
"Kenapa lo menatap gue seperti itu? Kalau Shakira semalam bilang gak masuk ke kamar lo, belum tentu juga gue yang masuk ke kamar lo. Bisa aja ada maling kan semalam? Maling yang datang dari luar buat mencuri sesuatu di rumah ini. Lo cek-cek lagi gih mana tahu ada barang-barang lo yang hilang." titah Lulu lalu Lulu menggigit satu porsi roti tawar yang tersaji diatas piringnya.
"Gak ada, gue ngerasa barang gue ada yang hilang. Orang tadi juga gue udah cek kok. Tapi gue curiga ada orang yang mau kepoin privasi gue!" cakap Wiwit seraya melirik sinis kearah Lulu.
"Kok lo menatap gue kaya gitu sih! Seolah-olah itu gue yang udah buka pintu kamar lo semalam? Masa lo curiga seperti itu sama sahabat lo sendiri!" kesal Lulu.
"Udah-udah ini kan lagi pada sarapan, nikmatin aja sarapannya lupain kenapa bisa kamar Wiwit yang tadinya terkunci tiba-tiba udah gak terkunci lagi. Hari ini kita harus semangat bersekolah!" sahut Shakira dengan wajah gembira.
"Eh tumben lo jadi semangat kaya gitu? Apa ada sesuatu yang bikin lo jadi mood banget pagi ini?" tanya Lulu kepo.
"Lulu ini memang ratu kepo yah! Sesuatu yang bikin mood Shakira jadi semangat kaya gini jelas membully Razzan dan Nafiah. Iya kan beb?" yakin Wiwit.
Shakira menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri mengisyaratkan bahwa apa yang dibilang oleh Wiwit itu adalah salah.
"Tentu saja bukan hal itu. Tapi mulai sekarang gue bener-bener jadi makin semangat bersekolah. Gak kayak hari-hari biasanya." jawab Shakira seraya menunduk sembari tersenyum kecil.
"Ya kalau lo bahagia kita juga ikut bahagia pastinya. Apa jangan-jangan nyokap dan bokap lo udah baikkan nih yee?" tanya Lulu.
"Nggak sayang! Ini tuh tidak ada hubungannya dengan mereka berdua! Kalau mereka udah baikkan pasti gue akan kembali ke rumah yang lama. Ini bukan soal mama dan papa, bukan juga soal pembullyan!" tukas Shakira.
"Yaudah deh kalau gitu, tapi soal pintu kamar gue kenapa bisa tiba-tiba gak terkunci lagi, gue akan terus menyelidiki hal itu! Gue gak akan tinggal diam dan kalau orang yang udah melakukan hal itu ketahuan, gue gak akan maafin dia!" ketus Wiwit seraya melirik sinis lagi kepada Lulu.
"Lo kok menatap sinisnye ke gue mulu sih seolah-olah gue adalah orang yang udah buka pintu kamar lo semalam!" sahut Lulu kesal.
***
Didepan sekolah, semua murid tengah sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Meski gerimis masih sedikit turun. Beberapa dari mereka melihat ke sebuah mobil yang berhenti parkir di tempat parkir kendaraan depan sekolah. Mobil itu terlihat sangat keren. Banyak mata dibuat terpukau melihatnya. Pengemudinya yang tampan dan berkharisma terlihat mulai membuka pintu mobilnya.
Razzan sengaja memakai kacamata hitam di pagi ini hanya sekedar untuk bergaya saja. Lalu Razzan melepaskan kacamata hitamnya dan menyelipkan itu didalam saku seragamnya. Banyak murid yang melongo saat tahu ternyata yang keluar dari dalam mobil itu ternyata si cupu Razzan.
__ADS_1
"Si cupu?"
"Naik mobil mahal?"
"Biasanya dia datang naik sepeda butut kan?"
Pertanyaan-pertanyaan macam itu keluar dari mulut para murid didepan sekolah.
Leon yang kebetulan melangkah didepan sekolah menghentikan langkahnya sejenak ketika dirinya melihat penampilan terbaru dari Razzan.
"Itu Razzan apa bukan ya? Penampilan dia terlihat berbeda dari yang biasanya." batin Leon berkata.
Tiga orang siswi matre yang Razzan belum pernah kenalan dengan mereka tiba-tiba melangkah menghampiri Razzan. Mereka bertiga mengelilingi Razzan, kagum sama penampilan Razzan.
"Lo fix, fix banget jadi cowok yang paling keren di sekolah ini. Bahkan Leon sama Dylan jadi kebanting sama penampilan baru lo anak baru!" ucap salah satu dari mereka.
"Iih boleh minta no HP kamu gak sih?"
Ucap dua yang lain. Razzan tersenyum kecil lalu Razzan melangkah masuk menuju kelasnya. Razzan menjadi pusat perhatian di pagi hari yang agak mendung ini. Semua mata tertuju kepadanya. Melihat ada Leon yang sedang berdiri didekat tiang penyangga bangunan, Razzan pun lekas menyapanya.
"Selamat pagi sobat?" sapa Razzan didepan Leon.
"Iya pagi. Hari ini lo terlihat berbeda ya? Kemana sepeda yang biasanya selalu menemani lo berangkat dan pulang sekolah?"
"Sepeda itu ada dirumah, dia perlu beristirahat. Soal lo yang kemarin mengajak gue gabung di tim basket?"
"Iya Razzan nanti abis jam pelajaran sekolah selesai kita latihan bareng di dalam ruang latihan ya?"
Razzan mengangguk dengan bersemangat lalu Razzan izin mau masuk dulu kedalam kelasnya. Leon benar-benar terpukau melihat penampilan baru Razzan tapi sebenarnya Leon juga merasa kalau dirinya akan kalah saing dengan penampilan Razzan yang sekarang. Poppy melangkah pelan di belakangnya.
__ADS_1
"Hai Leon, eh anak keren itu si Razzan ya?"
Leon menatap kepada Poppy lalu menjawab.
"Bukan, itu saudara kembarnya kali,"
"Hah, saudara kembar? Masa sih kalau Razzan punya saudara kembar?"
"Hahaha nggak kok Pop, aku cuma bercanda aja. Ya itu memang Razzan, penampilan dia terlihat beda banget ya hari ini? Ternyata Razzan adalah anak orang kaya sama seperti Shakira."
"Wah, aku gak nyangka sama sekali kalau Razzan ternyata adalah anak orang kaya. Pasti habis ini Shakira bakalan berhenti membully dia karena menganggap Razzan itu satu level dengan dirinya. Shakira kan selalu memandang derajat ekonomi seseorang dalam berteman,"
"Ya gitu deh pop, namanya juga si Shakira, suka membanding-bandingkan status ekonomi seseorang. Aku benci banget sama si Shakira. Cewek playing victim macam dia itu bener-bener ngeselin!"
"Udah Leon jangan bahas si Shakira mulu, ntar kalau orangnya lewat dan denger, bisa berabe loh urusannya!"
"Poppy gue udah gak peduli atau takut lagi sama pengaruhnya si Shakira. Buat apa kita terus-terusan takut atau enggan buat menghadapinya. Jangan biarkan diri kita terus menerus ditindas atau diperlakukan dengan gak baik sama si playing victim itu!"
"Kamu benar Leon."
Setelah itu Leon menarik tangan Poppy, membawa Poppy ke tempat yang sepi di sekitaran sekolah ini. Sepertinya Leon ingin bicarakan hal yang penting dengan Poppy.
"Leon ada apa? Kenapa kamu membawaku kesini Leon?"
"Aku ingin bicarakan soal orang yang mencoba meneror kita akhir-akhir ini. "
Poppy memejamkan kedua matanya. Poppy merasa sangat malas buat membahas persoalan teror yang mengganggu hidup mereka beberapa hari belakangan ini.
"Leon, jujur aku males banget membahas hal itu terus. Rasanya aku ingin melupakan persoalan itu untuk sementara waktu. Tadi pagi pot tanaman didepan rumah aku dilempar menggunakan batu oleh orang misterius. Aku merasa dia berkeliaran di sekitar kita Leon, tapi entahlah dia itu siapa tapi yang pasti dia tahu sama rahasia yang selama ini kita sembunyikan soal kema..."
__ADS_1
Leon langsung membungkam mulut Wiwit menggunakan salah satu tangannya. Tak jauh dari mereka dari balik pohon mangga, ada seseorang yang tengah mengintai pembicaraan mereka berdua.
Bersambung...