Married For Pellets

Married For Pellets
Definisi Teman


__ADS_3

"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kau tahu itu, Aku tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam." ucap Nara pada Adelia.


"Bagaimana kronologisnya, kau diculik oleh suami kamu sendiri?" bisik Nara di telinga Adelia pelan. Takut juga jika pembicaraannya di pantau langsung lewat CCTV, sepertinya setelah ini Icha akan terkurung selamanya di rumah besar bagaikan kastil ini.


Adelia menggelengkan kepalanya pelan, Ia enggan menceritakan tempo hari kala dirinya bertemu langsung dengan suaminya. Sempat juga terjadi perdebatan adu mulut antara dirinya dengan Raka.


"Ku sarankan padamu, jika kamu memiliki masalah. Jangan kau pendam sendiri. Atau suatu penyakit akan menyerangmu." kata Nara memperingatkan Adelia.


Adelia masih terdiam. Dirinya sendiri masih begitu syok kala pertama kali bertemu dengan suaminya. Ia berpikir jika kabur ke luar negeri, tidak akan lagi bertemu dengan suaminya. Tapi ternyata perkiraannya salah. Hanya hitungan bulan saja Raka sudah menemukan dirinya, apalagi dengan posisi Adelia berbadan dua, ini sama saja Adelia membawa kabur anaknya. Itulah mungkin yang ada dalam pikiran Raka.


"Aku tidak tahu harus menjelaskan apa padamu." kata Adelia.


"Kenapa aku merasa, jika hidupku ini begitu hampa. Aku memiliki orang tua, tapi aku seperti tak memiliki orang tua."


"Setelah peristiwa pertemuanku dengan suamiku, aku berusaha menghubungi kedua orang tuaku juga. Tapi mereka sama sekali tidak meresponku."


"Padahal aku sangat merindukan mereka, aku ingin memberikan surprise pada mereka." cerita Adelia adalah terdengar pilu.


Adelia bercerita panjang lebar mengenai perjalanan hidupnya selama menikah, hingga suatu musibah terjadi. Sampai saat ini suaminya masih belum melepaskan perempuan yang dulunya menjadi sahabat karibnya itu.


Tidak terasa kedua pelupuk matanya meneteskan kristal bening. Untuk kedepannya mungkin setelah anaknya lahir Adelia berencana akan memberikan pada Raka, dan akan menitipkannya pada mantan sahabatnya. Ia akan melepas status sebagai istri pertama Raka, karena sejatinya ia tidak mampu jika cintanya harus terbagi.


Namun itu masih rencana yang ada di dalam dirinya, dan Adelia belum menceritakannya mengenai hal ini pada Nara yang saat ini selalu menjadi teman curhatnya.


"Kau jangan berpikiran terlalu banyak. Kasihan juga anakmu. Dia akan merasakan kepedihan hati ibunya." kata Nara setelah mendengar curhatan Adelia.


Tangan Nara mengusap buliran air mata Adelia yang keluar begitu saja tanpa permisi. "Untuk saat ini, kau tidak perlu memikirkan apapun. Yang perlu kau pikirkan hanya makan makanan bernutrisi."

__ADS_1


"Supaya janinmu tumbuh dengan baik dan sehat."


Adelia mengangguk setuju setelah curhatan panjang lebar itu akhirnya mengajak Nara di teras belakang rumah. Di sana terdapat hamparan tanaman bunga dan sayuran, berbagai buah-buahan juga ada di dalam rumah kaca, yang terlihat begitu menakjubkan.


"Waoo, ini bisa menjadi kesibukanmu untuk saat ini, agar pikiranmu menjadi fresh." kata Nara.


"Iya kau benar, tapi aku belum memulainya. Untuk saat ini aku masih suka berdiam diri di dalam kamar."


Lalu Adelia kembali mengajak Nara masuk ke dalam rumah besar itu, berkeliling-keliling. Sampailah mereka di dalam perpustakaan pribadi yang dibuat khusus oleh suaminya. Karena Raka tahu jika istrinya itu memiliki hobi membaca. Berbagai buku tersusun rapi di dalam sana, mulai dari ensiklopedia, buku motivasi berbagai orang-orang terkemuka, buku referensi memasak, novel-novel juga tersedia, dan yang terpenting buku desain perhiasan dari berbagai desainer yang ada di dunia, dan masih banyak lagi terdapat buku lainnya. Berjajar begitu sangat rapi. Sepertinya Raka sudah mendesain ruangan perpustakaan ini sedemikian rupa, agar orang yang berkunjung di dalam sana betah dan merasa nyaman, serta ingin membaca buku terus-menerus.


"Waaah, ini perpustakaan yang sangat besar yang pernah aku temukan."


Nara begitu takjub kala pintu terbuka dan menampakkan keindahan arsitektur, serta penataan desain interior yang ada di dalamnya. Sudah pasti orang itu memiliki selera yang sangat tinggi. Dilihat dari desain interiornya saja terlihat begitu minimalis, namun sangat mewah.


Nara berjalan berkeliling ke sana kemari, padahal Adelia sendiri juga baru mengetahui jika di dalam rumah besar itu terdapat ruangan perpustakaan.


Adelia juga sama seperti Nara, begitu takjub melihat isi yang ada di dalam ruangan ini. Ia tidak menyangka jika suaminya itu menyediakan perpustakaan khusus. Entahlah untuk dirinya sendiri, atau menyediakan untuknya. Tetapi yang jelas saat ini dirinya sangat senang. Adelia tidak akan merasa bosan lagi karena bisa mengisi waktu luang nya dengan membaca buku-buku motivasi.


"Mana?"


Nara menunjukkan buku yang ia bawa kepada Adelia. Dan ternyata deretan itu semua memang buku dari tokoh tokoh perancang perhiasan, karya orang-orang terdahulu hasil rancangan mereka begitu mendunia.


Mereka membuka buku itu bersama-sama. Melihat hasil rancangan tokoh-tokoh orang terdahulu, yang karyanya begitu populer di masanya. Nara menyimpulkan, mungkinkah jika suami Adelia ini adalah pemilik dari perusahaan logam mulia dan juga perhiasan.


Tetapi itu hanya baru pemikiran Nara. Nara masih menelisik setiap buku yang berderetan dengan rapi. Nara membukanya satu persatu, hingga mereka berjam-jam berada di dalam ruangan yang begitu megah namun terisi dengan berbagai macam buku.


"Sepertinya suamimu ini memang orang penting."

__ADS_1


"Apa maksud kamu? kau mau bertanya tentang apa?" tanya Adelia balik pada Nara.


"Biar ku tebak, kalau suamimu pemilik perhiasan logam mulia dan juga perhiasan?"


"Iya memang dia pemiliknya Ada apa memangnya?"


"Seharusnya kau beruntung memilikinya jika begitu. Tapi kau harus sadar suamimu itu menjadi incaran banyak wanita manapun karena dia sangat kaya raya."


Ucapan Nara belum selesai, tapi Adelia sudah memotongnya. "Itu hanya menurut pandanganmu saja, kau tidak tahu bagaimana dan apa yang aku alami di dalam rumah tanggaku bersamanya."


"Baiklah maafkan aku. Aku berbicara demikian karena aku tidak mengalaminya sendiri."


"Aku mengerti akan perasaanmu saat ini. Tapi percayalah Tuhan ada bersamamu."


Adelia mengangguk. Dalam hatinya berkata, semoga ia tidak salah lagi dalam memilih teman. Cukup sekali saja dirinya dikhianati oleh seorang teman. Sepertinya tidak semua teman itu memiliki hati yang baik luar dalam, dan mau berkorban satu sama lain.


"Aku mau tanya padamu?"


"Ya tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan. Tapi jangan melontarkan pertanyaan yang sulit kujawab?" kata Nara.


"Bagaimana menurutmu definisi seorang teman?"


"Definisi seorang teman." kata Nara membeo.


Adelia mengangguk menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Nara. Mungkinkah Nara memiliki visi yang sama dengannya, ataukah bertolak belakang dengan apa yang ia pikirkan.


"Teman adalah dua orang yang bertemu. Memiliki kecocokan dalam hal apapun. Nyambung ketika diajak berbicara, mau berkorban satu sama yang lainnya, bisa mencurahkan isi hati antara teman satu dan teman yang lainnya, dan setia yang pastinya." ucap Nara mau mengemukakan pendapatnya.

__ADS_1


Saat ini mereka sudah duduk berhadap-hadapan. Di sofa tunggal, banyak buku yang mereka baca. Tidak lupa juga dikembalikan di tempat semula.


Tidak terasa hari sudah malam. Raka yang ada di dalam kamarnya juga baru menyadari jika dirinya terlalu lama meninggalkan istrinya di luar. Ia lupa jika Adelia kedatangan temannya, lantas Raka bergegas turun mencari di mana keberadaan istrinya.


__ADS_2