
" Maaf Princess, Karena aku kau menjadi basah, Aku hanya memiliki Jaket ini saja di Mobil, Jadi kau bisa memakai nya. "
" Apa ingin ku bantu ? " Diandra masih terdiam.
" Princess, Hey..."
Deg !
Jantung Diandra hampir copot dari tempat nya saat Merasakan kehangatan tangan besar Matheo mengusap pipi kiri nya.
" Princess, Are you oke ? Kau baik baik saja ?" Tanya Matheo lagi mulai terlihat kepanikan di wajah nya.
Sementara Diandra, Dia semakin berdebar saat suara berat Matheo memanggil nya, Bukan Diandra atau Dy, Seperti biasa nya, Tapi Princess.
Dan entah kenapa saat Matheo memanggil nya Princess, Hati Diandra bagai di sirami ribuan kelopak bunga yang indah membuat hati nya sejuk dan entah bagaimana cara nya Diandra menjelaskan nya, Tapi rasa nya sangat bahagia.
" Princess, Hey...Kenapa melamun. "
" A-apa ? Maaf aku harus memanggil nya apa ? "
" Terserah kau mau memanggil nya apa ? Yang pasti jangan Tuan atau Mr. "
" Kakak ?" Tanya Diandra lagi.
Usia nya baru 24 tahun, Jadi apa bisa dia memanggil nya Kakak ?
" Terserah kau, Jika ingin memanggil ku sayang juga terserah mu..."
Blush...
Panas sekali rasa wajah Diandra, Saat Matheo menggoda nya.
" Jangan seperti itu, Malu..." Ahhh...
Boleh kah Matheo menjerit saat ini ? Hati nya jedag jedug saat ini, Wajah Diandra sangat menggemaskan sekali jika tersipu begitu.
" Sudah, sini aku bantu memakai jaket nya, Kita pulang. " Diandra mengangguk.
Matheo memejamkan mata nya rapat saat membantu memakai kan jaket di tubuh Diandra, Aroma tubuh nya, Parfume nya, Dan Wangi rambut Diandra, Rasa nya membuat Matheo gila jika lama lama seperti ini.
Diandra memang bisa membuat nya jungkir balik, dan guling guling karena pesona nya.
" Sudah cukup hangat ?" Tanya Matheo lagi saat sudah memakaikan jaket jeans nya di tubuh Diandra.
Diandra hanya mengangguk, dia memilih mengalihkan pandangan nya ke arah luar jendela, walau dia tidak bisa melihat, setidak dia bisa mengalihkan wajah bersemu nya agar Matheo tidak bisa melihat nya.
Sepanjang jalan, Matheo terus tersenyum, Pertama kali dekat bahkan sedekat ini dengan seorang wanita selain Mama nya, Bibi Maura dan Mbak Winarsih dulu, Dan ini adalah Diandra.
Wanita yang di tabrak nya malam itu.
" Ingin makan apa ? Atau kita delivery atau Drive true saja ?" Matheo melirik ke arah Diandra, .
__ADS_1
" Drive true saja, Aku ingin Makan burger, Doble cheese, Dan Doble beef nya. "
" Oke. Tapi maaf, Aku tidak bisa menemani mu makan, Aku tidak makan junkfood. "
" Alasan nya ? Apa karena makanan sampah ? Dan tidak baik untuk kesehatan ?" Tanya Diandra .
" May Be ?" Matheo mengendikan kedua bahu nya.
Entah apa alasan nya, Tapi yang pasti Matheo memang tidak menyukai makanan junkfood dan siap saji.
" Apa ada lagi ?" Tanya Matheo lagi.
Diandra sedikit berpikir, Kemudian dia menginginkan ayam Crispy juga.
" Ayam Crispy saja. "
" Oke !" Jawab Matheo.
Dia menuruti permintaan Diandra, dan membelikan pesanan nya.
" Sudah apa itu saja ?"
" Sudah. " Jawab Diandra.
Matheo menyerahkan kentang goreng sebagi bonus nya pada Diandra dan Diandra pun menerima nya.
" Thank you Kak..."
" Kenapa malu ????" Pertanyaan Matheo semakin membuat Diandra salah tingkah.
Perlakuan lembut Matheo membuat nya meleleh dan luluh lantah karena sikap dan perhatian nya.
Kenapa Matheo begitu perhatian pada nya ? Padahal dia adalah wanita buta dan lumpuh ?
" Jangan begitu, Aku malu..."
" Aku menyukai nya, Wajah mu semakin tersipu semakin cantik, Apa aku boleh mencubit pipi mu ?" Apa apaan Matheo ini ?
Ingin mencubit pipi nya ?? Enak saja.
Pasti akan sakit nanti nya, Apalagi tangan besar itu membuat nya merinding.
" Aaahh...sakit...." Eluh Diandra saat Matheo Benat benat mencubit pipi nya.
Bukan cubitan nakal, Tapi cubitan gemas.
Matheo tersenyum saat melihat wajah cemberut Diandra, Terbesit di otak nya untuk menjadikan Diandra wanita nya, Kekasih nya dan istri nya, Mengandung calon anak anak nya.
Matheo langsung memukuli kepala nya saat pikiran itu terlintas begitu saja di otak nya, Bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu ?
Jauh sekali pemikiran nya ? Tapi bolehkan dia bermimpi seperti itu ?
__ADS_1
Tapi untuk saat ini, Masih ada yang harus di kerjakan nya, Mencari donor mata untuk Diandra dan melakukan terapi agar bisa kembali berjalan lagi.
Matheo berharap banyak untuk semua nya, Agar Diandra kembali pada diri nya sendiri sebelum Matheo menghancurkan nya saat itu.
" Tunggu sebentar oke, Masih hujan, Aku ambil payung dulu di bagasi. "
" Tidak usah kak, " Diandra mencegah nya, Saat Matheo hendak keluar untuk mengambil payung di bagasi mobil nya.
" Kenapa ?" Tanya Matheo saat Diandra mencegah nya.
" Telpon saja orang rumah, Nanti kakak basah lagi. Tadi sudah basah karena menggendong ku. " Lagi lagi senyum Matheo terbit saat mendapatkan perhatian kecil dari Diandra .
" Baik lah, Kita hubungi orang rumah kamu oke. " Diandra mengangguk.
Matheo menunggu suster Ani untuk menjemput mereka di mobil untuk membawakan payung untuk mereka berdua.
Dan saat suster Ani datang, Dia kaget, Dimana kursi roda Diandra ? Kenapa Mr Matheo yang terkenal dingin dan tidak ingin di sentuh orang lain dengan gampang nya menggendong Diandra ?
Tapi bibir serta lidah nya seakan Kelu, Mana berani dia bertanya seperti itu ?
" Tolong bantu Diandra membersihkan diri nya, Tadi kami kehujanan saat di taman, Dan kursi roda nya tinggal disana. Nanti anak buah ku yang akan mengantarkan nya kerumah. "
" Baik Mr. " Suster Ani membantu Diandra membersihkan diri nya saat Matheo membantu Diandra masuk ke dalam kamar mandi dan duduk di dalam bathup sederhana yang memang baru di beli oleh Matheo demi kenyamanan Diandra,.
Bahkan disana juga ada kursi khusu orang lumpuh untuk berada di kamar mandi.
Matheo Benat benat menyiapkan semua keperluan Diandra, Demi kenyamanan nya.
" Kau basah nak, Apa kau mau memakai pakaian sederhana milik ayah ?" Tawar ayah Andra
Walau dia tau Matheo tidak akan mungkin menerima nya .
" Maaf ayah, Bukan maksud ku menolak, Tapi anda tau sendiri bagaimana postur tubuh kita, Jadi itu tidak akan mungkin untuk aku memakai nya. " Ayah anda mengangguk.
Benar juga, Tubuh Matheo dua kali lipat dari tubuh ayah Andra, Maka jika hanya untuk menggendong Diandra itu akan sangat mudah bagi nya.
" Tenang saja ayah, Saat Diandra selesai Aku akan pulang, Dan besok aku yang akan mengantarkan Diandra untuk melakukan terapi nya. Aku berjanji akan membuat nya kembali berjalan dan bisa melihat. Aku akan mengembalikan Diandra mu yang dulu. Dan tolong..." Matheo menghembuskan nafas nya sejenak dan memejamkan mata nya sebelum melanjutkan kata kata nya
" Tolong izin kan aku untuk mencintai nya, Bukan karena rasa kasihan ku, Tau rasa bersalah ku, Tapi aku benat benar ingin mencintai nya. Menjadikan nya sebagai wanita ku, Dan calon ibu dari anak anak ku. " Kini kedua mata ayah Andra sudah berkaca kaca.
Dia merasa terharu dengan anak muda di depan nya ini, Begitu bertanggung jawab dan tegas pula.
Maka rasa nya ayah Andra berguru bahagia mendengar nya, Bahwa ada yang mencintai anak nya dengan tulus, Dan menerima nya apa ada nya Diandra saat ini.
" Aku tidak bisa memutuskan nya, Bicarakan langsung dengan Diandra, Dan jangan katakan apapun tentang kecelakaan malam itu. "
" Aky tidak ingin terus di hantui rasa bersalah ku, jadi akan ku mengatakan nya, terserah dia menerima ku atau tidak. Tapi aku akan mengatakan nya nanti. "
" Itu terserah mu saja. Ayah hanya bisa mendoakan semoga Diandra busa menerima mu " Matheo mengangguk.
...🌼🌼🌼...
__ADS_1