
Pagi menjelang, Icha baru saja selesai merawat tanaman kakek neneknya, begitu ia selesai merapikan daun-daun kering, Icha segera mencuci tangannya dan berniat akan kembali memasuki rumah besar kakek neneknya. Namun ketika dirinya berbalik dikejutkan oleh seseorang lelaki tampan, kira-kira memiliki tinggi yang hampir setara dengan suaminya Arka.
"Hah anda mengagetkan saya tuan." omel Icha sembari memegang dadanya dengan salah satu tangannya.
"Dimana keberadaan istri saya nona." tanya Raka tanpa basa basi.
"Istri anda?"
"Iya, istri saya yang semalam menginap di rumah anda." kata Raka memperjelas.
"Oh nona Adelia maksud anda."
"Dia masih tidur, ada apa anda kemari?" jawab Icha tak kalah ketusnya. Tangannya ia lipat di dada.
"Tentu saja menjenguk istri saya, mau apa lagi memangnya, jika istri saya tidak anda sembunyikan."
"Hei anda jangan sembarangan bicara ya, dia menginap kemari juga atas tawaran dan kesepakatan." ralat Icha mengomel tidak terima.
Suara Icha yang melengking membuat Adelia yang masih terlelap mengucek kedua matanya. "Siapa sih pagi-pagi sudah membuat keributan begini." gumam Adelia seraya mengangkat tubuh dengan malas turun ke ranjang.
Lalu membuka gorden minimalis kamar Icha, Adelia sendiri juga tidak kalah terkejutnya kala melihat Raka yang pagi-pagi sekali sudah nongol di rumah kakek nenek Icha.
"Hah kak Raka." gumam Adelia terkejut.
Adelia berlari keluar rumah untuk melerai perdebatan ke dua orang itu. "Kak lagi apa pagi-pagi sudah kemari?" tanya Adelia.
"Pulang sekarang."
"Tidak, nanti aku akan pulang bersama Icha."
"Sayang, tidakkah kamu memikirkan perasaan suami kamu ini, yang sedang mengkhawatirkan mu sepanjang malam." kata Raka, kini dirinya tanpa di sadari Icha dan Adelia sudah mendekat ke arah Adelia.
"Tidak, aku rasa kakak juga tidak memikirkanku."
"Pulanglah urus saja istri keduamu. Aku masih mau disini."
"Sayang, please jangan mempersulit semuanya."
__ADS_1
"Cieh, aku muak sekali mendengar panggilanmu baru saja." batin Adelia kesal.
Perdebatan suami istri itu tidak luput dari perhatian Icha. "Ya sudahlah, kalian selesaikan dulu masalah kalian berdua. Aku tinggal dulu." kata Icha lalu meninggalkan mereka berdua agar saling leluasa untuk berbicara satu sama lain.
Raka juga pantang menyerah untuk membujuk Adelia agar mau ikut bersamanya, apapun akan ia lakukan kali ini. Berbeda dengan Adelia yang masih kukuh dengan pendiriannya, ia masih tetap mau tinggal bersama Icha dan akan kembali lagi nanti diantar oleh Icha.
"Aku mau bicara sama kamu, please ikut pulang sekarang ya."
"Apa kakak tidak dengar tadi aku bilang apa, aku rasa aku tidak perlu mengulang perkataanku barusan." ucap Adelia ketus.
"Sayang kenapa raut muka kamu sama dengan temanmu tadi." kata Raka. Mengambil kedua tangan Adelia dan menggenggamnya.
Adelia terdiam ditempatnya sesaat, jika ia ikut Raka pulang sekarang sudah pasti ia akan kesepian tinggal di Mansion besar itu. Tanpa ada teman mengobrol.
Akhirnya dengan kesepakatan bersama Raka minta tolong pada Icha, agar mau menemani istrinya di Mansion besar itu. Bahkan Raka rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membayar Icha, hanya menjadi teman mengobrol Adelia satu hari satu malam di rumah besarnya.
Mereka menaiki transportasi umum kereta bawah tanah untuk sampai ke lokasi di mana Raka tinggal. Perjalanannya lumayan sekitar lima belas menit dari tempat tinggal Icha sampai ke Mansion.
"Di mana memangnya tempat tinggal kalian?" tanya Icha pada Raka untuk memecah keheningan di antara mereka.
"Sebentar lagi akan sampai, sabarlah." bukan Raka yang menjawab tetapi Adelia.
"Suamimu terlihat garang di saat seperti ini, apakah dia pemakan hewan buas sehingga wajahnya tampak seperti harimau yang siap menerkam mangsanya." bisiknya sangat pelan di telinga Adelia.
Hal itu malah mengundang tawa Adelia, hingga mengeluarkan suara sedikit terbahak, bahkan penumpang yang lainnya ikut menoleh dari mana asal sumber suara itu.
"Aku mendengarnya nona." sahut Raka dingin.
"Ah iya benarkah? Haha emangnya tadi aku berbicara apa? Aku rasa tadi aku sedang bercanda, jangan dimasukkan ke hati tuan. Aku tidak mau dimasukkan ke kandang buayamu." canda Icha pada Raka. Salah satu tangan Icha menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena tertawa.
Tapi respon Raka hanya melirik sekilas, dia seperti pernah melihat di mana wajah Icha, seperti pernah bertemu tetapi ia lupa di mana.
"Silakan lakukan apa yang kalian mau, tapi jangan keluar dari peraturan ku. Semua di rumah ini sudah ada aturannya. Jadi ku peringatkan pada anda nona. Untuk tidak berbuat hal yang macam-macam, terutama pada istriku."
"Baiklah tuan, baik. Anda seperti sedang memberitahukan kepada baby sister yang akan merawat anak anda. Saya mengerti dan saya tidak akan melanggarnya." balas Icha dengan cengiran khasnya dan memberikan tanda hormat sebagai balasan ia patuh pada Raka.
Adelia yang melihat interaksi mereka menggelengkan kepalanya. "Sudahlah jangan banyak mengatur dia, nanti dia bisa tidak betah menemaniku kemari. Aku hanya meminta dia untuk menemaniku bukan merawatku. Kau tak usah mengaturnya." ketus Adelia pada Raka, rupanya perang dingin suami istri itu masih berlanjut sampai di Mansion mereka.
__ADS_1
"Sudahlah nona muda turuti saja kemauan tuan muda. Tuan muda sedang posesif untuk saat ini."
"Aku pergi ke atas dulu."
" Memangnya kau tidak kembali lagi ke kantor?"
" Tidak aku sudah menyelesaikan pekerjaanku tadi malam."
Tanpa tahu malu di depan Icha, Raka mencium kening Adelia tanpa permisi, seolah-olah seperti suami yang sedang bucin dengan istrinya.
"Sudahlah jangan dengarkan dia, suami tidak tahu diri." kata Adelia menenangkan Icha.
"Hei jangan begitu, walaupun dia kurang baik perilakunya juga masih suamimu. Kau masih berhak untuk mematuhi aturannya, kau tahu itu."
"Ya lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, ayo ceritakan sekarang, bagaimana kehidupanmu? Aku juga ingin tahu." tanya Adelia balik.
Kini mereka berjalan menuju arah taman belakang, di mana di sana terdapat banyak rumah kaca yang ditanami buah-buahan dan juga sayur-sayuran, ada juga berbagai macam binatang satwa. Itu semua adalah rumah impian Adelia yang dibangun khusus untuk Adelia.
***
.
.
.
Raka memanggil kepala pelayan, memberitahukan jika dirinya ada pertemuan penting dari investor baru. Ia menitip pesan ini kepada istrinya Adelia, dan memberikan laporan apa saja kegiatan Adelia hari ini.
Kepala pelayan itu mengangguk mengerti dan mempersilakan tuanya untuk segera pergi. Kelihatannya Raka nampak terburu-buru padahal tadi dirinya bilang akan beristirahat di rumah dan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Baru saja ia membersihkan diri sudah ada dering ponsel pintarnya dari Jeremy, mengingatkan jadwalnya hari ini apa saja.
Pertemuan kali ini diadakan di hotel bintang lima, untuk membahas kerjasama dengan investor baru. Rencananya mereka akan memperluas perusahaannya hingga di Asia dan mencari model untuk produk barunya.
"Selamat pagi tuan? apakah saya terlambat?" tanya Raka pada kliennya, lalu mereka berjabat tangan sebagai tanda sahabat.
"Pagi tuan Raka. Saya rasa saya lebih cepat lima menit dari Anda." jawab Arka santai.
.
__ADS_1
.
.