Married For Pellets

Married For Pellets
Eldorado Allison Maheswara


__ADS_3

Raka sudah menceritakan duduk awal permulaan masalah baru yang ia hadapi. Adelia mendengarkan dengan seksama.


"Benarkah ceritanya seperti itu?"


"Kau meragukanku istriku." kata Raka. Matanya menatap tajam Adelia, seolah ingin melahap habis Adelia saat ini.


"Oh aku takut dengan tatapanmu, baiklah aku ingin dihukum." sahut Adelia tersenyum lalu menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Adelia tahu jika Raka sebentar lagi pasti akan melahap habis dirinya.


"Kak, berhentilah ini masih dirumah sakit, apa tidak bisa nanti saja jika sudah pulang." kata Adelia berusaha menghindar ciuman bertubi-tubi yang dilakukan Raka.


Tetapi Raka seolah menulikan pendengaran nya, sama sekali tidak terganggu dengan protes Adelia. Kebetulan sekali keadaan rumah sakit saat ini juga mendukung. Tidak ada perawat berlalu lalang seperti biasanya, karena ini memang jam istirahat.


Raka mulai menciumi setiap inci tubuh Adelia. Raka tahu jika luka Adelia sudah pulih dan mengering. "Apakah masih sakit istriku?" bisik Raka terdengar parau, karena sudah dipenuhi kabut gairah.


"Auuuhh." rintih Adelia. Raka berhenti sejenak dengan cumbuannya. Mengira jika Adelia masih kesakitan.


"Sayang, apakah aku perlu memanggil dokter kemari?" tanya Raka menatap inten Adelia.


Adelia terlihat menggelengkan kepalanya tandanya tidak perlu memanggil perawat atau dokter. "Tidak, jangan Kak, aku sudah baik-baik saja."


Adelia juga merutuki dirinya sendiri, menolak sentuhan Raka, padahal tubuhnya menginginkan sentuhan hangat Raka. Jika dirinya tidak malu mungkin akan meminta secara terang-terangan untuk jangan berhenti menyentuh nya.


"Kenapa malah diam? Hemmm.."


Raka seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran Adelia, mencium bibir ranum, menyesapnya perlahan tanpa ampun.


"Aaaaahhhh." rintih Adelia hingga membuat gairah Raka bangkit.


Tangan Raka sudah traveling ke tempat favoritnya, satu jam lebih mereka bergulat di atas brankar rumah sakit. Karena ruangan ini VVIP jadi ranjang yang menjadi tempat tidur pasien juga memiliki kualitas premium.


Nafas mereka masih memburu bersahut-sahutan satu dengan yang lainnya. "Tetaplah berada disisiku apa pun keadaan nya."


Mata sayu Raka menatap lekat Adelia. Sesaat Adelia terdiam di tempatnya, lalu mengangguk. Membuat nafas Raka kembali normal, setelah menguasai dirinya.


"Aku ingin mandi, rasanya tubuhku terasa lengket."

__ADS_1


"Tidak."


"Tapi aku tidak nyaman," bantah Adelia tidak mau kalah, memang benar sehabis bercinta beberapa ronde dalam sejam membuat Adelia mandi keringat.


Akhirnya setelah melalui drama dengan Raka. Adelia di seka menggunakan air hangat dan handuk. Pasalnya luka Adelia baru saja mengering. Kata dokter belum boleh terkena air terlalu lama.


"Kapan aku boleh bertemu putraku?" tanya Adelia membuka percakapan.


"Setelah pulang dari rumah sakit kalian akan bertemu." jawab Raka datar tanpa ekspresi.


"Ck, sampai kapan aku tinggal di rumah sakit? apa dokter belum mengijinkan aku pulang?" tanya Adelia sendu.


"Sabarlah, mungkin besuk atau lusa baru boleh pulang, aku tidak ingin kecerobohan mu seperti ini terulang lagi."


Adelia terdiam, tak menanggapi omelan Raka, bukan lagi omelan tapi seperti sebuah perintah yang wajib di taati.


***


*


*


*


Ya saat ini Adelia sudah kembali kerumah utama ibu dan ayah mertuanya, yaitu kedua orang tua Raka. Untuk sementara Adelia akan tinggal disana. Masih bahaya untuk dirinya jika tinggal di apartemen atau jauh dari jangkauan keluarga Raka.


Walaupun Nita sudah berada di tempat rehabilitasi dan juga Vera sudah mendekam di penjara. Raka tidak mau mengambil resiko dan kemanapun Adelia pergi sendiri atau bersama anaknya maka akan diikuti oleh beberapa pengawal.


Kedua ibu dan anak itu berpelukan seolah Adelia tidak mau berpisah ingin waktunya berhenti di sini saja.


Adelia masih mencari-cari sosok yang membuatnya penasaran, Raka yang mengamatinya seolah mengerti apa yang ingin Adelia utarakan. "Kau mencari anak itu?dia sudah diasuh oleh orang yang membutuhkan."


"Apa maksudmu? biar bagaimanapun dia adalah seorang anak, dia bisa menjadi tumbuh dewasa dan mengerti dengan semuanya. Kenapa kau memberikan kepada orang, seolah itu adalah barang." Adelia marah.


Sedangkan ibu dan ayah Raka memberikan kesempatan kepada ibu dan anak itu, Loren perawat setia ikut serta kemanapun Raka membawa El maka Raka akan mengajaknya. Seluruh penghuni rumah itu seolah menulikan pendengaran mereka masing-masing mendengar keributan yang dibuat oleh suami istri yang lama tidak saling jumpa.

__ADS_1


"Sayang kau jangan merusak suasana bahagia kita. Kita baru saja bertemu sebagai suami istri, tapi kenapa kau malah merusaknya. Aku tidak mau membahas ini lagi. Sudah ayo aku antar ke kamar El. "


Mendengar penuturan Raka baru saja, membuat Adelia bungkam, dengan menggendong El yang berada dalam pelukannya, Adelia akhirnya mengekori Raka menuju sebuah ruangan yang terlihat seperti taman bermain untuk anak-anak.


"Dia tertidur, padahal hanya dalam pelukanku beberapa menit saja." kata Adelia mengamati wajah tampan putranya.


Adelia meneliti setiap ruangan, ruangan itu terlihat megah dengan berbagai media alat bermain untuk kegiatan motorik kasar dan berbagai mainan Lego untuk melatih motorik halus anaknya juga. Adelia menduga jika Ini semua adalah keinginan Raka.


"Dia masih bayi dan kau menyiapkan mainan sebanyak ini apa ini tidak mubazir?"


"Justru itu aku harus menyiapkan dari sekarang sebelum dia tumbuh menjadi anak yang sudah bersekolah."


"Memangnya kau mau menyekolahkan anakmu yang masih balita ini?"


"Sayang untuk melatih motorik anak harus dimulai sejak dini, kau tahu bahwa permainan ini aku tidak sembarang untuk membeli, tapi semuanya sudah kuperkirakan untuk anak usia 1 tahun keatas."


Adelia mendengarkan penuturan neraka sambil merebahkan tubuh anaknya di atas ranjang dengan sangat pelan.


" Pelankan suaramu jangan terlalu kencang, nanti dia akan terbangun."


Setelah berhasil menidurkan El, dengan hati-hati Adelia turun dari ranjang king size yang ditempati El saat ini. Lalu Adelia menarik tangan suaminya pergi menuju balkon melihat pemandangan yang ada di bawah sana.


"Kau berhutang penjelasan padaku?" kata Adelia matanya memandang tajam ke arah Raka.


Raka malah semakin mendekat dan merapatkan tubuhnya menempel pada Adeia, mulutnya tidak tahan untuk segera menciumnya.


Lalu memberikan sedikit ******* kecil di sana, awalnya ******* itu hanya iseng saja tapi lama-kelamaan membuat jantung mereka berdetak lebih kencang. Darah mereka berdesir seperti tersengat listrik. Adelia ingin menolaknya tapi Raka malah menekan tengkuk nya.


Setelah terjadi ciuman panas beberapa menit, Adelia kehabisan nafas. Begitu dirinya lepas dari kungkungan Raka Adelia menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Kau membuatku kehabisan akal bukan hanya kehabisan akal kehabisan nafas juga." kata Adelia merajuk memayunkan bibir manisnya.


"Maka aku yang akan mengisi akalmu yang sudah habis itu sampai kau tak lagi bisa berpikir dengan jernih."


"Dasar konyol." rajuk Adelia.

__ADS_1


__ADS_2