
Matheo masih menimbang, Sambil terus mutar mutarkan ponsel nya di meja kerja nya.
Tatapan mata nya begitu tajam dan menyorot, Ada tatapan menyongsong ke depan sana, Entah apa yang sedang di pikirkan nya.
Tanpa sadar, Dia menekan panel hijau di layar ponsel nya dan menghubungi Papa nya.
" Hallo..." Terdengar helaan nafas Matheo yang begitu berat.
Alex pun langsung paham dengan keadaan putra sulung nya itu.
" Pa..."
" Katakan lah ! Apa yang bisa Papa lakukan untuk mu..." Tanya Alex pada Anak tertua nya.
" Diandra Buta Pa, Kaki nya juga lumpuh..." Kini Alex yang menghela nafas nya sampai terdengar di telinga Matheo.
Bukan Alex tidak tau tentang kebenaran berita yang di dapatkan nya, Tapi dia akan menunggu Matheo sendiri yang meminta nya untuk membantu.
Karena Alex tau, bahwa anak anak nya tidak akan mau di bantu langsung oleh nya jika tidak mereka sendiri yang meminta nya langsung.
" Lalu ? Sejak kapan kau mengenal nya dan tau nama nya ?? Apa kau memiliki rasa berlebih pada nya ?" Matheo hanya menggeleng saja.
Dia tidak tau apa yang di rasakan nya saat ini, Bingung harus melakukan apa ? Dan perasaan ?
Perasaan apa yang di maksud papa nya itu ? Bagaimana rasa nya memiliki perasaan lebih terhadap wanita yang seperti papa nya katakan ?
" Matheo tidak tau Pa, Apa papa bisa mencarikan donor mata untuk Diandra ?? Theo sangat berharap bisa melihat Diandra melihat lagi pa, Agar rasa bersalah Theo sedikit berkurang. "
" Tenang lah, Papa akan mengerahkan semua anak buah Papa untuk masuk ke pasar gelap ! untuk mendapatkan nya. "
" Terima kasih Pa, Titip kan salam sayang Theo pada Mama dan adik adik. " Alex hanya memutar bola mata nya jengah, Bagaimana tidak jengah jika anak anak nya selalu saja ingin menempel pada istri nya.
Menyebalkan sekali bukan ??
" Terserah ! Jaga diri baik baik, Segera hubungi Papa jika terjadi sesuatu. "
" Baik Pa, Theo pamit. " Sambungan telepon terputus.
Hari sudah sore, Matheo segera membereskan barang barang nya untuk kembali ke rumah nya.
Tapi sebelum itu, Dia pergi ke toko bunga lebih dulu untuk memberikan seikat bunga pada Diandra.
Saat sampai dirumah Diandra, Matheo segera turun dari mobil nya dan melihat bahwa Diandra tengah menikmati cahaya jingga di teras rumah nya dengan menggunakan gaun sederhana yang memang pas dan terlihat sangat cantik di pandangan mata seorang Matheo.
Matheo berjalan mendekat ke arah dimana Diandra duduk di kursi roda nya dengan memegang setangkai mawar merah di tangan nya.
__ADS_1
" Siapa disana ??" Tanya Diandra panik saat merasa ada orang yang mendekat ke arah nya, yang di rasa Diandra seperti nya orang itu pria.
Karena Diandra tau ketukan sepatu Pantofel itu menggema di Paving blok halaman rumah nya.
" Its oke, Ini aku Matheo..."
" Matheo ?? Mr, Matheo ? Benar kah ?" Wajah yang tadi nya terlihat panik kini perlahan mulai melebarkan lengkung indah bibir nya membentuk sebuah senyuman indah.
" Ya, Ini aku, Matheo. " Sahut nya lagi dengan penuh senyuman.
" Kenapa masih disini ? Ini sudah sore, Kenapa tidak masuk ?" Tanya Matheo menghampiri Diandra dan berlutut di depan nya.
Untuk pertama kali nya Matheo berlutut di hadapan wanita lain selain Tarisa, Mama nya.
" Suster bilang sedang mandi, "
" Kenapa mereka meninggalkan nya sendiri disini ? Ini bahaya, Bagaimana jika kau membutuhkan sesuatu dan terjatuh ? Siapa yang akan menolong mu ??" Diandra hanya tersenyum miris.
Dia sadar, bahwa dia buta dan lumpuh, Tapi kekhawatiran Matheo sangat berlebihan,.
Dia juga tau bagaimana keadaan nya saat ini, Yang buta dan lumpuh.
Dia harus sadar diri untuk tidak menyusahkan orang lain karena kondisi nya saat ini.
" Iya, Aku tau, Aku yang menyuruh suster untuk membersihkan diri setelah dia membantu ku membersihkan diri." Jawab nya dengan wajah tertunduk.
Matheo mengerti apa yang tengah di rasakan Diandra saat ini dan itu kembali berhasil membuat hati Matheo meringis sakit.
" Ayo aku bantu masuk, Dan ini untuk mu..." Matheo menyerahkan seikat bunga pada nya dan di terima Diandra dengan senang hati.
" Terima kasih..."
" Ya, Bisa kah aku meminta sesuatu ??" Tanya Matheo saat mendorong kursi roda Diandra.
" Apa ?" Tanya Diandra dengan wajah polos nya.
" Apa bisa aku terus melihat mu tersenyum seperti ini ?" Diandra sedikit kaget dengan penuturan Matheo yang menurut nya tidak masuk akal.
Ingin melihat nya terus tersenyum ? Untuk apa ??
" Tapi untuk apa ??" Tanya Diandra lagi.
Matheo juga bingung untuk apa dia meminta Diandra untuk terus tersenyum ? Dan terlebih lagi tersenyum untuk nya ??
" Tidak ada, Hanya saja---" Ucapan Matheo terpotong saat dia melihat suster datang tergopoh gopoj mengambil alih kursi roda milik Diandra.
__ADS_1
" Maaf Mr, Saya tadi--"
" Lain kali jangan lakukan lagi ! Jangan pernah tinggalkan Diandra sendirian di luar tanpa pengawasan !" Suster Ani hanya mengangguk saja.
Dia juga merasa bersalah dan lalai karena terlalu lama di kamar mandi meninggalkan Diandra di halaman sendirian.
" Sudah, Aku baik baik saja, Lagi pula tidak terjadi apa apa bukan ??"
" Tidak terjadi apa apa bukan berarti tidak bukan ? Bisa saja kau terjatuh atau bahkan --"
" Jangan terlalu berlebihan Mr ! Aku bukan anak kecil yang tidak tau menjaga diri ku sendiri walau aku buta dan lumpuh. Lagi pula, apa urusan nya dengan anda jika terjadi sesuatu pada ku ? Dan terima kasih atas pertolongan anda !"
" Suster, Bawa aku ke kamar, "
" Baik Nona, Mr. kami permisi " Suster Ani mulai mendorong kursi roda Diandra menuju kamar nya.
Tapi Matheo menghentikan nya,.
" Dy, Bukan maksud ku begitu. Aku hanya mengkhawatirkan mu itu saja. "
" Tapi aku tidak butuh rasa khawatir anda Mr. Ayo sus. " Suster Ani kembali pamit dan mendorong kursi roda Diandra menuju kamar nya setelah meninggalkan Matheo.
Sementara Matheo, Dia juga merasa bersalah karena telah membuat perasaan dan mood nya Diandra kembali memburuk.
" Maafkan Diandra Mr, Dia seperti itu karena belum terbiasa dengan keadaan nya saat ini. " Matheo mengangguk.
" Seharus nya saya yang meminta maaf, Bukan anda. Kalau begitu saja pamit, Selamat Sore. " Tanpa mendengar jawaban dari Ayah Andra Matheo langsung meninggalkan rumah sederhana itu.
Di dalam mobil nya Matheo terus merutuki diri nya yang telah kembali menyakiti hati wanita berhati lembut seperti Diandra.
" Maaf kan aku Dy, Maafkan aku..." Ucapan penuh sesal Matheo hanya bisa di ucapkan nya dan di dengar nya sendirian.
Karena dia tidak seberani itu untuk mengakui semua kesalahan nya, Dia belum siap jika wanita rapuh itu membenci diri nya.
Bukan dia pengecut, Tapi itu juga sudah menjadi janji nya pada ayah Andra untuk tidak lagi mengungkit dan membahas Masalah kecelakaan yang di alami Diandra malam itu.
Bahkan saat sampai rumah nya pun Matheo langsung masuk ke dalam ruang nya begitu saja tanpa memperdulikan setiap sapaan dan sambutan para pelayan nya dan seperti itu lah dia setiap hari nya saat pulang.
Hanya Bibi Maura lah yang paling dekat dengan nya, Karena memang Maura lah yang bersama nya sejak pindah kerumah besar ini dulu kali saat masih ada Mbah Winarsih.
Dia kembali teringat dengan ramalan nya yang mengatakan bahwa jalan cinta nya akan sangat sulit.
Dan apakah itu Diandra lah cinta nya ??
...🌼🌼🌼...
__ADS_1