini." kata Icha menimpali candaan Adelia.
"Ya ceritanya simple saja, berawal dari ketika aku memiliki kakak kelas yang bernama Ivan, dulu aku berpacaran dengannya, tapi entah kenapa aku menikah dengan temannya. Kak Ivan yaitu Raka namanya."
"Bisa begitu?" tanya Icha menaikkan sebelah sudut alisnya.
"Iya dan aku memiliki sahabat bernama Vera, dia sangat baik kepadaku. Bahkan sekolah pun juga sering dibantu oleh kedua orang tuaku. Dia berasal dari keluarga yang sederhana. Aku sering main ke rumahnya dan dia sering main ke rumahku. Kita kemana-mana selalu bersama. Di mana ada aku pasti ada dia, bahkan kita seperti saudara kembar tapi entah kenapa dia tega menusukku dari belakang."
Icha begitu serius mendengarkan cerita dari Adelia, dan sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya, entah apa yang ada di dalam pikiran Icha saat mendengar cerita dari Adelia.
"Apakah di saat pernikahanmu ia juga hadir?" tanya Icha memastikan.
Adelia menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban dari pertanyaan Icha. Ya dia hadir, aku rasa dia sengaja atau entah bagaimana melakukan semua ini padaku.
"Lalu kamu tahu dari mana jika suamimu itu menikah lagi dengan Vera?" tanya Icha lagi.
"Ceritanya panjang, aku malas mengingat hal-hal buruk seperti itu, tapi pernah suatu waktu aku pernah melihat Vera dan juga suamiku masuk ke dalam kamar hotel dan saat itu juga kepergok, tetapi jauh-jauh hari sebelum itu aku sudah menduga jika pelakunya adalah Vera."
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja mendengar ceritaku, aku sudah selesai bercerita tentang kehidupanku."kata Adelia.
"Ini minum susunya dulu, tadi aku dengar ceritamu susu ini kan yang kamu minum. Kamu harus memakan makanan yang mengandung nutrisi dan meminum susu untuk ibu hamil supaya anakmu nanti tumbuh menjadi anak yang cerdas dan bisa melindungi dirimu, kau mengerti."kata Icha tangannya menyodorkan segelas susu pada Adelia.
Dengan sigap Adelia menerima susu dari tangan Icha lalu meneguknya hingga tandas. Dan meletakkan kembali di atas meja nakas lalu menarik nafas perlahan untuk menetralkan emosinya.
"Lalu apa rencana kehidupanmu selanjutnya?" tanya Icha pelan-pelan.
"Aku belum tahu pastinya bagaimana nanti kehidupanku. Yang jelas aku harus berbicara terus terang kepada suamiku nantinya, dia harus memilih salah satu diantara kami, jika ia memilih Vera aku sudah siap dengan hal itu. Asalkan aku tidak berpisah dengan anakku, apapun akan kulakukan asal aku tetap bersama anakku." kata Vera nafasnya sudah terengah karena menahan tangis.
"Maafkan aku, jika aku membaca garis tanganmu. Cobaanmu saat ini memang berat, tapi percayalah kalian akan tetap hidup bersama di masa depan."
Adelia mengangkat wajahnya yang semula menunduk, mengusap air matanya dengan kasar. " Apa maksud kamu?" tanyanya.
"Artinya walaupun kamu meminta berpisah dengannya, dia tidak akan semudah itu melepaskanmu, apalagi kamu membawa anaknya. Sepertinya hatinya suami kamu saat ini sudah terpaut padamu, percayalah padaku."
"Ya kamu boleh tidak mempercayainya untuk saat ini, tapi lihat suatu Hari nanti, aku tahu jika kalian menikah bukan kehendak kalian. Tapi ada campur tangan dari pihak lain. Apalagi itu masih keluarganya suami kamu."
Icha memberikan jawaban teka-teki pada Adelia, hingga membuatnya berpikir keras. Pernah suatu ketika ia melihat sesuatu di kamarnya dan nenek itu yang selalu mendampinginya, seperti memberikan bisikan-bisikan kekuatan selama ini. Apa itu arti semuanya. Dalam hatinya Adelia ia pun monolog.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu, tapi apakah yang kamu maksud aku menikah dengan suamiku karena ada energi pelet?" tanya Adelia hati-hati pada Icha.
Icha terdiam, manik hitamnya menatap lawan bicaranya dengan seksama, sesaat kemudian Icha menganggukkan kepalanya. "Berarti memang benar, kamu bisa melihat hal-hal aneh supernatural di luar kendali manusia normal?" tanya Adelia.
"Sepertinya begitu, itu sudah kelebihanku sejak aku lahir tapi aku tidak begitu mempedulikannya."
__ADS_1
"Tapi memang benar, apakah kamu merasakan hal-hal aneh ketika sedang sendiri atau sedang melakukan aktivitas?" tanya Icha pada Adelia, keheningan sejenak terjadi di antara mereka.
"Ya jika manusia normal mungkin akan menolak perjodohan. Karena sudah memiliki cinta sejatinya, tapi pada saat itu aku sama sekali tidak bisa menolak pada perjodohan hari itu. Tapi memangnya siapa yang tega melakukan itu, keluarga apakah benar itu sepupunya kak Raka yaitu Nita."
"Ya dalam penerawanganku memang perempuan yang tinggal satu rumah bersama ibunya entah siapa namanya itu." jawab Icha tegas.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, aku tidak kuat jika cintaku terbagi,.atau bahkan aku belum bisa mencintai kak Raka sekalipun. Aku tidak kuat jika di dalam suatu ikatan pernikahan harus terbagi menjadi dua."
"Ya aku mengerti, sekarang jangan pikirkan itu lagi
Mari kita lanjutkan cerita ini besok." kata Icha enteng lalu menarik selimut , merebahkan tubuhnya meninggalkan Adelia dalam tanda tanya besar.
"Tidak aku masih penasaran, bagaimana dengan nenek yang selalu mengikutiku?" tanya Adelia mengguncang bahu Icha yang sudah membelakanginya.
"Biarkan saja dia baik, dia adalah khodam yang akan melindungimu kemanapun kalian pergi." jawab Icha sambil memejamkan matanya.
Begitu mendengar jawaban dari Icha, Adelia masih terdiam di tempatnya. Ia masih tidak bisa memejamkan matanya. Lalu salah satu tangannya meraba perutnya yang sudah membuncit. Dua bulan lagi ia akan melahirkan.
Adelia berpikir kenapa hidupnya berubah seperti ini, banyak hal-hal tidak terduga dalam hidupnya, di luar nalar manusia.
Adelia lupa jika seharian ponselnya mati karena kehabisan daya. Adelia baru ingat ketika akan memejamkan matanya. Sekali lagi ia mengguncang bau Icha untuk menanyakan charger, apakah sama dengan miliknya, dan Icha memberitahunya di mana tempat charger, ternyata di meja nakas laci.
Adelia sengaja tidak membuka ponselnya walaupun ia sudah mencharger, karena ia masih belum siap menghadapi pesan dari mana saja yang masuk di dalam ponsel pintarnya.
.
__ADS_1
.