
Dilain tempat, Vera begitu kesal kali ini. Karena paginya tidak ditemani oleh suaminya Raka, ia membanting barang apapun yang ada di atas meja. Membentur-benturkan kepalanya sendiri kepada tembok dan berteriak histeris.
Sedangkan di dalam rumah itu tidak ada siapapun kecuali satpam yang berjaga di depan rumah, sesekali satpam itu melihat pintu jendela yang terlihat dari luar. Gordennya masih tertutup. Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sudah dibuka, biasanya akan ada seseorang asisten rumah tangga yang sesekali datang untuk membersihkan rumah mereka. Namun kali ini sepertinya asisten itu mengambil cuti tidak masuk bekerja, karena tidak terlihat sama sekali batang hidungnya.
Tapi tidak berapa lama satpam itu mendapati majikannya sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk keluar mengendarai mobilnya.
" Anda mau ke mana Nyonya?" tanya Pak satpam pada Vera
"Mau ke mana saja juga bukan urusanmu." jawab Vera ketus.
Mendengar jawaban itu membuat satpam menghentikan langkah Vera, agar tidak pergi keluar dari rumah.
" Maaf Nyonya, anda tidak diizinkan untuk keluar rumah oleh Tuan."
"Kau tidak berhak menghentikanku, minggir aku mau lewat." Vera sudah memasuki mobilnya dan perlahan mengendarainya, tetapi dihadang oleh satpam yang berjaga di rumahnya.
"Nyonya hentikan langkah Anda nyonya, atau saya akan dipecat karena tidak becus mengurus anda."
Vera sama sekali tidak mendengar ucapan Pak satpam itu. Ia tak gentar untuk melajukan mobilnya, hingga membuat satpam itu menyingkir dan terjatuh karena menghindari mobil Vera.
"Tuan maaf. Nyonya Vera sedang keluar, saya sudah berhenti menghentikannya, tetapi Nyonya Vera bersih kukuh."
Belum sempat satpam itu menjelaskan tentang sesuatu hal yang terjadi pada dirinya, sambungan telepon sudah dimatikan sepihak. Sepertinya Raka sedang naik pitam untuk kali ini, karena pekerjaannya terganggu oleh satu masalah.
Di kantor tepatnya di Tokyo Jepang, terdapat sebuah perusahaan besar yang berdiri di bidang perhiasan, banyak pekerja baik laki-laki maupun perempuan berlalu lalang ke sana kemari. Mereka bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.
__ADS_1
Hari ini Raka akan menemui seorang klien di luar perusahaan, Mereka memiliki janji temu di sebuah hotel ternama di kota Tokyo. Namun mendengar kabar tak sedap membuat amarahnya meluap, Raka memanggil salah satu asistennya untuk menghandle masalah rumah tangganya.
Begitupun pintu ruangannya terdapat sebuah bunyi, Raka langsung menyuruh orang yang berada di luar masuk. sebelum seseorang masuk terdapat layar monitor yang terhubung langsung di dalam ruangannya sehingga ia dapat melihat siapa orang yang akan bertamu.
"Duduklah." perintah Raka pada asistennya.
"Apa ada masalah lagi tuan?" tanya Jeremy pada Raka.
"Tolong kak urus masalah wanita ini."
"Bukankah wanita ini istri Anda tuan?" kata Jeremy ya begitu terkejut kalau siapa yang diperlihatkan fotonya kepada Jeremy.
"Kau tak usah banyak bicara, atau kau ingin ku pindahkan di Afrika sana, jika banyak protes," belum apa-apa Raka sudah mengancam Jeremy akar mau menuruti apa perintahnya.
"Baik tuan sekarang anda maunya bagaimana?"
"Baiklah Tuan sesuai perintah anda. Tapi bagaimana jika wanita ini memaksa?" tanya Jeremy lagi.
"Terserah mau kau apakan dia, yang penting dia tidak sampai masuk ke dalam ruangan ini, dan mengacaukan semuanya. Aku rasa kau bisa menanganinya."
"Baik Tuan jika saya sudah mendapatkan izin dari Anda, kalau begitu saya mohon izin keluar."
Jeremy keluar dari ruangan Raka, iya sedikit mengumpat, karena lebih baik jika dirinya mendapatkan tugas untuk menangani seorang perempuan yang mengganggu Raka, atau mendapatkan tugas untuk menangani proyek baru yang sangat sulit sekalipun. Misalkan untuk memenangkan beberapa tender dengan lawannya. Tapi tidak dengan perempuan yang bisa dibilang istrinya.
"Istri, tapi kenapa dia memperlakukannya demikian." gumam Jeremy.
__ADS_1
Jeremy mengangkat kedua baunya tidak tahu lalu menggelengkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam ruangannya. Terlihat Jeremy sedang menghubungi seseorang untuk memerintahkan sesuatu, hanya dalam hitungan menit saja semuanya sudah beres di tangan Jeremi.
***
Ternyata benar Apa yang dibicarakan oleh Raka bosnya tadi. Jika perempuan yang dimaksud itu datang kemari. Apalagi apa ini berteriak-teriak dan mengaku jika dialah istri yang paling disayang oleh Raka. Jika dia istri yang paling disayangi, kenapa Raka malah menyuruhnya untuk pergi dari kantor ini.
Bahkan kali ini tindakan Jeremy sedikit kejam, tidak seperti biasanya. Wanita hanya dengan tatapan mata tajamnya saja akan menciut nyalinya, tetapi tidak dengan Vera. Vera tak gentar untuk membentak Jeremy, hingga membuat Jeremy memanggil kedua security untuk menyuruh Vera keluar dari kantor pencakar langit ini.
Sumpah serapah dan semua kata-kata binatang keluar dari mulut Vera, seperti orang yang hidup belasan tahun di hutan dan tidak mengerti tata etika sopan santun sama sekali. Vera begitu brutal dan juga bar bar. Sulit dikendalikan jika tidak dipegangi oleh kedua orang lelaki yang sangat kuat.
Sedangkan Raka saat ini masih berbincang-bincang dengan rekan kerjanya, ia baru saja memenangkan tender proyek baru untuk kerjasama.
"Baiklah Tuan, sampai bertemu pada pertemuan berikutnya." ucap Raka pada rekan bisnisnya. Mereka akan mengadakan pertemuan kembali saat proposal mereka membutuhkan tanda tangannya untuk kesepakatan kerjasama proyek baru.
Ini sudah jam makan siang, setelah saya bertemu dengan kliennya, Raka tidak langsung kembali ke kantor. Dirinya malah membelokkan mobilnya menuju ke istana yang di mana di sana terdapat istri dan juga calon anaknya.
Semua kegiatan yang dilakukan oleh Adelia terpantau di dalam CCTV yang terhubung langsung dengan MacBook yang ia bawa ke mana-mana. Sesekali ia tersenyum ketika melihat tingkah istrinya yang sangat lucu menurutnya.
Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta, atau karena kasihan. Sehingga ia enggan untuk meninggalkan Adelia seorang diri. Apalagi di sana terdapat calon anaknya. Mungkinkah ia hanya merindukan calon anaknya saja.
Sebelum sampai di rumah, Raka mampir lebih dulu berbelanja di supermarket yang tidak jauh dari rumahnya, Raka membeli aneka buah-buahan dan sayuran segar, Mulai dari jenis dan bahan yang memiliki kualitas premium, dan juga memiliki kandungan gizi yang cukup tentunya untuk kebutuhan gizi Adelia pikiran Raka.
Semua Raka yang memilihnya, dan juga membeli beberapa dus susu ibu hamil dari berbagai merek, dengan bantuan ibu-ibu yang ada di sana.
"Permisi Nyonya, apakah Anda sedang mencari susu untuk Ibu hamil?" tanya Raka pada seorang perempuan yang bermata sipit memiliki tubuh yang kira-kira tingginya 165 cm, rambutnya hitam legam lurus.
__ADS_1
"Ah iya tuan, apakah ada yang bisa dibantu?" tanya Nara yang saat itu juga sedang memilih merek susu.
"Kira-kira susu apa yang cocok untuk ibu hamil tujuh bulan?" tanya Raka pada Nara.