
"Apa maksud lo? Rahasia apa yang lo ketahui dari gue? Jangan mengada-ada ya sob, gua itu bersih dari rahasia buruk. Gak ada rahasia buruk yang gua tutup-tutupi!" bantah Leon.
"Hmm, benarkah seperti itu? Apa lo pikir gue gak tahu soal Ancy?" tanya Dylan semakin membuat Leon merasa curiga kalau Dylan tahu akan rahasia besarnya.
"Ancy? Dia mantan kekasih yang sangat gue cintai. Sedihnya, dia ditemukan tewas secara mengenaskan didasar jurang dan sampai sekarang siapa yang udah bikin Ancy mati belum juga ketahuan. Mengingat Ancy hanya membuat gua menjadi sedih, tolong jangan bahas Ancy lagi. Dia sudah tenang di alamnya. Jangan pernah fitnah gua yang bukan-bukan kalau lo gak ada bukti yang autentik!"
Dylan menarik kerah baju seragam Leon.
"Lo pembunuhnya njing!" bisik Dylan didepan wajah Leon.
Wajah Dylan sangat dekat dengan wajah Leon juga tatapan Dylan sangat tajam dan sinis kepada Leon. Leon menjadi agak gemetar. Darimana Dylan tahu rahasia besarnya itu?
"Buktinya apa emang? Lo cuma mau jatuhin nama gua aja kan? Gua udah tahu siapa lo! Lo dari dulu itu murid paling toxic di sekolah ini. Selama gak ada bukti, semua orang gak akan percaya sama omongan lo, Dylan."
"Gua punya rekaman lo waktu lo dorong Ancy jatuh ke jurang. Kartu mati lo ada di gua. Sekarang tergantung pilihan lo kalau lo mau aman!"
Leon bingung harus berbuat apa, ternyata Dylan mengetahui rahasia besarnya. Ternyata Dylan ada di lokasi kejadian waktu itu dan Dylan diam-diam merekamnya.
Leon juga yakin kalau orang yang selama ini meneror dirinya dan Poppy adalah Dylan.
"Apa yang lo inginkan?" tanya Leon dengan raut wajah gugup.
"Lo harus ada dipihak gua. Lo bantu gua nyingkirin si Tarzan dari sekolah yang indah ini. Gua gak mau sekolah yang indah ini jadi jelek gara-gara kehadiran si Tarzan itu!"
Dylan melepaskan tangannya dari menarik kerah baju Leon.
"Yaudah, gua akan bantu diri lo. Asal lo jangan spill rahasia gua."
"Nah gitu dong! Siang ini, selepas pulang sekolah, kita bawa si Razzan ke tempat yang sepi, kita beri pelajaran dia."
"Heh tolol! Gak ada cara yang lebih halus apa! Ngapain harus main bar bar kayak gitu? Gua ogah ya kalau nanti setelah memukuli si Razzan masalahnya bakal tambah panjang."
"Emangnya lo punya cara yang halus? Cara apa itu? Jawab!"
__ADS_1
Leon membisikkan rencana licik itu di telinga Dylan. Dylan tersenyum senang ketika mendengar Leon membisikkan rencana halus nan licik buat mencelakai Razzan. Ternyata Leon jauh lebih licik daripada dirinya.
***
Singkat waktu, jam pulang sekolah pun tiba. Razzan tengah melangkah sembari menggendong tas sekolahnya di depan sekolah. Tiba-tiba Razzan berpas-pasan dengan Leon yang mau pulang sekolah juga.
"Eh Leon? Pulang bareng yuk naik mobil gua?" tawar Razzan ramah.
"Boleh kalau lo gak merasa keberatan?" jawab Leon mau.
Razzan pun mempersilahkan Leon buat masuk kedalam mobilnya. Lalu Razzan juga masuk kedalam mobilnya, setelah itu Razzan mulai mengemudikan mobilnya pergi dan tak jauh dari belakang mobil Razzan, terlihat Dylan yang tengah menatap mobil Razzan pergi dengan tatapan dan senyuman yang licik.
Didalam mobil Razzan,
"Rumah lu ada dimana Leon?" tanya Razzan sembari fokus nyetir mobil.
"Di Jalan Manggis Nomor 3. Ada daerah situ deh. Btw makasih ya udah mau nganterin gua balik. Pas banget ini karena motor gua lagi rusak. Padahal tadi gua mau pulang naik taksi, eh punya sohib yang baik jadi dapet tumpangan gratis deh."
"Lu benar Razzan."
Leon berkata didalam hatinya,
"Razzan ini sepertinya emang jagonya dalam hal cari muka, sok baik kayak gitu. Pantes aja dia jadi populer sekarang. Tapi tunggu aja Razzan soal apa yang akan gue lakukan kepada lo bersama dengan Dylan. Pakai cara yang halus biar gue sama Dylan aman dan gak akan kena masalah karena udah mukulin lo."
Ketika melihat sebuah ladang yang sepi, Leon menyuruh Razzan untuk menghentikan mobilnya sejenak karena Leon mau buang air kecil.
"Sob berhenti dulu ya? Gua kebelet banget nih mau pipis dulu?" ucap Leon.
"Iya silahkan sob." balas Razzan lalu mengerem mobilnya.
Lalu Leon keluar dari dalam mobil dan berlari kearah ladang. Sebuah ladang jagung yang sangat luas di tempat ini. Sembari menunggu Leon selesai buang air kecil, Razzan membuka ponselnya. Sampai saat ini Razzan belum punya nomor HP Shakira padahal Razzan menginginkan Shakira menjadi salah satu yang masuk dalam kontak HP Razzan.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Leon dari dalam ladang jagung. Razzan bergegas keluar membuka mobil lalu berlari kearah ladang jagung buat melihat apa yang sedang terjadi dengan Leon.
__ADS_1
"Leon! Sob lu kenapa!" teriak Razzan sembari berlari cepat.
Razzan berlarian didalam ladang jagung mencari keberadaan Leon tapi Leon seperti menghilang.
"Sob lu dimana! Leon!" teriak Razzan.
Razzan merasa ada seseorang yang tengah berdiri di belakangnya dan benar saja ketika Razzan berbalik badan, ada seorang bertopeng dan berpakaian serba coklat sedang berdiri di belakangnya sembari
membawa sebuah balok kayu.
"Siapa lo! Mau apa lo!" tanya Razzan tidak takut.
Orang bertopeng itu sebenarnya adalah Dylan. Dylan tengah menyamar biar gak ketahuan ketika dirinya akan menyakiti Razzan. Dylan berlari ke dekat Razzan tapi Razzan bergegas berlari mundur lalu Razzan lompat tinggi dan menendang dada Dylan dari atas.
Dylan terpental keatas tanah.
"Ugh," rintih Dylan.
Dari warna suaranya, Razzan seperti tidak asing lagi dengan suara orang bertopeng itu. Ya, suara orang bertopeng itu mirip dengan suara Dylan.
"Apa jangan-jangan dia adalah Dylan?" batin Razzan bertanya.
Tapi, seseorang yang lain menendang punggung Razzan secara tiba-tiba dari arah belakang. Razzan pun terjatuh tengkurap diatas tanah. Lalu orang yang menendang punggung Razzan dari belakang itu memegang kuat kedua tangan Razzan dari belakang.
Dylan bangkit, Dylan melihat Razzan yang tengah dikuasai oleh Leon. Dylan yang benci banget sama Razzan itu lekas menendang perut Razzan menggunakan kakinya. Tidak cukup sampai disitu, Dylan juga langsung menghajar wajah Razzan menggunakan tangannya.
Bibir Razzan jadi sedikit berdarah. Dylan kembali memukul perut Razzan, pokoknya Dylan ingin puas dalam menyakiti Razzan. Akan tetapi Razzan tidak akan membiarkan dirinya terus dihajar oleh kedua orang asing ini.
Razzan menginjak kaki Leon lalu memukul perut Leon dengan sikut tangannya. Razzan menendang perut Leon lagi hingga Leon terpental keatas tanah. Tidak sampai disitu, Razzan langsung berlari kedepan dan mendorong Dylan sampai terjatuh. Lalu setelah itu Razzan memukuli bagian wajah Dylan. Razzan ingin sekali membuka topeng yang dikenakan oleh Dylan.
Razzan berusaha membuka topeng itu tapi Dylan sekuat tenaga mempertahankan agar Razzan tidak sampai bisa membuka topengnya.
Bersambung...
__ADS_1