
Wiwit pergi ke belakang rumah buat menemui Dylan.
"Mau kabur kemana lo?" tanya Dylan.
"Mau kabur kemana itu adalah urusan nanti. Sekarang cabut dulu sayang? Shakira dan Razzan, mereka ada didepan rumah gua!"
"Itu mereka!" teriak Shakira memergoki Dylan dan Wiwit di jalan belakang rumah.
"Gawat! Buruan Lan! Cepat!" pekik Wiwit lalu naik keatas motor Dylan.
Dylan memberikan helm dan kemudian Dylan mulai mengemudikan motornya dengan cepat.
"Buruan Lan! Mereka ngebut juga tuh!" titah Wiwit panik seraya menepuk-nepuk bahu Dylan.
"Iya bawel lo ah! Kenapa juga gua mau bantuin lo!" celoteh Dylan menyesal.
"Bisa lebih kencang lagi gak Zan?" tanya Shakira.
"Bisa tapi itu cukup berbahaya sih, cukup segini dulu kecepatan motornya." jawab Razzan.
Karena kurang berhati-hati motor yang dikendarai oleh Dylan malah menabrak pohon membuat Dylan dan Wiwit terpental ke pinggir jalan. Naasnya kedua kaki Wiwit malah menghantam bebatuan besar yang ada di pinggir jalan. Alhasil patah-patah tulang pun tak bisa dihindari lagi.
"Aaaaaaaa!" histeris Wiwit merasakan kakinya sakit tapi kemudian seperti mati rasa.
Wiwit pun pingsan. Melihat kejadian yang cukup mengerikan itu, Razzan segera menelpon ambulance.
Suara sirine ambulance terdengar didepan sebuah rumah sakit. Dylan dan Wiwit dibawa menggunakan brankar dorong. Sementara itu Razzan dan Shakira tak luput untuk mengikuti mereka berdua dibelakang para perawat.
Wajah Razzan dan Shakira terlihat cemas. Meski mereka berdua jahat kepada diri Razzan dan Shakira akan tetapi mereka tetap khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Semoga saja mereka selamat ya Zan?"
"Aamiin."
Razzan dan Shakira disuruh menunggu selama Dylan dan Wiwit ditangani. Mereka berdua menunggu di kursi tunggu luar kamar.
Beberapa saat berselang, dokter yang menangani Dylan dan Wiwit keluar dari dalam ruang penanganan. Razzan dan Shakira segera bangkit lalu bertanya akan kondisi Dylan dan Wiwit kepada dokter itu.
"Bagaimana keadaan mereka Dok? Semoga saja mereka selamat." tanya dan harap Shakira.
"Pasien pria, dia mengalami luka yang cukup serius. Tapi sekarang dia sudah sadar. Sedangkan pasien wanita, kakinya mengalami patah tulang. Kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan buat sementara waktu tapi tidak menutup kemungkinan dia akan kembali bisa untuk melangkah normal seperti biasa meski mungkin tidak sekuat dulu lagi. Yang pasien wanita itu butuhkan sehabis dia siuman adalah dukungan yang besar. Karena mungkin dia akan sangat terpukul dengan kondisinya. Apalagi pasien masih sangat muda." tutur sang dokter.
Razzan dan Shakira terlihat bersedih dengan apa yang dialami oleh Wiwit.
1 Minggu Berlalu.
Wiwit kembali bersekolah namun dia memakai sebuah kursi roda. Wiwit datang naik mobil dan diantar oleh sopir pribadinya. Terlihat seorang wanita membantu Wiwit naik kursi roda. Wanita itu adalah ART dirumah Wiwit.
"Gak usah sok peduli deh Bi! Yang ada gue bakalan jadi objek bullying sama anak-anak jahat di sekolah ini. Apalagi sama Shakira." tukas Wiwit dengan wajah cemberut.
"Loh, bukannya Non Shakira itu teman dekatmu ya Non? Dulu Bibi sering lihat waktu Non Shakira dateng buat main ke rumah Non Wiwit?"
"Itu dulu sekarang kaga! Udahlah antar gue sampai depan kelas gue Bi. Dorong kursi roda gue."
"Baik Non."
"Sepertinya daddy harus menyewa seorang perawat yang khusus buat menemani gue selama di sekolah." batin Wiwit berkata.
ART itu mendorong kursi roda Wiwit, mengantarkan hingga ke depan kelas Wiwit. Di koridor, ditengah-tengah itu Wiwit menjadi pusat perhatian dari murid-murid yang lain.
__ADS_1
"Apa kalian semua lihat-lihat gue! Ada yang lucu ya? Kalian seneng lihat gue sekarang lumpuh kayak begini?" tanya Wiwit sembari mempelototi mereka satu persatu.
"Non Wiwit jangan galak-galak, mereka semua kan teman-teman sekolah Non. Non jangan berburuk sangka seperti itu lah. Bibi yakin semua anak-anak disini, semua guru pasti sayang dan bisa ngerti sama kondisi Non Wiwit sekarang." ujar ART itu.
"Bibi gak usah menghibur gue deh. Mereka itu pada munafik Bi. Kelihatannya sih peduli tapi hatinya tertawa terbahak-bahak sama kondisi gue."
Shakira, Lulu, dan Nafiah menghadang Wiwit didepannya. Wiwit memutar bola mata malas. Wiwit sangat yakin pasti Shakira mau memaki-maki dirinya setelah rencana merusak kecantikan Shakira jadi gagal.
"Sekarang lo menang Shakira, tapi gue bersumpah akan buat lo kalah. Tunggu aja waktunya. Gak selamanya lo bakalan diatas terus," tutur Wiwit.
Shakira, Lulu, dan Nafiah saling melirik satu sama lain. Lantas mereka bertiga melangkah menghampiri Wiwut. Mereka bertiga menatap Wiwit dengan tatapan yang peduli.
"Jangan berburuk sangka ya. Kita semua gak ada yang senang kamu kayak gini. Justru kita semua mau mengajak kamu berteman dekat sama kita. Kita akhiri permusuhan kita Wit. Gue udah maafin kesalahan lo yang berniat jahat namun gagal itu. Udah lupakan saja. Lagian gua gak kenapa-kenapa." ucap Shakira membuat Wiwit rasanya ingin menangis.
Wiwit mengingat persahabatannya dengan Shakira dulu. Betapa akrab, betapa dekat persahabatan mereka. Momen-momen lucu dan menyenangkan. Sebenarnya Wiwit ingin momen-momen itu terulang kembali.
"Gue gak mau jadi sahabat kalian." jawab Wiwit namun matanya menangis.
Shakira mengusap air mata Wiwit.
"Kok kamu nangis sih? Sebenarnya kamu mau kan sahabatan lagi sama kita. Kita mulai bareng-bareng lagi persahabatan kita yang seru. Jangan pernah merasa minder walau sekarang kamu punya kekurangan. Kita akan merangkul kamu Wiwit, jangan sedih ya?" ucap Shakira dengan tulus.
Wiwit mengangguk. Wiwit tersadar bahwa apa yang selama ini ia lakukan itu sekarang ia mau berhenti. Wiwit mau berhenti memusuhi Shakira dan yang lain. Disaat seperti ini juga Wiwit membutuhkan seorang sahabat yang tulus dengannya.
Wiwit pun dipeluk oleh Shakira, Lulu, dan Nafiah.
"Maafin gue juga ya Wit, dulu udah kepoin isi HP lo. Gue bener-bener kelewatan karena udah cari tahu privasi orang lain. Gue mohon maafin gue dengan tulus ya Wit?" pinta Lulu.
Wiwit mengangguk sembari memberikan senyuman untuk Lulu. Nafiah merasa bahagia karena sekarang dia bersahabat dekat dengan cewek-cewek yang dulu suka membullynya. Ini seperti mimpi yang sangat indah dan Nafiah tidak akan pernah mau ada orang yang membangunkannya dari mimpi itu.
__ADS_1
Nafiah menangis terharu. Shakira bisa merasakan bahwa Wiwit dan Nafiah benar-benar merasa bahagia dan terharu atas persahabatan mereka. Banyak murid lain yang terharu melihatnya termasuk Razzan yang diam-diam sedang mengamati dari dekat mereka berempat.
Bersambung...