
Tiga hari berlalu Adelia tinggal di Apartemen Raka. Selama disana tak banyak yang ia lakukan. Hanya menonton drama yang dia sukai. Kalau tidak bermain sosial media.
Raka sudah menjanjikan bahwa hari ini akan mempertemukan dirinya dengan El putra semata wayangnya.
"Bersiaplah akan ada seseorang menjemputmu nanti." kata Raka didalam sambungan teleponnya.
Belum sempat Adelia menjawab, panggilan diakhiri sepihak, membuat Adelia berdecak kesal. "Ck dia selalu menyebalkan seperti itu."
"Membuatku kesal saja." gumam Adelia. Dengan perasaan dongkol tetapi Adelia telah bersiap.
Tidak butuh waktu lama, Adelia dijemput oleh sopir utusan Raka. "Dimana? aku dibawah" tanya Adelia dalam sambungan ponsel genggamnya.
"Aku akan turun." suara Raka dari seberang sana.
Perasaan Adelia campur aduk, antara bahagia, senang bercampur menjadi satu. Beberapa kali dirinya mengatupkan kedua tangannya. Menarik nafas perlahan dan membuangnya kasar.
Terdengar dering ponselnya kembali, "Aku berada dilobi, kenapa kau lama sekali." Adelia mengira bahwa itu panggilan dari Raka. Namun salah ternyata dari suara orang yang paling Adelia benci.
"Adelia... ini aku Vera, cepat kemarilah sekarang, putramu berada ditanganku. Jika kau datang membawa Raka atau polisi. Maka akan aku habisi nyawanya." klik, sambungan telepon dimatikan sepihak.
***
*
*
*
belum sempat Adelia bertemu Raka di lobby dirinya sudah berbalik arah dan pamit kepada sopir suruhan Raka bahwa dirinya akan pergi ke suatu tempat.
Adelia pergi menaiki pesawat komersil tanpa didampingi siapapun dan sudah menyiapkan uang tebusan yang diminta oleh Vera. perjalanan yang lumayan memakan waktu Adelia lalui sendiri.
Adelia begitu terkejut kalau jalan yang ditunjukkan oleh Google maps melewati hutan belantara kanan kiri walaupun cuaca di siang hari tapi terlihat seperti malam hari.
__ADS_1
Adelia yang sejatinya penakut kini mengalahkan semua rasa takut yang ada di dalam dirinya teringat akan putranya El harus selamat.
"Cepat kemari, aku tunggu satu kali 24 jam Jika tidak maka kau akan menyesal seumur hidupmu." pesan singkat lewat ponsel dan sebuah gambar putranya l telah disekap di sebuah gudang yang sudah terbengkalai puluhan tahun.
Sepanjang jalan tangan Adelia gemetar, tapi ia memberanikan diri untuk menyewa taksi yang Kendarai sendiri.
"Jangan sakiti putraku aku mohon." balasan chat Adelia.
Begitu Adelia sampai, ia jalan dengan sangat pelan. Untuk melihat situasi yang ada dikanan dan kiri. Apakah ada musuh yang akan menyerangnya.
Braaaakkkk
suara pintu dibuka dari dalam padahal belum sempat Adelia mengetuk pintu atau memanggil nama Vera. Tangan Adelia ditarik oleh seseorang berbadan kekar. Tangannya diikat ke belakang, seluruh badannya juga diikat di kursi duduk, begitu pula kakinya, sehingga Adelia tidak bisa bergerak sama sekali mulutnya ditutup menggunakan lakban.
Vira tertawa seolah mengejek dengan penampilan yang acak-acakan, sepertinya Vira telah kabur dari ruang tahanan.
"Dasar perempuan jal*ng kau."
"Ceraikan Raka atau kubunuh putramu, lihatlah putramu berada di genggamanku."teriak Vera diiringi suara ketawa melengking bagaikan kuntilanak.
"Aku akan merusak seluruh wajah cantikmu agar Raka tak terus mengingat dirimu, jika dirimu sudah berburuk rupa maka kau akan dibuang oleh Raka seperti diriku saat ini."
"Kau tahu wanita jal*ng sejak dulu aku sangat iri dengan kehidupanmu, kau selalu mendapatkan juara di kelas. Semua lelaki mengejarmu, apalagi Ivan lelaki yang ku sukai menembak dirimu itu sangat membuatku sakit hati."
"Dan kau memiliki segalanya, bisa pergi kemanapun yang kau mau. Sekolah di manapun yang kau inginkan, tapi tidak dengan diriku yang tidak memiliki apa-apa, saat kau menikah dengan Raka lelaki kaya raya dan sangat tampan itu semua wanita akan iri, begitu pula aku."
"Kau tahu bahwa aku telah menjebak suamimu agar lelaki tampan dan kaya itu mau menikahiku juga dan menggeser posisimu, tapi sayang sekali aku tidak seberuntung dirimu."
"Sekarang rasakan ini pembalasanku."
Satu cambukan mengenai seluruh tubuh Adelia hingga Adelia mengadu kesakitan, Vera seolah membabi buta bagaikan kacang lupa kulitnya. Adelia beberapa kali menggelengkan kepalanya ia sama sekali tidak bisa berontak satu lawan lima orang.
Ada empat laki-laki berbadan kekar yang menemani Vera untuk menculik anaknya dan menyiksa Adelia saat ini.
__ADS_1
"Rasakan ini," cambukan kedua mengenai punggung Adelia.
buk buk buk
Suara teriakan Adelia melengking, kesakitan. Kawan yang selama ini ia anggap sahabat dan menolongnya di saat-saat susahnya Vera, tetapi malah berbanding terbalik menjadi lawan.
"Kau tahu wanita jal*ng. Aku ingin kau mati, maka hari ini aku akan membunuhmu. Aku tidak akan puas jika kau belum mati."
4 orang bodyguard di belakang hanya bisa menyaksikan kegilaan Vera, Adelia sudah di ambang menyerah dalam situasi yang ia hadapi saat ini. Setidaknya Adelia sudah berjuang untuk menjemput putranya, lekas apapun itu yang terjadi pada dirinya.
Terlihat seluruh tubuh Adelia sudah melebam, kulitnya yang putih pucat sudah mengeluarkan banyak darah akibat cambukan kasar dari wanita psikopat yang bernama Vera.
Terdengar suara dari luar tembakan ke udara, seperti memberikan peringatan. Tapi berbanding terbalik Vera malah membabi buta semakin menjadi-jadi melayangkan cambukan ke tubuh Adelia.
Dengan gagahnya pria tampan itu telah menerobos ruangan yang sudah puluhan tahun terbengkalai, Brraaaak
Suara pintu dibuka dengan kasar, Raka terlambat datang. 4 orang bodyguard Vera sudah menyerang Raka sendirian. dengan kecitrakan melayangkan tendangan dengan kedua kakinya dan menembak kaki dua pria berbadan kekar.
Kini ia tidak peduli lagi apakah Vera mau mati atau mau hidup, keempat lelaki berbadan kekar itu berhasil dikalahkan oleh Raka dengan satu kali tembakan yang tepat sasaran mengenai satu persatu kaki mereka.
"Do not disturb mine.." teriak Raka. Menjegal tubuh Vera. Dan menyerahkan pada anak buahnya untuk di bawa ke markas mafia milik temannya.
"Buang dia pada Mala Salfatrucha." teriak Raka marah. Vera dilempar kasar pada asistennya.
"Baik tuan."
Raka dengan amarah yang sangat luar biasa, wajahnya sudah merah padam. Kali Ini Raka tidak akan memberikan ampun pada Vera, hati Raka bagaikan teriris pisau yang sangat tajam melihat keadaan Adelia ibu dari anaknya saat ini yang kondisinya sangat memprihatinkan.
"Sudah kukatakan untuk menungguku jika mau pergi kemanapun, kau sangat ceroboh kelinci kecilku." omel Raka disela-sela melepaskan ikatan di seluruh tubuh Adelia.
"Maafkan aku, aku tidak mendengarkan omonganmu. Aku menyesal. Bagaimana keadaan El? Apakah dia selamat atau tidak."
Dengan suara lemahnya. Adelia masih menanyakan keadaan putranya setelah Raka berhasil melepaskan seluruh tali yang melilit di tubuh Adelia. Raka menggendong tubuh Adelia membawanya keluar dengan bride style, mata sayu dan wajah pucat Adelia membuat hati Raka pilu untuk tidak menahan rasa sakit hatinya dan dendam kesumatnya pada Vera.
__ADS_1
Detik berikutnya, Adelia tidak bisa menahan kesakitannya dan pingsan di dalam gedongan Raka.
Bersambung