Married For Pellets

Married For Pellets
Raka Adelia


__ADS_3

"Satu-satu kenapa kalau bertanya, kau seperti para wartawan yang ingin mengejar berita gosip."


"Iyahhh memang aku selalu ingin tahu tentang kehidupanmu, jangan sampai lagi ada laki-laki hidung belang yang ingin menguasai hatimu, akan ku tonjok itu laki-laki." kata Nara sambil memperagakan tangannya menonjok ke udara.


Semenjak tragedi itu Nara tidak lagi meninggalkan Adelia sendirian, Nara selalu mengawasi dan melihat sahabatnya dengan jarak dekat, seperti saat ini.


"Dia tante Lita sahabat kedua orang tuaku, baru saja memberikan kabar bahwa mereka itu bukan orang tua kandungku, dan saat ini telah tiada. Aku ingin sekali mengunjungi makam mereka dan adik angkatku, tetapi aku tidak mau jejakku dilacak lagi oleh Raka." kata Adelia dengan muka sendu.


"Jangan dulu untuk saat ini, kau baru saja beberapa bulan di sini."


Adelia kembali ke tempat di mana mejanya lalu menyelesaikan desainnya yang belum selesai. Pemilik butik itu paman dari Nara yang bernama tuan Kim.


"Oh iya kata paman Kim, besok lusa akan ada investor yang bekerjasama dengan butik kita. Dan kita akan mengadakan rapat di luar."


"Tidak bisakah yang lainnya saja untuk mewakili rapatnya. Aku lebih suka aktivitas di dalam ruangan dari pada di luar." kata Adelia berusaha negoisasi dengan Nara.


"Tidak bisa, kau harus ikut denganku untuk menemui investor baru itu. Persiapkan dirimu dan danlah yang cantik oke."


"Hanya bertemu investor, bukan mau pergi ke klub atau bertemu calon tunangan, aku rasa tidak perlu dandan natural lebih oke." kata Adelia menjepit lalu meneruskan kembali pekerjaannya yang tadi belum selesai.


***


*


*


Tibalah saatnya pertemuan investor hari ini, pertemuan diadakan di restoran mewah, yang sebelumnya sudah di reservasi untuk rapat private mereka.


"Kenapa kau memakai celana, aku rasa tidak cocok dengan tubuh rampingmu. Ayo ganti pakai rok, aku rasa kau lebih cocok menggunakan Ini." kata Nara sangat cerewet mengatur penampilan Adelia.

__ADS_1


"Kita hanya mau pergi meeting, sudah ku ingatkan bahwa pakaian apapun yang penting terlihat sopan dan formal. Aku rasa tidak perlu mengganti pakaianku kan." kesal Adelia pura-pura marah.


Tapi sama sekali Nara tak mendengarkan ocehan Adelia, Nara tetap memaksa Adelia untuk mengganti pakaiannya. akhirnya dari pada debat dan tidak jadi pergi lebih baik Adelia mengalah dan segera mengganti pakaiannya lalu pergi menggunakan taksi.


"Oh my baby kok terlihat imut, seperti anak gadis. Tidak terlihat bahwa kau pernah bongkar mesin."


"Apa kau bilang, mulutmu ingin ku sumpal menggunakan sepatuku ini." kesal Adelia.


Nara mengangkat kedua jarinya dan tersenyum, lalu dengan segera berlari keluar, dari omelan Adelia yang sudah memasang muka seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.


Perjalanan dari butik menuju tempat meeting hanya memakan waktu setengah jam. Di sana sudah terlihat tiga orang yang duduk dengan elegan.


"Mohon maaf tuan jika kami terlambat." ucap Nara basa basi.


Sedangkan pandangan mata Adelia sama sekali tidak berkedip, Adelia begitu terkejut ketika melihat mantan pacarnya Ivan sedang duduk bersandingan dengan Nita yang dulu selalu membunuh dirinya.


"Ah tidak hanya saja kami yang lebih dulu sampai, agar tidak terlalu mengulur waktu." kata Nita basa-basi lalu mereka berjabat tangan begitu pula dengan Adelia seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Perkenalkan saya Nara dan ini rekan saya Adelia, nanti Adelia ini yang akan menjadi desainer tas-tas selanjutnya."


"Ohhh iya saya sudah mengenalnya sejak dulu dia teman sekolah kami." kata Nita menjelaskan. Lalu tersenyum kaku.


"Kenapa dia tidak bersama dengan kak Raka, apakah dia sudah dibuang oleh kak Raka, Aku sama sekali tidak mengetahui kabarnya setelah kepergiannya"


"Cieh, tapi bagus juga jika dia sekarang menjanda, dasar perempuan tidak tahu diri." batin Nita kesal.


"Sayang apakah kau mendengarku?" tanya Ivan pada Nita.


Iya sejak Raka dan Adelia menikah, Nita berusaha mendekati Ivan dengan menggunakan ilmu pengasihan dari Mbah Joyo dukun pelet. Tetapi jika pelet itu surut maka Ivan akan merasakan pusing yang mendalam dan akan teringat dengan Adelia terus-menerus.

__ADS_1


Meeting kali ini berlangsung lumayan lama, pembahasan mengenai kerjasama, desainer dan juga pemasaran yang sudah ditentukan. Dan mereka akan bertemu kembali dua minggu lagi.


Tetapi di dalam meeting kali ini Adelia bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi apapun dengan Ivan cinta pertama di masa lalunya, begitu pula Ivan entah apa yang ada di dalam pikirannya ia bersikap dingin. Sama sekali tidak ada senyuman di wajahnya.


Adelia sedang berjalan lumayan jauh, karena saat ini dirinya akan naik kendaraan umum. Tadi Nara berpamitan terlebih dulu, karena ada kepentingan mendadak. Baru dapat seperempat langkah, ada mobil mewah hitam berhenti. Ternyata mobilnya Ivan yang ingin memberikan tumpangan pada Adelia tetapi Adelia menolaknya dan mengucapkan terima kasih.


"Tidak tuan Ivan terima kasih aku akan naik kendaraan umum saja." Adelia membungkuk memberi hormat. di dalam sana Adelia bisa melihat ketakutan Nita. Nita sangat tidak menyukai Adelia dari dulu, mustahil jika saat ini tiba-tiba Nita berbaik hati padanya.


"Baiklah kau jaga diri baik-baik." kata Ivan lalu menyuruh asistennya menjalankan mobilnya kembali.


"Dia sudah berubah begitu banyak. Apakah dia masih bersama Raka? ataukah berpisah. Aku sangat penasaran dengan kehidupannya sekarang." badan Ivan bermonolog.


"Perempuan gila sialan, ingin mencari gara-gara denganku? rasakan saja nanti pembalasanku. Aku akan memberinya pelajaran." batin Nita berbanding terbalik dengan Ivan.


"Sepertinya dia akan menjadi ancamanku."


Begitu sampai di apartemen tempat tinggal Adelia saat ini. wajah Ivan sama sekali tidak bisa ia alihkan dari pemikiran dan juga dunianya. ketika ia lupa jika Adelia pernah menikah dan sudah memiliki anak.


Adelia merasa frustasi lalu menjambak rambutnya sendiri, membuang pakaiannya asal dan membuang barang-barang yang ada di dekatnya.


"Kenapa kalian ada di dekatku kembali, padahal bukan kehidupan seperti ini yang kurasakan. Aku sangat membencimu Nita dan juga Ivan kalian sudah mengkhianatiku dan membuatku sakit bertubi-tubi."


Perasaan mengganjal itu masih ada karena terkadang Adelia memiliki rasa cinta yang sangat lebih pada Raka. Terkadang cinta itu hilang begitu saja. Melihat wajah Raka seolah seperti wajah Ivan.


Tidak lama kemudian Nara sampai di apartemen. Ya saat ini Nara dan juga Adelia tinggal bersama di salah satu unit apartemen di kawasan kota Paris. Jika membuka jendela, maka tower yang menjadi ikon kota Paris itu akan terlihat.


"Adelia keluarlah kau sudah terlalu lama di dalam kamar, ayo kita makan malam." Nara masih terus mengetuk pintu, hampir 15 menit Nara menunggu di depan pintu kamar. yang ditunggu sama sekali belum kelihatan batang hidungnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2