
Malam hari Adelia yang sangat dongkol hatinya tidur dengan membelakangi Raka. Namun Raka merasa ada yang aneh dengan istrinya ini.
"Sayang kamu kenapa?" Raka semakin merapatkan tubuhnya, memeluk Adelia dari belakang, dan menciumi tengkuknya.
"Tidak apa apa, aku hanya merindukan masa masa lajangku." jawab Adelia asal.
"Tapi sekarang statusmu sudah berbeda lagi, kamu sudah bersuami, jadi kemana pun suami kamu ini pergi, dirimu wajib mengikuti."
"Hemmm." jawab Adelia hanya gumaman saja, matanya sudah terpejam, antara sadar dan tidak.
"Tidurlah, bukankah besuk tugasmu mau mengantarku kemana pun aku pergi." Adelia yang merasakan tangan suaminya sudah merayap kemana mana.
"Apa kamu tidak ingin." suaranya Raka bahkan sudah terdengar serak, khas orang yang sedang menginginkan sesuatu.
"Aku masih capek, kamu mengertilah."
"Atau aku akan pindah disofa."
"Tidak jangan, baiklah tidurlah disini saja, tapi jangan pindah."
"Aku tidak akan pindah, asal kamu menuruti kemauanku." ucap Adelia dingin.
Malam ini tak seperti malam malam biasanya, malam ini hanya ada keheningan, bahkan kini Adelia sekuat tenaga menahan hasrat untuk suaminya. Begitupun dengan yang dirasakan Raka.
Raka mati matian menahan hasratnya, agar tak menyerang Adelia, atau ia akan terkena semprotan istrinya jika memaksa melayaninya.
Malam malam sebelumnya yang biasanya mereka lewati tak satu pun absen dari bercintanya, Raka selalu bersemangat, entah apa yang dirasakan dalam tubuhnya, padahal pernikahan mereka tidak ada cinta, hanya sebuah keterpaksaan, tetapi kenapa Raka malah merasa seperti sudah kenal Adelia lama.
***
.
.
"Selamat pagi mama, papa." Adelia yang baru saja turun dan menarik kursi dimeja makan.
"Pagi sayang." jawab nyonya Maheswara dan tuan Maheswara orang tua Raka.
"Kok turun sendirian, dimana suami kamu?" tanya tuan Maheswara.
"Belum turun pa, sebentar lagi juga turun,"
"Ada apa kalian mencariku?" orang yang dibicarakan baru saja menampakkan batang hidungnya.
"Aku kira kamu masih belum bangun." ucap sang papa.
"Mana bisa aku bangun siang pa."
"Aku kan sudah biasa bangun pagi."
"Hemm bagaimana bulan madu kalian, apa menyenangkan?' tanya papa Raka lagi.
"Sangat menyenangkan."
"Iya kan sayang." menoleh pada sang istri.
"Ehmmm iya pa." jawab Adelia dengan senyuman yang dipaksakan.
"Apa rencana kalian hari ini?" tanya mamanya.
__ADS_1
"Aku hari ini masih libur kerja pa, pekerjaan sudah ada yang menghandle,"
"Memangnya mau kemana?" tanya nyonya Maheswara, sambil menata makanan dimeja makan.
"Ehmm ma, maafkan aku iya, aku belum bisa bantu mama apa apa." sahut Adelia yang melihat kesibukan ibu mertuanya.
"Tidak apa apa sayang, jangan dipikirkan, ini sudah biasa kok."
"Oh iya hari ini mama memasak spesial kesukaan Raka loh."
"Memangnya apa makanan kesukaan kak Raka ma?"
"Ehmmm maaf ma pa, kalau aku belum tahu banyak tentang kak Raka."
"Tidak apa apa sayang, lagian itu bisa belajar pelan pelan saling memahami."
"Iya kan pa." meminta persetujuan suaminya. Tuan Maheswara mengangguk setuju.
"Raka, kamu tadi belum jawab pertanyaan mama loh."
"Aku hari ini mau mengantarkan istriku ke rumah bunda ma."
"Ohh aku kira juga sudah cepat cepat mau balik saja."
"Tidak ma, mungkin dua hari lagi." jawab Raka santai.
"Padahal mama ingin, kalian itu tinggalnya disini saja."
"Ahh pasti mama dan papa akan kesepian, kalau tidak ada kalian," keluh nyonya Maheswara menekuk wajahnya.
"Kan ada Nita ma, oh iya kemana anak itu." mata Raka menelisik seluruh ruangan, sejak kemaren kedatangannya Nita belum juga kembali.
"Kemaren meminta ijin pada mama, katanya mau acara ke puncak."
Kali ini Adelia sibuk mengambilkan makanan ke piring Raka, lalu ke piringnya sendiri, disana ibu mertuanya itu menyajikan berbagai menu. Yang semuanya itu terlihat sangat enak dimatanya, namun ia mengambil hanya sedikit saja, takut gendut dan takut berat badannya naik.
"Iya ke puncak, aku lupa sama siapa kemaren katanya."
"Kenapa mama memberi ijin." Raka seolah olah tidak rela jika Nita pergi sendiri tanpa pengawasannya.
"Sayang Nita itu sudah besar, jadi sekali kali biarkan dia bebas, asal dia memegang kepercayaan mama."
"Tapi aku tetap saja khawatir ma dengan keselamatannya."
Adelia hanya menyimak saja perdebatan ibu dan anak ini, menyuapkan makanan kedalam mulutnya dengan tenang, tanpa ada niatan ikut campur.
"Iya kamu doanya jangan yang jelek jelek dong, doain orang itu yang bagus bagus kenapa." kesal mama Raka.
"Sudahlah tidak usah diperdebatkan, kalian makanlah dulu, tidak enak jika didengar." ucapan tuan Maheswara mampu mendiamkan keduanya.
"Cepet banget makannya sayang, kalau mau nambah bisa nambah lagi tuh."
"Mama tidak tahu apa yang nak Adel sukai, jadinya masaknya yang macam macam begini deh."
"Tidak apa apa kok ma, semuanya masakan mama itu enak, Adel menyukainya ma."
"Adel pamit dulu iya ma, mau siap siap, kak Aku tunggu iya." pamitnya pada Raka.
Tidak berapa lama Adelia keluar dengan menyeret kopernya, "Loh loh loh sayang, kok bawa koper segala."
__ADS_1
"Iya ma, kan Adelia bawa oleh oleh untuk semua orang rumah, jadi mau Adel bagi bagikan nanti dirumah bunda."
"Wahhh tidak salah Raka memilih istri, hatinya baik dan lembut bagaikan bidadari." pujinya.
"Ahhh mama berlebihan, biasa aja lah ma, jangan membuat Adel terbang diatas angin."
"Pokoknya menantu mama paling the best lah."
"Iya sudah ma, aku mau mengantarkan Adel dulu iya."
Setelah berpamitan pada kedua orang tua Raka, mereka memasuki mobilnya, "Mau kemana dulu?" tanya Raka setelah mobilnya ia kemudikan membelah jalanan yang ramai pagi itu.
"Ke rumah bunda lah."
"Baiklah."
"Aku ingin tahu, bagaimana reaksinya kak Raka nanti kalau sudah ketemu Vera." batin Adel bermonolog.
Jarak rumah Adel dan rumah orang tua Raka satu jam setengah bila terkena macet, bahkan bisa sampai dua jam. Mereka diam dengan pikirannya masing masing.
"Sayang dua hari lagi kita berangkat ke Jerman iya."
"Kamu mengajak atau menawari?"
"Aku, iya tentu mengajak istriku lah, masak iya aku di Jerman sendirian, dan istriku aku tinggal disini."
"Mana bisa aku hidup seperti itu."
"Ck, manis sekali." Adel berdecak.
"Tapi sayangnya aku sama sekali tak percaya." batin Adel lagi.
"Nanti aku boleh kerja kan." tanya Adel lebih mirip pemberitahuan.
"Lihat kondisinya dulu sayang, aku malas berdebat loh."
"Hemmm baiklah," akhirnya Adel diam kembali, sangat malas bersuara lagi jika sudah dalam mode badmood.
Mobil mereka sudah memasuki pelataran rumah kedua orang tua Adel.
"Adam..." sapa Adel, di ikuti Raka dibelakangnya dengan koper ditangannya.
"Kakak...." teriak Adam
"Kamu tidak sekolah?" tanya Adel mengacak rambut Adam.
"Aku lagi libur kak, kan kakak kelas sedang PTS."
"Hemmm, memangnya kamu tidak PTS juga?"
"Belum kak, kan gantian."
"Bisa begitu?"
"Bisalah..."
"Ayo kak masuk," saking girangnya kedatangan kakaknya hingga Adam berlari masuk rumah untuk mencari ibunya.
"Anak itu." Adel menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia memang imut." celetuk Raka.
"Bundaaaa..... ada kakak." teriak Adam