MELAWAN PEMBULLY

MELAWAN PEMBULLY
Perkenalan Razzan Dengan Dua Teman Barunya


__ADS_3

"Itu artinya lo gak takut untuk dibully ya?" tanya Leon.


"Semua orang pasti gak mau dibully bro, mereka ingin kehidupan yang tenang dan nyaman. Hmm, meski posisiku kurang disukai sama sebagian orang disini, bukan berarti hal itu membuatku terpuruk atau terjatuh. Aku akan selalu bersemangat dalam menuntut ilmu disini karena itu adalah hal yang sangat penting buat masa depan aku."


Leon menepuk bahu Razzan dengan bangga. Leon suka melihat sikap Razzan yang seperti itu, inspiratif.


"Gua bangga melihat sikap lu yang jempolan itu Razzan. Jangan takut sama mereka ya! Gua yakin lu pasti bisa melewati masa SMA lu disini dengan baik sampai lu lulus. Yaudah kalau gitu gua mau ke kantin dulu ya. Atau kita mau ke kantin bareng saja?" ajak Leon dengan ramah kepada Razzan.


Mengingat harga makanan di kantin diatas 20.000 semua Razzan pun menolak ajakan Leon. Lagian Razzan sudah membawa bekal sendiri dari rumah.


"Makasih Leon tapi aku udah membawa bekal makanan sendiri dari rumah. Nanti kalau aku lapar aku akan memakan bekal itu."


"Oke kalau gitu sampai bertemu di waktu selanjutnya ya Razzan. Mulai sekarang kita berteman?"


"Iya kita berteman."


Leon tersenyum lantas Leon melangkah pergi keluar dari dalam aula olahraga di sekolah ini. Leon adalah sosok murid yang inspiratif. Leon mau merangkul siapa saja anak baru di sekolah ini. Maka dari itu Leon sering dibilang murid yang humble oleh banyak anak di sekolah. Banyak juga ciwi ciwi di sekolah yang ingin jadi pacar Leon.


Setelah itu Razzan keluar dari dalam aula olahraga. Razzan kembali berkeliling di sekolah ini. Beradaptasi dengan lingkungan barunya. Siapa tahu Razzan akan kembali bertemu dengan teman barunya nanti.


Razzan melintas di koridor panjang lalu menoleh ke samping ada seorang wanita berambut pendek sebahu yang sedang membaca sebuah majalah dinding. Wanita itu berkacamata. Postur tubuhnya juga tinggi dan wajahnya juga lumayan cantik.


Tapi Razzan enggan untuk menyapa dia duluan. Razzan merasa agak malu tapi ketika wanita itu berbalik badan wanita itu langsung tersenyum untuk Razzan.


"Halo? Kamu murid baru ya?" sapa wanita itu ramah.


"Eh iya, kenalin namaku Razzan?" ucap Razzan memperkenalkan dirinya lalu mengajak cewek bernama Poppy itu buat berjabat tangan.


"Namaku Poppy, senang berkenalan denganmu. Oh iya, kamu dan aku sama-sama berkacamata nih. Mata kamu bermasalah juga?"

__ADS_1


Razzan mengangguk sembari tersenyum.


"Iya, mataku minus juga. Tapi aku ada rencana buat mengobatinya dengan terapi laser sih suatu saat kalau aku udah siap. Ngomong-ngomong kamu anak kelas berapa?"


"Kelas 12 IPA 2."


"Oh Poppy, berarti kelas kita sebelahan dong?"


"Ya iyalah Razzan. Tapi kamu satu kelas sama Shakira ya?"


"Iya gak usah kamu bahas aku udah tahu kok. Shakira itu murid paling populer dan murid yang paling ditakuti disini. Tapi buat aku, aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu karena tujuanku bersekolah adalah untuk belajar."


"Ya kalau gitu sama dong. Sebenarnya aku takut dan aku lebih memilih untuk menghindari Shakira. Sejak kelas 10 dia sudah nunjukin sikap yang kelewatan. Aku sama sekali tidak mau berkonflik dengan dia. Aku paling kasihan sama murid cupu yang namanya Nafiah sih. Hari ini dia belum masuk sekolah, dia pasti sedang terpuruk akibat bullyan jahat yang dilakukan oleh Shakira dan gengnya. Dia satu kelas denganku."


"Nafiah? Aku pernah mendengarnya. Semoga saja dia bisa kuat buat melewati masa SMAnya."


"Iya memang sebaiknya kita harus berhati-hati dengan gadis itu. Dia anak dari orang yang terpandang."


"Oke Razzan, kalau gitu mulai sekarang kita bersahabat ya?"


"Iya kita bersahabat. Poppy, aku mau lanjut keliling sekolah ini lagi ya?"


"Iya, selalu hati-hati ya Razzan."


"Siap Pop!"


Razzan kembali melanjutkan aktifitasnya jalan-jalan berkeliling di sekolah barunya. Di hari kedua ini Razzan sudah mendapat dua teman baru. Baru tiga orang yang mau mengakui Razzan sebagai temannya. Mereka adalah Wiwit, Leon, dan Poppy.


Saat Razzan melintas di belakang sekolah, tiba-tiba punggung Razzan terlempar bola yang ditendang oleh seseorang. Ternyata di taman ada Dylan dan teman-teman cowoknya yang lain yang sedang mainin bola.

__ADS_1


Razzan agak terkejut lalu mengambil bola yang menggelinding itu. Kemudian Razzan menyerahkan bola itu kepada Dylan. Razzan melangkah menghampiri Dylan dengan santai akan tetapi Dylan terus menatap Razzan dengan tatapan yang baik.


"Ini bolanya," ucap Razzan kemudian menyodorkan bola itu kepada Dylan.


Dylan membalas kebaikan Razzan dengan senyuman yang manis jika teringat dengan rencana Shakira. Tapi ada seorang teman Dylan yang mendorong Razzan sampai terjatuh. Lantas anak itu menginjak tangan kiri Razzan menggunakan sepatunya. Anak itu juga meludah kearah rambut Razzan. Razzan dibully oleh teman Dylan ditengah-tengah taman belakang sekolah.


"Heh, apa yang lo lakuin!" tegur Dylan kepada teman cowoknya yang bernama Reno itu.


"Ya ngebully dia lah! Kemarin kan lu cerita kalau lu jijik sama anak baru ini. Ya emang menjijikkan sih, sangat-sangat cupu dan pasti lu anak orang kere kan! Lu gak pantes buat sekolah di sekolah yang elit dan bergengsi seperti SMA ini." cakap Reno kasar menyakiti hati Razzan.


"Tapi gua gak suka lihat lo ngebully dia!" marah Dylan lalu Dylan memegang kuat kerah seragam Reno.


"Why why why? Kenapa lu giniin gua bro? Kita ini teman kan? Kenapa lu sekarang belain si cupu itu? Kemarin lu hina-hina dia?" tanya Reno kebingungan.


"Iya, mulai sekarang gua gak mau lagi lihat bullying di sekolah ini. Kita ini datang ke sekolah buat menuntut ilmu! Bukan untuk menindas yang lemah!" jawab Dylan membuat Reno dan teman-teman cowoknya yang lain menjadi terheran-heran.


"Kenapa lu tiba-tiba jadi sok baik kaya gini sih Lan? Come on? Kemana sifat lo yang biasanya? Sikap yang menginspirasi kita jadi ganas kaya lo. Come on bro? Kembali seperti semula?" pinta Reno tidak terima jika Dylan berubah menjadi baik hati seperti itu.


Dylan membuang Reno keatas rumput. Dylan menatap Reno dengan tatapan tajam. Seolah Reno sekarang adalah musuhnya, bukan sahabatnya lagi.


Lantas Dylan menatap wajah Razzan. Tangan kanan Dylan bergerak memegang bahu kanan Razzan.


"Maafin gua ya bro? Kemarin gua udah bersikap keterlaluan kepada lo. Sekarang gua sadar kalau gua itu salah. Semalam ayah gua yang bikin gua jadi sadar seperti ini. Gua mendengar nasihat dia bro." ucap lirih Dylan didepan Razzan.


Semua teman-teman Dylan seolah tidak percaya dengan perubahan yang terjadi pada diri Dylan. Tapi memang faktanya Dylan tengah merencanakan sesuatu atas titah dari Shakira kemarin soal rencananya.


"Dylan? Apa benar dia sudah berubah jadi baik kepadaku?" batin Razzan seraya menatap lekat-lekat kearah Dylan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2