
Sudah seharian ini Adelia bermain dan berkunjung ke tempat-tempat indah bersama Icha teman barunya. Sepertinya ia tidak mempedulikan lagi larangan apa saja yang boleh dan tidak boleh dari Raka.
Adelia bisa menebak jika Raka pulang ke rumah Vera sudah pasti tidak akan mempedulikan dirinya dan anaknya bagaimana. Bahkan Adelia sampai di traktir makan siang oleh Icha di sebuah Frenchise terkenal di kota Kyoto.
Tidak terasa mereka bersepeda sudah sejauh sekitar lima kilo meteran. "Mulai sekarang kita adalah teman." kata Icha menyodorkan salah satu tangannya untuk mengajak Adelia Chees.
Adelia yang belum ngeh ajakan Icha bengong sesaat. Begitu tahu maksudnya Icha dirinya juga melakukan hal yang sama. Chees.
"Yahh kita adalah teman mulai hari ini dan seterusnya." balas Adelia. Mereka saling melempar senyum.
"Apa kau sudah lama tinggal di Kyoto?" tanya Icha pada Adelia.
"Aku rasa belum begitu lama."
"Aku pindah kesini juga baru saja masa kehamilanku dimulai." ungkapnya sambil menarik kedua sudut bibirnya.
"Tujuh bulan?" tanya Icha menaikkan sebelah alisnya.
Adelia terlihat mengangguk, tandanya benar tebakan Icha. "Tapi sebelum aku menetap disini aku lebih dulu di Tokyo." jelasnya pada Icha.
***
.
.
Brakkkk suara gebrakan meja baru saja terdengar mengagetkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Bagaimana tidak. Raka menggebrak meja di dalam ruangan kerjanya.
Ya, saat ini Raka sudah kembali bekerja, dirinya kembali lebih cepat dari awal perkiraan bulan madu yang ditentukan oleh Vera istri ke duanya.
Walaupun sempat membuat Vera merajuk tetapi tak menyurutkan niatnya untuk kembali lebih cepat. Alasan Raka sama, yaitu demi masa depan anaknya yang cerah.
Sudah pasti Vera lebih dulu mengajaknya adu mulut, tapi tetap saja dirinya yang harus mengalah.
Saat ini Raka melihat Macbook yang ada di hadapannya, melihat kemana saja Adelia pergi dan beraktivitas. Ternyata orang suruhannya begitu lamban untuk bertindak hingga membuatnya naik darah.
__ADS_1
Seharusnya ini sudah jamnya kembali pulang. Tetapi ini sudah tengah malam, Adelia tak kunjung pulang ke Mansion.
Terakhir kali Adelia terlihat bertemu dengan Icha, di pinggir jalan, dan melanjutkan kembali naik sepeda menuju Frenchise. Setelah itu tidak lagi terlihat.
"Cari istriku sampai ketemu, aku sudah membayar kalian mahal, mengurus satu orang saja tidak bec*s" ungkapnya berapi-api.
Tangannya bahkan menunjuk-nunjuk pada orang suruhannya. Raka tipe lelaki yang dingin, jika suatu pekerjaan tidak di selesaikan dengan baik oleh anak buahnya atau karyawannya maka ia tidak akan segan-segan untuk memecatnya saat itu juga.
Tetapi tangan dinginnya kali ini ia masih memaafkan, karena akan membuang-buang waktunya untuk mencari Adelia jika kembali mencari bodyguard baru.
Tidak berapa lama Jeremy masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya mengetuk pintu lebih dulu. "Maaf tuan apa yang anda perlukan?" tanya Jeremy sopan.
"Cari istriku."
"Baik Tuan." jawab Jeremy tanpa membantah perintah Raka. Pada akhirnya asistennya lah yang harus turun tangan untuk mencari Adelia.
Raka kembali duduk di kursi kebesarannya, salah satu tangannya memijit pelipisnya, membuat harinya buruk karena Adelia pergi jalan-jalan keluar rumah dan tak kunjung kembali.
Sejenak menarik nafasnya untuk menetralkan kembali amarahnya yang tadinya sempat memuncak.
"Anda pergi kemana sih nyonya, kenapa menyusahkan pekerjaanku saja." gumam Jeremy pada dirinya sendiri. Ketika dirinya baru saja keluar dari gedung pencakar langit. Jeremi harus bolak balik naik kendaraan umum seperti kereta bawah tanah. Dan berjalan kaki untuk sampai di tempat transportasi umum.
Jerema bahkan harus berfikir sejenak untuk menjernihkan pikirannya. Namun belum ada satu jam dirinya sudah berhasil membuat laporan pada Raka dimana keberadaan Adelia.
"Dimana?" tanya Raka dari sambungan telepon. Disela-sela kesibukannya memeriksa setumpuk dokumen pengajuan kerja sama.
"Nyonya bersama teman barunya tuan, istri anda sudah aman." balas Jeremy.
"Aman dalam pengawasan saya tuan." batin Jeremy berkata.
"Apa kau sudah berhasil membuatnya pulang ke Mansion?" tanya Raka.
"Sudah saya bujuk tetapi nyonya tetap tidak mau pulang tuan. Karena nyonya Adel sedang melakukan kegiatan memasak bersama teman barunya."
"Jadi maksud kamu, Adelia sedang ke rumah teman barunya?" tanya Raka menyimpulkan.
__ADS_1
"Ya tebakan anda benar tuan."
Memang benar adanya jika Jeremy sudah berusaha membujuk Adelia, tetapi tetap saja Adel tidak mau pulang. Karena akan menginap di rumah nenek Icha.
Apa lagi Adelia mendapatkan pembelaan dari Icha. "Sudahlah kau pulang saja dari sini. Biarkan nyonya kamu menginap disini, besuk aku sendiri yang akan mengantarkan nya pulang." kata Icha. Setelah Jeremy menutup panggilan telepon dari Raka.
"Tapi nona, saya akan mendapatkan masalah untuk hal ini."
"Tidak apa-apa, kau jangan takut, jika kau di pecat kau bisa pindah bekerja bersamaku." kata Icha tanpa merasa takut sedikitpun.
"Menjadi pelayan petani maksudnya." batin Jeremy agak ngeri. Karena memang rumah nenek Icha berada di tengah-tengah perkebunan yang sangat luas.
Padahal Jeremy sudah menampakkan wajahnya yang tidak bersahabat. Jika biasanya Jeremy ditakuti para karyawan dikantor. Tetapi tidak jika berhadapan dengan Icha.
Bahkan para bodyguard asuhannya begitu tunduk untuk mengawal keluarga Raka. "Sampai kapan kau akan diam dan melotot di tempatmu, apa kau tidak capek." omel Icha tak henti-henti. Icha melipat kedua tangannya dan matanya melirik sebelah.
Sedangkan Adelia sibuk menata makan malam yang akan di sajikan di tempat makan lesehan kah Jepang.
"Icha siapa yang datang nak." suara nenek Icha dari dalam. Walaupun usianya sudah senja tetapi masih bugar dan kelihatan masih sangat muda. Sampai Jeremy mengira jika yang menyahut Icha itu adalah ibunya.
"Ah itu nek ada tamu tak diundang tiba-tiba kemari."
Jeremy yang mendengarnya sampai melotot kan matanya kembali pada Icha. Karena dibilang demikian.
"Siapa? Kenapa tidak kau suruh masuk saja." kata Nenek Icha sembari keluar membawa buah-buahan segar seperti buah Peach salah satunya.
"Silahkan duduk tuan, maafkan cucu saya." kata Nenek Icha mempersilahkan Jeremy duduk lesehan dan mengajaknya makan malam bersama.
"Perempuan yang sangat cantik, tidak heran dia cantik, neneknya saja di usia senja juga masih sangat cantik." batin Jeremy berkata sembari menyumpit makanan ke dalam mulutnya dengan gaya elegan.
"Ck, apa yang dia pikirkan itu," batin Adelia kesal. Karena Jeremy tak kunjung pergi. Kini malah ikutan bergabung dengan mereka.
"Aku mengira jika dia suami nona Adel." kata Nenek Icha.
"Tidak nek, dia asistennya suami saya." jawab Adel sopan.
__ADS_1
"Aku yang mengajaknya kemari nek, dan Adel akan menginap disini, besuk aku yang akan mengantarkan dia pulang." jawab Icha menimpali.
"Tapi nak dia sudah bersuami, apalagi lagi hamil besar begitu." kata Nenek Icha berusaha memberikan pengertian pada cucunya, tapi Icha malah menggelengkan kepalanya.